Yamaha Lexi

Jurus Menumbuhkan Bulike

  Senin, 10 Juni 2019   Rizma Riyandi
Ilustrasi keluarga

Apa itu Bulike? Bulike ialah singkatan dari Budaya Literasi Keluarga. Lalu tahukah Anda literasi itu apa? Menurut UNESCO, literasi adalah seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks di mana keterampilan yang dimaksud diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya.

Sehingga menurut Kemendikbud, literasi keluarga adalah upaya penguatan pemahaman tentang pentingnya literasi dalam bentuk penyediaan bahan bacaan, dan kegiatan literasi lainnya dalam keluarga.

Pernah kita mendengar atau membaca mengenai masalah Indonesia "darurat" literasi. Apa lagi pada tahun-tahun yang lalu. Konon katanya masyarakat Indonesia kurang "bersahabat" dengan buku. Buku bagi sebagian orang Indonesia dianggap sebagai momok yang menakutkan.

Tidak heran banyak anak yang enggan untuk membaca buku. Jangankan membaca, menyentuhnya pun harus diperintah terlebih dahulu. Mayoritas dari mereka lebih tergiur dengan permainan daring (dalam jaringan) alias game online dan bermedia sosial.

Bahkan tidak sedikit dari kalangan anak-anak yang rela membelanjakan uangnya demi ditukar dengan voucher kuota internet daripada ditabung untuk membeli buku. Mereka begitu bukan tanpa sebab. Arus perkembangan teknologi di era industri 4.0 ini memang sangat cepat. Tren "ngebuntut" gaya hidup modern tidak dapat dihindarkan.

Namun demikian, ada "angin segar" datang dari laman kemdikbud dan rayakultura. Berdasarkan kajian Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud, 68 peneliti, dan proktor di 34 provinsi yang meneliti lebih dari 6.500 siswa, disimpulkan bahwa kemampuan siswa Indonesia dalam literasi cukup bagus.

Menurut Dadang Sunendar, Kepala Badan Pembinaan Bahasa dan Perbukuan Kemendikbud mengungkapkan bahwa dari interval 200-800, rata-ratanya 489. Artinya tingkat kemampuan anak Indonesia sebesar 61%. Sampel diambil dari seluruh provinsi, dari tiap provinsi diambil 2 kabupaten (perdesaan dan perkotaan).

Dalam 1 kabupaten diambil 10 sekolah jadi jumlahnya 298 sekolah. Penelitian ini lebih komprehensif dari hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) yang hanya mengambil sampel dari 2 kabupaten saja di Indonesia, di mana Indonesia memperoleh angka 397 (kemdikbud, 25/04/2019).

Bahkan menurut ICLaw bersama rayakultura seusai mengadakan Lomba Cipta Cerpen Cinta Bumi (LCCCB) 2019, bahwa kemampuan literasi (menulis) masyarat Indonesia sangat mengejutkan.

“Jadi, omong kosong orang Indonesia malas menulis. Dalam satu setengah bulan ini kami menerima lebih dari 1.600 cerpen. Ini luar biasa boleh dikatakan melebihi target dan ekspektasi kami. Semoga melalui kegiatan sastra ini kecintaan kepada alam akan semakin meningkat,” kata Naning (rayakultura, 10/05/2019).

Untuk meningkatkan minat literasi anak, dibutuhkan "jurus" atau program dari orangtua. Berikut "jurus" yang patut orangtua coba.

1. Orangtua menjadi model bagi anak

Tidak dipungkiri bahwa anak adalah kertas putih dan orangtua sebagai tintanya. Segala tindakan orangtua akan ditiru oleh anak. Jika orangtuanya suka membaca dan menulis, bukan tidak mungkin anaknya pun begitu, begitupun sebaliknya.

Hasil studi Bandura (sahabatkeluarga.kemdikbud) ditemukan bahwa keluarga secara sistematis dapat membentuk pola ingatan yang tergambar dalam kebiasaan bertingkah laku anak melalui peniruan (imitating) dan pemodelan (modeling).

2. Motivasi

Motivator terbaik ialah orangtua. Melalui motivasi, semangat seseorang akan tumbuh subur. Sudah seyogeyanya orangtua "memupuk" anak dengan motivasi.

Contoh motivasinya dapat berupa informasi manfaat dan kerugian jika tidak membaca dan menulis, tokoh-tokoh sukses karena rajin membaca dan menulis, dan masih banyak hal lainnya.

3. Pojok pintar

Jika kita mendengar kata "pojok" apa yang ada di benak pikiran kita? Ya, mungkin dianggap sebagai tempat yang seram dan terabaikan. Tetapi tidak selamanya demikian.

Kita bisa "menyulap"-nya menjadi tempat yang menyenangkan, bahkan dapat mencerdaskan seorang anak. Caranya sederhana, cukup sediakan rak mini beserta bukunya, karpet lantai, meja belajar, dan aksesoris yang mengandung nilai pendidikan. Jadilah tempat belajar yang mengasyikkan.

4. Dongeng

Cerita-cerita dalam dongeng memang bersifat fiktif. Akan tetapi di dalamnya mengandung pesan moral yang sangat bagus jika dibandingkan tayangan sinetron dan kartun yang kurang pendidikan. Orangtua seharusnya membacakan dongeng, cerita rakyat, atau kisah religi sebelum anak tidur. Lalu menjelaskan arti dari cerita yang disampaikan. Kaitkan cerita dengan kehidupan sehari-hari.

5. Wisata literasi

Mengisi waktu libur dengan berwisata kerapkali menjadi agenda wajib keluarga. Berwisata tidak harus jauh dan mewah. Banyak tempat alternatif yang patut dicoba orangtua untuk mengenalkan literasi kepada anak sejak dini.

Tempat-tempat tersebut di antaranya adalah perpustakaan umum daerah, perpustakaan desa, dan taman bacaan. Fasilitas yang ditawarkannya pun sangat menarik. Ada buku, komputer dan wifi, surat kabar dan majalah, serta diadakan pelatihan atau kursus dibidang tertentu (kursus bahasa Jepang, Komputer, dll.).

Faasitas itu biasanya hanya ada di perpustakaan umum daerah. Tanpa mengeluarkan kocek seper pun kita dapat mengambil manfaatnya. Dapat berwisata, dapat membuka wawasan anak, dan dapat menciptakan keharmonisan keluarga.

"Sambil menyelam minum air," itulah pepatah yang tepat dari kegiatan wisata literasi.

6. Bank literasi

Pada umumnya bank dimaknai sebagai tempat menyimpan uang. Bagaimana jika yang disimpan bukan uang, melainkan tulisan atau hasil kegiatan membaca? Setiap orangtua bisa menyuruh anaknya untuk menulis atau menggambar, dan membaca sesuatu.

Contohnya menulis atau membaca puisi, cerpen, dan sebagainya. Minimal menulis aktivitas yang sudah dialami sejak pagi. Semuanya dipilih sesuai dengan usia anak. Kegiatan ini lebih baik dilakukan secara rutin dan terjadwal biarpun sebentar.

7. Media literasi

Keberhasilan suatu kegiatan tidak terlepas dari peran media. Semakin bagus media yang dipakai, semakin bagus pula hasil yang diraih. Disinilah kreativitas orangtua diuji.

Contoh media hasil kreasi orangtua yaitu pohon literasi. Pohon yang terbuat dari ranting kering yang digantungi kertas berwarna-warni dengan berbagai bentuk. Kertas yang berisi kata-kata yang baru diketahui anak.

Ini berfungsi menambah jumlah kosakata anak. Selain itu, pemilihan media elektronik sebagai penunjang perlu diperhatikan. Pengawasan terhadap gawai (smart phone) dan laptop lebih ditingkatkan. Unduh aplikasi yang berbau didaktik.

8. Anak diajak dan dijelaskan mengenai aktivitas dan fenomena kehidupan nyata

Contohnya ketika anak akan makan, dijelaskan asal muasal nasi dan pentingnya menghargai sebutir nasi. Ketika diberi uang jajan, anak diminta untuk menghitung uang dan diberi pengarahan manfaat menabung. Dan masih banyak lagi contohnya.

Kunci keberhasilan seorang anak yaitu campurtangan orangtua. Sehebat apapun gurunya, sebagus apapun kurikulumnya, dan sekomplit apapun medianya, semuanya tidak akan sempurna tanpa perhatian orangtua. Kalau kata Bapak Pendidikan (Ki Hajar Dewantara), sih, "Setiap orang adalah guru, dan setiap rumah adalah sekolah".

Odi Yanuwar

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar