Yamaha NMax

Si Tuyul, Solusi Kemacetan oleh Ojol

  Rabu, 12 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Penyempitan ruas Jalan Baranang Siang, Bandung, akibat tempat menunggu ojol yang juga mengonsumsi ruas trotoar sehingga pejalan kaki harus berjalan mendekati tengah-tengah jalan. (Foto: Farah Tifa Aghnia)

Abad dua puluh satu dapat dikatakan sebagai abad di mana inovasi-inovasi teknologi pada abad selanjutnya dikembangkan dengan skala besar dan kecepatan tinggi.

Tak dapat dipungkiri, ponsel pintar dan internet yang dikembangkan oleh berbagai ilmuwan telah menjadi perkembangan teknologi yang mengguncang peradaban. Hampir segala macam pekerjaan sehari-hari yang harus dikerjakan dapat diselesaikan tanpa perlu memindahkan posisi duduk dari sofa ternyaman di rumah.

Meskipun tak sedramatis “hanya tinggal duduk”, kolaborasi antara ponsel pintar, internet, dan inovasi transportasi menghasilkan sebuah teknologi yang mewujudkan sebuah sistem pembantu pekerjaan manusia.

Tentu saja, apa lagi kalau bukan ojek online?

Ojek online atau yang dapat disebut ojek dalam jaringan (daring) dan biasa disingkat menjadi Ojol adalah inovasi dalam dunia transportasi yang mulai eksis di Indonesia pada awal-awal dekade 2010.

Awal-awal eksistensi ojek online dipelopori oleh dua aplikasi terbesar: Uber dari Amerika Serikat dan Gojek dari Indonesia sendiri. Uber biasa juga disebut sebagai “taksi online” karena pengguna dapat memesan layanan taksi berupa mobil pribadi pengemudi Uber kapan saja dan di mana saja (tergantung apakah jaringan Uber telah sampai ke wilayah tersebut atau tidak).

Di sisi lain, Gojek yang didirikan oleh Nadiem Makarim menciptakan teknologi transportasi online sesuai dengan namanya, yaitu “ojek online” atau layanan pemesanan ojek lewat aplikasi berbasis internetnya.

Layaknya industri pada umumnya, Uber dan Gojek pun berkembang bersamaan dengan dunia transportasi online secara umum. Suatu ketika Uber terkalahkan oleh perkembangan Gojek yang memasukkan layanan taksi mobil online pula dalam aplikasinya bersamaan dengan masuknya Grab dari Singapura.

Hingga detik ini, persaingan antara Gojek dan Grab tidak turut menurun, selalu saja ada lonjakan persaingan di antara keduanya baik dari segi harga, kualitas mitra pengemudinya, dan ruang lingkup layanannya. Berbagai strategi inovatif dari IT dan pemasaran kedua aplikasi dilancarkan, menjaga persaingan antara dua penyedia layanan transportasi online ini terus berjalan.

Meskipun nilai guna transportasi online tinggi karena tingkat praktisnya, setiap perkembangan teknologi akan meninggalkan jejak negatif. Bukan hanya kekacauan yang ditimbulkan pengemudi angkutan kota (angkot), taksi konvensional, dan ojek konvensional (ojek pangkalan) yang semakin kehilangan lapangan kerja mereka, masalah lalu lintas pun semakin laten bersamaan dengan semakin banyaknya ojek online yang muncul.

Kemacetan, Konsekuensi Standar Prosedur Aplikasi?

Bagaimana cara kerja aplikasi ojek online? Bagi mereka yang belum mengetahui cara kerjanya dari segi pengemudi, beginilah proses pengambilan pesanan bagi pengemudi: Saat konsumen memesan layanan lewat aplikasi, pesanan tersebut akan muncul di aplikasi pengemudi terdekat dari titik pemesanan.

Kedekatan ini rupanya sangat vital dalam perebutan pesanan dengan pengemudi lainnya: semakin dekat pengemudi, semakin besar peluangnya mendapatkan pesanan sebelum pengemudi lain menerima pesanan itu.

Setiap pesanan, tergantung dengan jenis pesanannya, akan menghasilkan poin. Poin-poin tersebut dikumpulkan dalam jangka waktu tertentu (perhari atau per minggu) hingga mencapai target jumlah agar bonus didapatkan dari pihak Gojek atau Grab.

Akibat sistem tersebut, mau tak mau pengemudi harus berdiam diri atau “nongkrong” di tempat umum yang ramai. Tempat yang paling ideal bagi ojek online untuk menunggu pesanan adalah mal, stasiun, sekolah, dan daerah pusat kota secara umum.

Mal merupakan pilihan bagi para pengemudi yang mengutamakan pesanan antar-jemput dan pembelian serta pengantaran makanan mengingat di mal, bukan hanya ramai manusia melainkan juga ramai tempat makan.

Akibat sistem ini pula, tak sedikit ruas jalan di sekitar mal dan tempat umum lainnya menyempit. Alasannya? Motor dan mobil ojek online yang parkir di pinggir jalan. Hal ini tentu problematik, mengingat kemacetan yang kerap dihasilkan dan juga “kejar-kejaran” dengan dinas hubungan yang selalu mengusir ojek online “nongkrong”.

AYO BACA : KPPU Awasi Perang Promo Ojol di Daerah

Di Bandung sendiri, beberapa mal yang kerap menjadi area ramai atau macet akibat penyempitan ruas jalan oleh parkir motor dan mobil ojek online, yaitu Trans Studio Mall (TSM), Bandung Indah Plaza (BIP), Braga Citywalk (BCW), Bandung Electronic Center (BEC), dan Balubur Townsquare (Baltos). Tempat umum lainnya, meliputi Stasiun Kota Bandung pintu utara dan selatan serta Rumah Sakit Hasan Sadikin.

“Macet lah jelas,” ucap Mush’ab, seorang warga Jalan Kliningan saat ditanya apakah banyaknya ojol di TSM menimbulkan kemacetan. “Apalagi kalau ada shift itu (sesi ceramah Masjid Agung Trans Studio Bandung). Sudah mah ojol nangkring, tambah lagi orang parkir mau denger ceramah.”

TSM merupakan salah satu lokasi yang hangat dibicarakan apabila mengenai ojek online. Dimulai dari sebelum gerbang masuk TSM, tepat di depan gerbang masuk TSM, hingga di depan Ibis Bandung Trans Studio Hotel, ojek online meramaikan lokasi dengan motor dan mobil mereka.

Akibat jumlah, tak jarang motor sampai membuat tiga jajaran parkiran, mempersempit ruas jalan. Namun, TSM tidak terlalu sering melihat segerombolan dishub menertibkan mereka.

BEC dan BIP merupakan dua mal yang paling sering bertemu dengan petugas berseragam biru tersebut.

“BEC dan BIP udah paling sering, nggak inget bahkan terakhir kapan,” papar Andre, seorang ojek online yang aktif beroperasi di Bandung. “Setiap bulan pasti ada aja penertiban.”

Seringnya penertiban di kedua mal itu pun tidak didasari alasan yang tak jelas, khususnya BIP. Pasalnya, Jalan Merdeka yang berada tepat di hadapan BIP sudah dibagi dua menjadi satu jalur bagi mereka yang akan masuk ke BIP dan berbelok kiri ke Jalan Aceh serta jalur bagi mereka yang tak akan masuk BIP dan lurus menuju Jalan Merdeka.

Di jalur BIP, tak sedikit ojek online memarkirkan motor mereka, menunggu pesanan masuk yang ramai dari BIP sehingga kemacetan di jalur tersebut tak bisa dihindari.

BEC yang terletak di Jalan Purnawarman dengan lebar jalan yang relatif sempit pun harus mengalami hal yang sama saat ruas jalan di seberang BEC dipenuhi motor-motor ojek online.

Bukan hanya ruas jalan, ojek online yang berdiam diri di suatu titik menunggu pesanan tak jarang membuat basis mereka sendiri sehingga mengambil ruas trotoar, contohnya di Jalan Baranang Siang.

Si Tuyul Tiba Menyelamatkan Hari

Tahun 2015, tak lama sejak aplikasi ojek online mulai eksis, muncul pula teknologi Fake GPS atau yang akrab disebut sebagai “tuyul”. Asal usul nama panggilan ini pun memiliki arti yang sama dengan “tuyul” yang ada dalam dunia mistis: ada tapi tidak tertangkap oleh mata.

Aplikasi tuyul merupakan aplikasi di mana penggunanya yaitu pengemudi transportasi online membuat lokasi mereka dalam peta dan jaringan aplikasi berada di posisi yang ramai seperti mal dan sebagainya. Namun faktanya, pengemudi tersebut tidak berada di tempat itu secara fisik, melainkan berada di tempat lain.

Hal ini menyebabkan saat pesanan masuk, pengemudi tersebut akan mendapatkan pesanan seperti ia adalah pengemudi yang berlokasi paling dekat dengan titik pesanan.

“Tujuannya untuk mempermudah driver mencari order tanpa berpindah-pindah tempat,” ungkap Putra (nama disamarkan), salah seorang administrator dari salah satu aplikasi tuyul yang terkenal dalam dunia transportasi online.

Aplikasi tuyul ini pun tidak sedikit. Dimunculkan oleh satu aplikasi tuyul pertama, dipopulerkan dengan satu aplikasi tuyul lainnya, tak butuh waktu lama untuk berbagai orang di Indonesia membuat aplikasi-aplikasi tuyul versi mereka sendiri. Untuk menggunakan aplikasi tuyul, ojek online harus menjadi anggota ke dalam salah satu aplikasi dan setiap aplikasi pun memiliki biaya yang berbeda.

Ada yang hanya perlu membayar biaya masuk, ada yang perlu membayar biaya masuk juga biaya perbulan untuk menyokong pemeliharaan sistem. Biaya pun bervariasi, dimulai dari Rp40.000 hingga Rp250.000.

AYO BACA : Ojol Cantik di Bandung: Pengemudi Ojek yang Sambi Ngajar

“Dalam segi pemasaran kita awal berdiri dari Kaskus lalu Facebook dengan media Telegram atau WhatsApp,” jelas Putra yang berbasis di Jakarta.

Lain lagi dengan Fulan (nama disamarkan), administrator aplikasi yang berbasis di Bandung. “Kita awalnya iseng-iseng aja bikin dan promosinya, liat-liat informasi aja di Facebook.”

Namun, tak semua pihak menyetujui keuntungan dari aplikasi tuyul ini, terutama pihak penyedia aplikasi transportasi online seperti Gojek dan Grab yang gigih melawan pengemudi pengguna tuyul.

Fake GPS dianggap merugikan apabila digunakan untuk membuat orderan fiktif,” ucap Putra. “Orderan fiktif” merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut seorang ojek online yang memesan di aplikasi untuk diambil oleh dirinya sendiri agar ia mendapatkan poin tanpa harus menunggu konsumen yang sebenarnya.

Skenario inilah yang dianggap merugikan oleh pihak perusahaan karena pengumpulan poin palsu yang akan memenuhi target sehingga bonus cair dapat membuat pengeluaran dan pemasukan perusahaan tidak berbanding lurus.

Selain itu, pihak perusahaan tak luput dari keluhan konsumen akibat waktu tiba pengemudi yang lama. Tak jarang, pengguna tuyul akan menyimpan titik di suatu pusat keramaian dengan jarak yang terlalu jauh dengan lokasi aslinya sehingga saat pesanan dari titik tuyulnya muncul, ia harus menempuh waktu yang lama agar sampai di lokasi penjemputan.

Iya, waktu itu aku pernah mesen buat ke sekolah. Di maps, driver-nya ada di gang belakang aku, tapi kok lama banget buat sampai ke depan aku. Lima menit mah lebih, mungkin. Jadi aja aku telat kelas,” kisah Azzahra, siswa SMP kelas tujuh yang pernah mendapatkan ojek online penyalahguna tuyul.

“Itu tergantung orang menggunakannya sih, ya,” ujar Fulan saat ditanya apakah aplikasi tuyul didominasi oleh keuntungan atau kerugian untuk umum. “Kalau orang menggunakannya positif, ya jadi nilai plus. Kalau kita tidak pakai Fake GPS mau gak mau kita nunggu order di depan mal, di depan resto-resto. Ya udah pasti itu bikin macet, ‘kan?”

Pernyataan tersebut pun didukung oleh Putra. “Setiap driver memiliki caranya masing-masing, tergantung pemakaiannya.”

Putra pun menekankan penggunaan tuyul itu harus didasari dengan jangkauan agar gangguan seperti kisah Azzahra tidak terjadi.

Apakah Tuyul solusi yang efektif?

Meskipun aplikasi tuyul menunjukkan potensi yang menjanjikan di mana pengemudi tidak perlu berkumpul di suatu tempat ramai untuk menunggu pesanan, bukan rahasia lagi pihak perusahaan melarang berat penggunaan tuyul. Bisa dibilang, aplikasi tuyul ini sejenis hasil dari hacking atau pembajakan ke dalam sistem aplikasi yang dibuat perusahaan.

“Harusnya sih dilegalkan, ya,” ujar Fulan. “Selama orderan dijalankan ya tidak merugikan mereka (pihak perusahaan transportasi online) juga, ‘kan? Kadang malah bikinnya kita jadi kucing-kucingan sama Dishub, kita mangkal di pinggir jalan dikejar-kejar Dishub. ‘Kan yang jelek nama ojek online juga.”

Putra pun mengucapkan, pihak perusahaan kerap memperbarui versi aplikasi bukan untuk mematikan modders (ojek online pengguna tuyul) melainkan karena ada fitur-fitur baru. “Karena pihak kantor juga sadar ga bakal ada habisnya bermain dengan modders.”

Meskipun begitu, Putra tidak menyetujui kemungkinan pihak perusahaan akan “mengizinkan” aplikasi tuyul atau merombak sistem aplikasi mereka menjadi seperti aplikasi tuyul yang mengizinkan pengemudi tidak perlu ada di tempat.

“Kalau untuk melegalkan tampaknya tidak mungkin, menurut saya untuk menyikapi masalah driver yang menunggu order di pinggir-pinggir jalan adalah pihak perusahaan harus menyiapkan shelter-shelter di beberapa wilayah strategis dan dapat mengalihkan orderan dari wilayah-wilayah strategis itu ke shelter-shelter yang sudah dibuat,” usulnya mengenai alternatif solusi kemacetan akibat ojol.

Farah Tifa Aghnia

Mahasiswi Jurnalistik Unpad

AYO BACA : Masa Mudik dan Balik Lebaran, Pengemudi Ojol Lebih Sering Isi BBM

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar