Yamaha Lexi

Jatinangor dan Empat Rahasia Besar

  Senin, 10 Juni 2019   Dadi Haryadi
Pembangunan salah satu apartemen di daerah Jatinangor. (Foto oleh : Irsya Fitriansah)

Suatu siang di plaza Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Padjadjaran, terdengar riang tawa para pemuda. Dengan sebatang rokok di tangan dan serakan sampah makanan ringan, mereka duduk melingkar mengelilingi sebuah meja berwarna biru. Namanya Meja Bundar. Sebuah tempat nongkrong paling asyik buat para mahasiswa FIKOM. Dari siang hingga menjelang malam, mejbun – begitu sering disebut – nyaris tak pernah terlihat kosong. Selalu dipenuhi senda gurau anak muda yang harus merantau di Jatinangor.

Hampir tengah malam di Dunkin Donuts. Sederet meja dipenuhi oleh serakan kertas dan laptop yang menyala. Di belakangnya, terlihat kusut wajah m ahasiswa-mahasiswi yang sedang mengerjakan tugas. Mengejar deadline yang sungguh sempit di salah satu tempat makan yang buka 24 jam di Jatinangor.

Di balik riuh kehidupan para pelajar yang dihiasi malam-malam panjang penuh penugasan, maupun siang-siang indah penuh canda tawa, Jatinangor menyimpan sebuah rahasia. Tak banyak yang tahu sisi sebenarnya dari kecamatan pelajar ini. Jatinangor berpotensi terkena empat bencana alam. Penyebabnya ialah berubahnya kondisi alam dan geologis yang diakibatkan  oleh meningkatnya pembangunan dan aktivitas ekonomi di dalamnya.

Hal itu disampaikan oleh Dicky Muslim, ahli neotektonik dan kebencanaan Universitas Padjadjaran. “Secara geologis, empat potensi bencana alam di Jatinangor adalah banjir, tanah longsor, gempa bumi, dan gunung merapi,” ujar Dicky yang kami wawancarai pada Kamis, 14 Maret 2019.

Menurut Dicky, sejak zaman Belanda, Jatinangor tidak dirancang untuk menjadi daerah yang padat penduduk. Sehingga, dulu potensi bencana di Jatinangor sangatlah rendah. Baru tiga tahun lalu, sepengetahuan Dicky , Jatinangor pernah dilanda bencana alam banjir.

Sebagaimana yang diwartakan Pikiran Rakyat, pada 11 November 2016, terjadi banjir di Jatinangor. Penyebab banjir itu adalah  hujan deras yang turun terus-menerus selama dua jam. Minimnya daerah resapan air menyebabkan air sungai meluap. Dalam tulisan itu, salah satu warga Jatinangor menyatakan, banjir yang disebabkan oleh hujan deras biasanya tak terjadi di Jatinangor.

Dicky Muslim menjelaskan penyebab dari meluapnya air sungai tersebut. Ujarnya, “Setelah jalanan jadi dua arah, ditambah lagi masyarakat yang banyak melakukan pembangunan, ya, sudah. Tidak ada jalan lain selain air jadi tergenang.”
Di mana ada permintaan, di situlah ada penawaran. Hal itulah yang terus ditekankan Riki Relaksanan, pakar ekonomi pembangunan Universitas Padjadjaran, ketika ditanyai soal perkembangan pembangunan di Jatinangor.

“Perpindahan Kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) ke Jatinangor membawa banyak dampak pada perekonomian Jatinangor. Dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Sumedang, pertumbuhan ekonomi Jatinangor paling pesat,” ujar Riki, yang kami wawancarai pada Rabu, 20 Maret 2019.

Riki menyampaikan, Jatinangor adalah kecamatan terdepan di Kabupaten Sumedang. Bahkan, dapat dikatakan sebagai pusatnya para pelajar. Menurut rilis Lembaga Admisnistrasi Negara (LAN) Bandung, Jatinangor merupakan kecamatan ketiga di Kabupaten Sumedang dengan jumlah penduduk terbanyak. Menurut data BPS Kabupaten Sumedang, jumlah penduduk Jatinangor adalah sebanyak 113913 jiwa. 

Pada tahun 2012, rektorat  Universitas Padjadjaran (Unpad) dipindahkan dari Bandung ke Jatinangor. Selain Unpad, terdapat institusi pendididikan tinggi lain yang beroperasi di Jatinangor. Di antaranya adalah Institut  Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN) dan Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN). Pada tahun 2017, Institut Teknologi Bandung (ITB) juga turut memindahkan operasional perkuliahan beberapa jurusan ke Kampus di Jatinangor.

Hal itulah yang membuat Riki menyatakan bahwa mahasiswa adalah faktor utama berkembangnya perekonomian dan pembangunan di Jatinangor.

“Implikasinya, semakin banyak penduduk sebuah daerah, akan ada demanding dari aktivitas ekonomi,” ujarnya.

Riki juga membenarkan adanya pertambahan jumlah penduduk yang pesat di Jatinangor merupakan akibat dari beroperasinya banyak perguruan tinggi. Perguruan-perguruan tinggi itu mempunyai mahasiswa yang tidak sedikit. Katanya, “Mahasiswa yang tinggal di Jatinngor ada sekitiar 50 ribu orang. Ketika banyak mahasiswa datang (ke Jatinangor), industri lokal akan bangun dengan sendirinya. Ada permintaan tempat makan, tempat tinggal, stationery store, bahkan retail-retail mulai tumbuh di Jatinangor.”

Hal itu menunjukkan eratnya kaitan antara pertambahan jumlah penduduk dengan pertumbuhan ekonomi di sebuah daerah. Selain pertumbuhan ekonomi, maraknya pembangunan juga menjadi fenomena tersendiri di Jatinangor.

“Di Jatinangor terdapat banyak apartemen dan kost baru. Selain itu, sekarang Jatinangor menjadi kecamatan di Sumedang dengan angka pembangunan hotel terbesar. Belum lagi, bertambahnya fasilitas publik seperti pusat perbelanjaan, layanan kesehatan, dan pendidikan,” jelas Riki.

Berubahnya Jatinangor menjadi wilayah pendidikan itu membawa berbagai dampak pada perekonomian masyarakat. Namun, ternyata, pertumbuhan ekonomi dan maraknya pembangunan di Jatinangor membawa dampak serius terhadap kondisi alam. 
Dicky Muslim menilai, pembangunan di Jatinangor kebanyakan dirancang tak memenuhi kaidah yang tepat. Ujarnya, “Hal ini beresiko karena, ya, asal jadi saja.”

Menurut Dicky, ketika sebuah gedung dibangun, bangunan itu akan menancap ke dalam tanah. Oleh karena itu, proses pembangunan harus memperhatikan kesanggupan tanah menopang bangunan. Belum lagi, bangunan tinggi seperti apartemen dan hotel akan menyedot banyak air dari dalam tanah. Efek jangka panjangnya adalah berkurangnya kandungan air di dalam tanah.

“Tanah juga jadi rentan longsor. Ditambah lagi, jenis tanah di Jatinangor merupakan tanah vulkanik juga menjadikannya rentan terjadi longsor. Tanah vulkanik adalah tanah yang berasal dari batuan gunung api yang rentan bergeser,” ujar Dicky.

Sementara itu, dikutip dari Usman Arsyad dkk (2018), endapan vulkanik merupakan batuan yang mudah lapuk. Hal itulah yang menyebabkannya berpotensi mengakibatkan longsor. Irvan Sophian dalam penelitiannya yang berjudul Aktivitas Tanah Lapukan Breksi Vulkanik dan Implikasinya Terhadap Kekuatan Fondasi di Jatinangor juga menjelaskan, tanah di daerah Jatinangor pada umumnya merupakan lapukan batuan breksi vulkanik.

Dicky menjelaskan, bukan hanya kegiatan ekonomi dan pembangunan yang menyebabkan Jatinangor berpotensi terkena bencana gempa bumi. Letak dan kondisi geografis Jatinangor juga menyebabkan timbulnya potensi bencana gempa bumi. Salah satu pemicu gempa bumi di Jatinangor ialah keberadaan gunung Manglayang yang terletak di antara Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang. Manglayang merupakan bagian dari kerucut vulkanik yang hingga kini dianggap “tidur”.

Dicky mengaku khawatir terhadap kondisi gunung Manglayang di masa depan. “Kalau kita lihat gunung Sinabung yang sudah dianggap tidak aktif lebih dari empat ratus tahun, sekarang tiba-tiba aktif. Dalam waktu lima tahun terakhir “batuk” terus,” tukasnya. 

Dicky menjelaskan kaitan kondisi geografis Jatinangor dengan fenomena Sesar Lembang. Terdapat hubungan antara Sesar Lembang dengan bagian utara Gunung Manglayang. Hal yang perlu dikhawatirkan ialah bila terjadi gempa bumi yang berpusat di sepanjang patahan Sesar Lembang, maka Gunung Manglayang akan ikut terkena dampaknya.

“Gempa bumi adalah salah satu pemicu gunung yang tidak aktif menjadi gunung aktif. Berkaca dari Gunung Sinabung yang aktif secara tiba-tiba, bukan tidak mungkin gunung Manglayang mengalami hal yang sama. Maka, itulah yang menyebabkan Jatinangor berpotensi terkena bencana alam gempa bumi dan gunung meletus,” terang Dicky.

Bukan hanya potensi bencana gunung api, dilansir dari Kompas.com, Sesar Lembang mengalami pergerakan sekitar 3 millimeter (mm) setiap tahunnya. Pergerakannya memang secara perlahan. Tetapi, dapat menimbulkan dampak besar di tahun-tahun  mendatang. Pergerakan sesar lembang diperkirakan akan berpengaruh pada kestabilan lahan di Jatinangor yang mengakubatkan tanah akan terus mengalami pergeseran.

Sementara menurut BMKG dalam salah satu rilisnya, hasil kajian beberapa peneliti tahun 2017 menunjukkan bahwa laju pergeseran Sesar Lembang mencapai 5,0 mm per tahun. Hal itu mengantarkan pada adanya potensi gempa bumi di jalur Sesar Lembang dengan magnitudo maksimum 6,8 skala richter.

Sedikit yang menyangka bahwa Jatinangor terapit di antara potensi empat bencana alam. Reiva Zaviera, mahasiswi Universitas Padjadjaran, mengaku tahu bahwa tempatnya menuntut ilmu itu berpotensi terkena bencana alam, tapi tak mengetahui bencana apa saja yang berpotensi terjadi. Setahu Reiva, Jatinangor hanya berpotensi terkena gempa bumi.

“Kalau masalah persiapan menghadapi itu, sih, jujur aja belum. Kadang, pikiran tentang Jatinangor punya potensi bencana itu hilang begitu aja dari pikiran. Gak tau kenapa. Mungkin, karena belum tahu banyak soal potensi bencana itu,” kata Reiva.

Lain halnya dengan Firyal Sabirah. Mahasiswi Unpad itu mengaku tahu bahwa Jatinangor berpotensi terkena bencana tanah longsor dan banjir. Buktinya, setiap hujan turun, banyak terdapat genangan-genangan air. Menurutnya, potensi bencana itu mengkhawatirkan. Tapi belum sampai di fase sangat mengkhawatirkan.

“Pencegahannya, kalau longsor aku gak bisa melakukan apa-apa. Tapi, aku gak pernah buang sampah sembarangan. Kalau banjir, aku memilih kamar kost di lantai dua. Sepertinya, sih, akan lebih aman,” katanya.

Melihat banyaknya potensi bencana alam, sudah seharusnya seluruh masyarakat Jatinangor mengetahui secara jelas potensi bencana yang bisa menimpa mereka. Pengetahuan mengenai mitigasi bencana juga sudah seharusnya dimiliki. Sekalipun para mahasiswa yang hanya bermukim sementara di kecamatan ini juga harus mengetahui hal itu. Namun, ternyata pemahaman itu belum terbentuk dengan tepat.

Potensi bencana alam yang cukup tinggi di Jatinangor rupanya masih berbanding terbalik dengan tingkat kesadaran masyarakat tentang bencana alam. Menurut Dicky, pada tahun 2018, ia dan tiga orang mahasiswanya yang berasal dari Jepang melakukan penelitian tentang kesadaran masyarakat tehadap bencana alam di Jatinangor. Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat mengenai potensi bencana alam di Jatinangor masih rendah.

Kebanyakan masyarakat, termasuk mahasiswa, tidak mengetahui jika potensi bencana alam di Jatinangor cukup tinggi. Bahkan, menurut Dicky, mahasiswa Unpad banyak yang tidak tahu kalau di dalam kampusnya sendiri pun terdapat banyak potensi bencana alam. Contohnya adalah lereng di depan Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM), jembatan tidak terpakai di samping gedung Fakultas Teknik Geologi, serta gedung rektorat yang pernah tergenang banjir.

“Jatinangor terlihat aman-aman saja, padahal banyak potensi bencana yang perlu diwaspadai”, ucap Dicky.

Menurutnya, ada tiga mitigasi bencana yang dapat dilakukan masyarakat Jatinangor. “Pertama, masyarakat secara merata perlu mengetahui kondisi tempat tinggal mereka. Kedua, meminimalisir potensi bencana. Salah satu cara untuk melakukan hal ini ialah dengan memperbaiki tata guna lahan di Jatinangor. Ketiga ialah pendidikan yang diberikan kepada masyarakat mengenai potensi bencana alam di Jatinangor serta bagaimana cara mengatasinya,” jelasnya.

Dicky menambahkan, mitigasi bencana harus dilaksanakan dengan dukungan dari segala pihak. Pemerintah harus berperan aktif mengatur tata guna lahan di Jatinangor, mengingat pemerintahlah yang memiliki wewenang memberikan izin pembangunan. Selain itu, civitas academica perlu melakukan kerjasama untuk membuat penyuluhan mengenai mitigasi bencana. Usaha itu setidaknya dilakukan di dalam lingkungan kampus, sebelum akhirnya meluas ke masyarakat.

“Profesor saja belum tentu tahu harus lari kemana kalau ada gempa. Kalau orang yang lebih berpendidikan saja tidak tahu, bagaimana mau menyampaikan kepada masyarakat?," ujar Dicky sembari tertawa.

Malam hari di Checo Café Resto, Jatinangor, kami menghampiri salah seorang pegawai Checo. Kami menanyakan apakah ia mengetahui potensi bencana alam di Jatinangor. Sambil mengerutkan dahi, ia menjawab, “Itu prediksi terjadinya tahun berapa ya, Mbak?”

Setelah dijelaskan penyebab potensi bencana di Jatinangor, Norman, 21 tahun, mengungkapkan ketakutannya. “Saya belum pernah dengar sebelumnya. Saya jadi takut,” katanya.

Tak berbeda jauh dengan Norman, reaksi serupa kami dapatkan dari Jajat, 19 tahun, ketika kami tanyai hal yang sama. Pegawai di Checo itu berujar, “Saya belum pernah dengar. Tapi, saya takut. Kalau soal bencana, gak ada yang tau. Tapi, itu kan urusannya sama yang di atas. Saya sekarang cuma bisa jalani aja.”

Jajat tak pernah menyangka bahwa tempat tinggal sekaligus tempatnya bekerja itu mempunyai potensi bencana alam yang besar.

“Saya gak nyangka Jatinangor punya potensi bencana alam sebesar itu,” katanya.

Norman dan Jajat hanya dua dari kemungkinan banyaknya masyarakat Jatinangor yang tak menyangka akan bahaya besar yang mengancam mereka. Entah, apakah seindah itu Jatinangor sampai-sampai tak ada penduduk yang menyangka akan adanya bahaya besar yang bisa menghampiri mereka kapan saja?

Irsya Fitriansah Kirena Maas dan Selma Kirana Haryadi
Jatinangor, Kabupaten Sumedang

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar