Yamaha Lexi

Mengulik Aktivitas Hunian Manusia Pawon

  Rabu, 12 Juni 2019   Adi Ginanjar Maulana
Tim Arkeolog Jawa Barat bersama warga sekitar melakukan ekskavasi di situs bersejarah Gua Pawon. Kegiatan ini dilakukan untuk mencari sisa-sisa kehidupan peninggalan Manusia Pawon. | Foto: Muhammad Bahrul Ulum

Sinar matahari merasuk melalui celah dinding gua, menuntun kita pada sebuah tempat bersejarah. Jika dilihat sekilas nampak seperti gua pada umumnya yang dipenuhi riuh decitan kelelawar.

Namun, jika masuk lebih dalam lagi, kita akan menemukan situs yang menjadi saksi bisu bagaimana penghuni terdahulunya hidup dan berkehidupan. Penghuni yang biasa disebut ‘Manusia Pawon’.

Situs Gua Pawon yang terletak di Desa Gunung Masigit, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, bukan lagi sebuah tempat tersembunyi yang jauh dari sorotan masyarakat. Situs ini justru menjadi salah satu pusat perhatian sejak ditemukannya tujuh  kerangka manusia purba oleh para arkeolog. 

Penelitian perihal Manusia Pawon ini bukan penelitian yang sederhana. Membutuhkan waktu 16 tahun hingga akhirnya bisa menemukan tujuh kerangka manusia purba dan jejak lainnya yang ditinggalkan peradaban terdahulu. 

Gua Pawon dipilih bukan tanpa alasan, tempat ini merupakan sumber dari sebuah peradaban besar. Menurut Ketua Tim Arkeolog Jawa Barat, Lutfi Yondri, penelitian panjang ini diawali oleh penemuan artefak di aliran Sungai Cibukur oleh sekumpulan geolog yang tergabung dalam Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB).

Mereka kemudian berasumsi jika ditemukan artefak, maka siapa manusia pemiliknya? Rasa penasaran itu mengantarkan mereka mereka ke Gua Pawon yang berjarak kurang lebih 40 meter dari aliran Cibukur. 

Sejak 2003 dilakukanlah penggalian, dan ditemukan rangka manusia purba bagian rahang atas dan rahang bawah. Mereka menemukan dua manusia purba di periode 5600 tahun dengan pola budaya yang berbeda.

Tahun ini, Lutfi Yondri dan timnya memulai kembali ekskavasi sejak 7 Mei 2019 hingga 30 Mei 2019 lalu. Ekskavasi dilakukan di beberapa titik untuk menelusuri bagaimana aktivitas hunian Manusia Pawon. Ia menceritakan setiap rekam jejak Manusia Pawon yang berhasil ditemukan dengan mata berbinar dan penuh semangat.

“Kami menemukan fosil hewan yang diyakini menjadi makanan Manusia Pawon. Kami juga menemukan perkakas yang terbuat dari tulang binatang, obsidian, rijang, kalsedon, dan banyak lagi,” ujarnya. Ia juga mengakui hasil temuan kali ini lebih banyak dari sebelumnya karena sudah masuk tahap penelitian terhadap aktivitas hunian.

Selain arkeolog, mereka juga membutuhkan tenaga Paleontolog dalam ekskavasi kali ini untuk meneliti fosil hewan yang ditemukan.

AYO BACA : 3 Wisata Alam di Bandung Barat yang Instagramable untuk Momen Lebaran

"Fosil yang ditemukan cukup banyak seperti fosil monyet, landak, kerang sampai gigi kuda juga kami temukan,” ujar Benyamin Perwira, paleontolog dari Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran. 

“Meski demikian, fosil ini tidak semuanya milik hewan purba. Hewan zaman sekarang juga banyak kami temukan fosilnya. Nantinya makanan Manusia Pawon ini dikelompokkan lewat jenis-jenis hewan yang ditemukan,” tambahnya sambil terus menyikat kulit kerang di dalam air agar bersih dari kotoran tanah.

Rencananya semua hasil temuan di sini akan langsung dibawa ke kantor Bale Arkeologi Jawa Barat untuk dikumpulkan. Jika telah terkumpul, nanti akan langsung masuk labolaturium untuk diteliti. Hasil penelitian akan menjadi pengetahuan bagi masyakat dan semua orang nantinya bisa mengakses, karena penelitian ini juga berbasis pelestarian.

“Harapan saya kita punya side museum di sini. Jadi masyarakat yang berkunjung bukan hanya menikmati keindahan gua, tapi juga mengetahui jejak kehidupan zaman dulu di gua ini secara langsung. Tapi semuanya bergantung biaya dari pemerintah," kata Lutfi sambil memegang kamera. Ia memotret setiap kali ada bongkahan fosil baru hasil kerja keras Timnya.

Aktivitas Hunian

Menurut hasil penelitian, rangka Manusia Pawon yang ditemukan berada di periode sekitar 5600 hingga 12000 tahun. Lutfi Yondri menyebutkan Manusia Pawon ini sudah hidup menetap di gua, tidak lagi nomaden.

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya perkakas dari batuan dan tulang serta ditemukan pula tempat penguburan. Selain digunakan sebagai alat untuk memotong, batuan dan tulang juga digunakan sebagai perhiasan.

Manusia Pawon bertahan hidup masih dengan mengandalkan hasil buruan hewan dan mengumpulkan tanaman-tanaman. Mereka belum mengenal bercocok tanam, apa lagi memasak. Meski demikian, Tim Arkeolog menemukan sisa tanah terbakar di dalam gua yang artinya Manusia Pawon sudah mengenal api. 

“Mereka mengenal api tapi tidak untuk memasak. Apinya mungkin digunakan sebagai sumber pencahayaan atau pun untuk menemani kubur mereka,” ujar Lutfi.

Zaman sudah semakin canggih, melalui data forensik gigi kita dapat mendeteksi unsur-unsur kimia yang terkait makanan yang dikonsumsi pada masa lalu. 

AYO BACA : Stone Garden Kian Diminati Wisatawan

"Manusia pawon bukan hanya melakukan kegiatan berburu dan makan dari unsur protein saja tapi juga makan karbohidrat dari biji-bijian, umbi dan serat tanaman. Kami juga menemukan gigi hiu yang digunakan sebagai perhiasan,” sambung Lutfi.

Dengan ditemukannya gigi hiu dan fosil kerang, Manusia Pawon dipercaya melakukan okupasi sampai ke laut. Mereka melakukan penjelajahan hingga laut di daerah Subang. 

Manusia Pawon menggunakan lancipan dari tulang yang kemudian diraut menggunakan obisidian untuk mempermudah mengonsumsi kerang. Meski menjelajah hingga ke laut, mereka dipercaya tetap menetap di Gua Pawon karena para Arkeolog tidak menemukan budaya setua Manusia Pawon di daerah laut.

Ragam Jejak Penguburan 

Manusia Pawon memiliki perawakan layaknya manusia modern, namun memiliki masa hidup lebih singkat. Rata-rata masa hidup mereka ada di angka 17-35 tahun.

Namun, seperti manusia secara umum, Manusia Pawon juga memiliki memiliki cara dalam menanggapi kematian. Mereka melakukan penguburan di dalam Gua Pawon bagian paling belakang yang jarang dilalui manusia. Menurut hasil temuan, lintasan penguburan Manusia Pawon yaitu dengan pola terlipat.

Rangka Manusia Pawon ditemukan dengan ‘pose’ yang berbeda. Beberapa di antaranya ditemukan dengan kondisi paha dan kaki ditekuk ke arah badan dan kepala dimiringkan. Kemiringan kepala juga berbeda-beda, manusia dengan periode 7300 tahun menghadap selatan sedangkan yang 9500 tahun menghadap barat laut.

Ada pula Manusia Pawon yang ditemukan dengan kondisi jongkok terlentang dengan posisi kaki dilipat di sisi kiri dan kanan badan. Segala perbedaan penemuan posisi itu yang menunjukan perilaku budaya dan kepercayaan (religi) pada masanya Pola terlipat disimpulkan oleh para ahli merupakan gambaran dari bayi dalam kandungan.

Meski penelitian tentang Manusia Pawon telah berlangsung begitu lama, para arkeolog masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup besar. Mereka belum melakukan analisis DNA terhadap rangka untuk mengetahui jejak keturunan-keturunan Manusia Pawon. 

“Konon Manusia Pawon ini merupakan ‘Ki Buyut Sunda’ atau leluhurnya orang-orang Sunda. Namun  belum bisa dibuktikan karena untuk Analisis DNA membutuhkan dana yang mahal dan rangkaian penelitian yang panjang. Tapi sedang dipikirkan rangkaian penelitian seperti apa yang sekiranya bisa lebih murah,” kata Lutfi. 

Raden Siti Yustianisa Nurul Aini

Mahasiswa Jurnalistik Unpad

AYO BACA : Sensasi Menikmati Keindahan di Bukit Senyum

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar