Yamaha Aerox

Menilik Bisnis Musiman di Bulan Ramadan

  Sabtu, 08 Juni 2019   Rizma Riyandi
Yunengsih sedang menimbang daging sapi untuk membungkusnya menjadi paket daging lebarang dengan beberapa pelanggannya yang sedang menunggu dan memilih sendiri dagingnya. (Foto: Eliza Nur)

Bulan Ramadan telah usai digantikan oleh Hari Raya Idulfitri. Beberapa orang telah memanfaatkan Bulan Ramadan menjadi momentum untuk membuat bisnis musiman yang hanya dijalankan ketika Ramadan tiba. Kini, pedagang musiman bisa menikmati keuntungannya di hari raya.

Yunengsih(53) misalnya, ibu rumah tangga dari 4 orang anak ini sudah hampir 13 tahun menjalankan bisnis musiman, yaitu paket parsel untuk lebaran. Dari yang awalnya hanya berjualan disekitar rumah dan hanya orang terdekat saja yang membeli, kini ia sudah memiliki beberapa agen yang tersebar di berbagai daerah di Purwakarta.

“Tadinya sadudulur, saudara-saudara yang deket dan lama-lama tetangga ikutan jadi nyebar,” ujarnya ketika dijumpai dikediamannya, Sabtu (8/6).

Total ada sekitar 6 agen yang memasarkan kembali produk Yunengsih. Konsepnya ialah, Yunengsih akan memberikan brosur yang berisi daftar harga dan isi dari paket. Lalu siapa saja boleh menjualnya kembali dengan harga yang telah ditentukan. Paket terdiri dari paket daging, paket sembako, paket kue lebaran, hingga paket untuk anak yang berisikan snack.

Proses pembelian paket dilakukan dalam kurun waktu 10 bulan dan berakhir pada 2 minggu sebelum lebaran. Jadi pembeli membayarnya dengan dicicil, cicilan perharinya ditentukan oleh paket yang dipilihnya.

“Misalnya yang Rp6.000 per hari, dapat daging 3 kg, kentang 3 kg, kacang 2, mie 2, terus minyak goreng liter, sama aja sebenarnya saya yang lain cuman beda di dagingnya aja. Kalau yang paket Rp3.000 ada berasnya,” tambahnya.

Selain paket lebaran, Yunengsih juga menjual coklat dan kue kering. Tahun ini, penjualan coklat bisa menembus hingga 2.000 lebih toples, tahun lalu habis 1.500-an toples. Untuk pemasaran, ia membuka siapa saja untuk menjadi reseller dan bebas untuk memberi label sendiri.

“Saya kan enggak pernah upload di mana-mana, cuman bikin aja. Ada yang pesen tapi enggak mau pake label dari saya, ya biarin saya bukan mau labelnya , tapi mau lakunya. Soalnya kalau dia jualan laku juga pesan lagi ke saya,” tuturnya.

Dalam proses membuat pesanan, ia mempekerjakan 2 orang tetangganya, tetapi hanya untuk membuat kue saja. Untuk membuat parsel ia lebih nyaman untuk membuatnya sendiri meskipun dalam jumlah yang banyak.

“Kalau dibantuin bikin paket suka salah, misalnya ada kurang sosis satu taunya kemasukin ke paket yang satunya,” jelasnya.

Nabilah Muhamad
Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar