Yamaha Aerox

Bawang Putih, Antara Impor dan Target Swasembada

  Rabu, 12 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi bawang putih.(Antara)

Menjelang puasa beberapa bulan yang lalu, kita diramaikan dengan harga bawang putih yang melonjak naik hingga 300 persen. Selain karena menipisnya stok menjelang Ramadan, kenaikan harga bawang putih ini juga disebabkan terlambatnya impor bawang putih yang dilakukan pemerintah.  

Saat itu, harga bawang putih di pasaran melambung hingga Rp100.000, naik berlipat-lipat dibandingkan harga normalnya di kisaran Rp. 30 ribu-40 ribuan. Tercatat harga termahal menembus Rp103.750 per kg pada pertengahan April 2019 lalu (https://hargapangan.id).

Kenaikan harga bawang putih ini tercatat memicu inflasi bulan April dan Mei 2019. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulan April 2019 sebesar 0,44 persen. Pengaruh terbesar dipicu oleh kenaikan harga bahan makanan sebesar 1,45 persen. Subkelompok tertinggi memberikan andil terhadap inflasi adalah subkelompok bumbu-bumbuan sebesar 13,80 persen di mana bawang putih salah satunya dengan menyumbang inflasi sebesar 0,09 persen (www.bps.go.id).

Kenaikan harga bawang putih masih terasa hingga bulan Mei 2019. Terbukti memicu inflasi Mei 2019 sebesar 0,05 persen. Andil kelompok bahan makanan sebesar 2,02 persen didominasi kenaikan bumbu-bumbuan dan sayuran. Inflasi kelompok ini sudah lebih menurun dibandingkan bulan April 2019.  Pemerintah telah membuka keran impor dan membanjiri pasar dengan bawang putih impor, nyata signifikan menurunkan harga bawang putih tetap pada kisaran normal.

Indonesia memang masih sangat tergantung pada impor bawang putih. 95 persen kebutuhan nasional dipenuhi dari impor luar negeri. Sebagian besar dari Cina, Taiwan dan India. Tercatat di Kementrian Pertanian (Kementan), konsumsi bawang putih nasional tahun 2017 sebesar 482,19 ribu ton sedangkan produksi hanya 20,46 ribu ton (4,24%), sehingga terdapat defisit 461,73 ribu ton. Tahun 2018, kebutuhan bawang putih sebanyak 503,6 ribu ton yang hanya dapat dipenuhi petani lokal sebanyak 20,7 ribu ton (4,11%) dengan defisit sebesar 482,9 ribu ton. Sedangkan tahun 2019, perkiraan konsumsi bawang putih nasional sebesar 525,1 ribu ton dengan produksi maksimal sebesar 19,6 ribu ton (3,73%). Sehingga terdapat defisit sebesar 505,5 ribu ton (www.kementan.go.id).

Kenaikan impor bawang putih tidak dapat dihindari dan semakin meningkat setiap tahunnya. Jika dilihat dari tahun 2016, pemerintah mengimpor bawang putih sebanyak 448 ribu ton senilai Rp5,97 triliun. Impor naik 24 persen menjadi 559 ribu ton pada tahun 2017 dengan nilai  Rp7,98 triliun. Tahun 2018 pemerintah menambah impor bawang putih sebanyak 28 ribu ton atau naik lima persen menjadi 587 ribu ton senilai Rp7,23 triliun.

Masih sangat rendahnya produksi bawang putih nasional disebabkan banyak faktor, salah satunya adalah luas lahan dan faktor iklim yang mempengaruhi pertumbuhan bawang putih.

Pertama, luas lahan. BPS mencatat sepanjang tahun 2017, luas lahan yang ditanami bawang putih sebesar 2146 hektar dengan produksi sebanyak 19.510 ton, bila dihitung produktivitasnya sebesar 9,09 ton per hektar. Produksi sebanyak ini hanya mencukupi empat persen kebutuhan dalam negeri.

Kedua, faktor iklim. Tanaman bawang putih tumbuh sangat baik di iklim sub tropis dengan sinar matahari sepanjang hari selama 17 jam pada musim panas.  Selain itu, syarat tumbuh bawang putih antara lain jenis tanahnya bertekstur sedang, pH antara 5.6 – 6,8 dengan drainase yang baik. Bawang putih dapat tumbuh dengan baik pada daerah yang memiliki suhu dingin kurang dari 25 derajat celcius dan ketinggian lahan di atas 900 meter dpl.

Suhu dingin, sinar matahari yang banyak, kelembaban rendah serta air tanah berlimpah menjadi faktor penting menghasilkan bawang putih dengan umbi yang menggembung besar. Untuk benih lokal yang saat ini umum digunakan yaitu varietas Lumbuh Hijau, Lumbuh Kuning, Lumbuh Putih, Sangga Sembalun, dan Tawangmangu Baru dengan rata-rata produktivitas 10-15 ton per hektare dan dapat dipanen usia 110-130 hari setelah tanam.

Saat ini, Kementan tengah menggenjot produksi bawang putih dengan meluncurkan Program Percepatan dengan target swasembada tahun 2021. Sasarannya adalah pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, penurunan impor, dan swasembada bawang putih.

Diharapkan terdapat penambahan luas tanam bawang putih baik secara ekstensifikasi yaitu melalui pengembangan baru pada lokasi yang saat ini berupa lahan terlantar seperti semak belukar, lahan terbuka dan hutan belukar, maupun diversifikasi dengan pengembangan pada lahan tegalan atau lahan kering yang kemungkinan sudah dimanfaatkan untuk berbagai komoditas sayuran dataran tinggi.

Salah satu upaya Kementan memperluas areal tanam bawang putih adalah dengan mewajibkan importir bawang putih untuk memproduksi lima persen dari volume permohonan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH), yang dinamakan Perluasan Areal Tanam Baru (PATB). Hingga tahun 2018, Kementan telah menerbitkan RIPH bawang putih kepada 45 perusahaan yang telah terverifikasi dan memenuhi wajib tanam lima persennya dengan menyumbang 1400 hektar. Sedangkan dari alokasi APBN untuk pengembangan kawasan bawang putih seluas 7017 hektare tersebar di 79 kabupaten. Diharapkan tahun 2019 dapat diperoleh panen sebanyak 105 ribu ton.

Usaha pemerintah untuk menggeliatkan kembali budidaya bawang putih tentu jangan sampai melupakan faktor lainnya yang sangat mempengaruhi produktivitas dan harga jual bawang putih. Harga benih, pupuk dan ongkos produksi yang masih tinggi sehingga harga jual menjadi tinggi dan sulit bersaing dengan harga bawang putih impor.

Pemerintah wajib menjamin keberlangsungan produksi bawang putih dalam negeri dan menjaga harga bawang putih lokal menguntungkan bagi petani. Karena tidak mudah mengubah pola pikir petani untuk mau menanam bawang putih jika dirasa tidak menguntungkan. Selain itu, kewajiban industri khususnya industri makanan untuk menyerap bawang putih lokal, dan pola konsumsi masyarakat  perlu diubah perlahan-lahan dari yang menggemari bawang putih impor beralih konsumsi bawang putih lokal.

Susanti

Statistisi BPS Kota Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar