Yamaha Lexi

Sudahkah Anda Memiliki Kesadaran dan Keinginan untuk Zero Waste?

  Sabtu, 01 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Suasana di dalam Warung Sehat 1000 Kebun (Foto oleh : Irsya Fitriansah)

Siapa yang tidak ingin sehat? Jika ditanya seperti itu pasti semua orang menjawab dirinya ingin sehat. Tapi, apa saja upaya yang sudah Anda lakukan untuk menjaga kesehatan? Sudahkah Anda menerapkan pola hidup sehat?

Sebenarnya, apa pola hidup sehat itu? Human Population Laboratory di California Departemen of Health menerbitkan daftar kebiasaan yang berkaitan dengan kesehatan dan umur panjang, yaitu mencakup olahraga yang teratur, tidur secukupnya, sarapan yang baik, makan yang teratur, kontrol berat badan, bebas dari rokok dan obat-obatan, dan tidak mengomsumsi alkohol. Dari daftar tersebut, kita tahu bahwa pola hidup sehat harus memiliki keseimbangan antara pola makan yang baik, istirahat yang cukup, diiringi dengan aktif berolahraga.

Tapi, bukan hanya diri kita sebagai manusia yang ingin sehat. Bumi, tempat kita tinggal dan menjalani kehidupan pun ingin sehat. Lebih spesifik, Indonesia, negara yang kita tinggali sehari-hari pun ingin sehat. Namun, tahu kah Anda? Bahwa, Indonesia yang dikenal memiliki wilayah perairan yang luas, yaitu sekitar 3,25 juta km2 dari luas keseluruhan wilayah Indonesia, justru menjadi penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah China. Fakta ini diketahui berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jambeck yang berjudul Plastic Waste Inputs From Land Into The Ocean. Diwartakan oleh news.detik.com, pada tahun 2018 di laut Indonesia, tepatnya di perairan Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, ditemukan bangkai paus dengan total berat sampah di perutnya mencapai 5,9 kilogram.

Mirisnya lagi, Ocean Comservacy memprediksi bahwa pada tahun 2025 jumlah sampah plastik di lautan bisa mencapai 250 juta ton. Bahkan, jika sampah plastik di laut terus meningkat, diprediksi pada tahun 2050 sampah plastik di laut akan lebih banyak dibandingkan biota laut itu sendiri.

Dengan fakta yang ada, sehat kah bumi kita? Sehat kah Indonesia? Anda bisa menilainya sendiri. Namun selanjutnya, jika bumi tempat kita tinggal saja kesehatannya terancam. Bagaimana kita, sebagai manusia, dapat hidup sehat?

Sebenarnya, banyak cara untuk kita bisa menjaga kesehatan diri sendiri dan juga kesehatan bumi. Menjalankan pola hidup sehat, ternyata bisa dibarengi dengan menjalankan gaya hidup Zero Waste. Dilansir dari website radarhijau.com, gaya hidup zero waste diartikan sebagai suatu tindakan atau kebiasaan seseorang bersikap ramah lingkungan dengan cara menghindari segala sesuatu yang menimbulkan sampah atau limbah. Tidak hanya mengurangi produksi sampah, gaya hidup Zero Waste juga mengajak penganutnya untuk menerapkan 5R yaitu “Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, Rot” atau di dalam bahasa indonesia “Menolak, Mengurangi, Menggunakan Kembali, Daur Ulang, Membusukkan.”

Pembuktian bahwa kedua hal tersebut bisa dijalani beriringan sudah dilakukan sendiri oleh salah satu masyarakat Indonesia yang berasal dari Kota Kembang, Bandung. Dia adalah Fauzia Aulia Rachmawati, akrab disapa Zia. Berdasarkan pengalamannya, perempuan asal Bandung ini mengaku menerapkan gaya hidup Zero Waste secara tidak sengaja. Awalnya ia hanya berniat untuk menerapkan pola hidup sehat. Mengurangi jajan  dan mengkonsumsi lebih banyak air putih misalnya. Hal ini dilakukannya semata-mata untuk menjaga kesehatan tubuhnya. Setelah menerapkan pola hidup sehat, secara tidak sadar Zia juga menerapkan gaya hidup Zero Waste. Salah satu contoh penerapan Zero Waste yang tidak Zia sadari secara langsung ialah saat ia mengurangi jajan, ia juga tidak memproduksi sampah khususnya plastik. Sejak itu, Zia tertarik dengan gaya hidup Zero Waste.

Tentu untuk menjalankan pola hidup sehat sekaligus gaya hidup Zero Waste bukan perkara yang mudah. Selain membutuhkan niat dan keinginan kuat, tidak bisa dipungkiri perlu meronggoh kocek yang tidak sedikit untuk menjalankan pola hidup sehat ataupun gaya hidup Zero Waste.

“Memang memerlukan modal yang lumayan di awal. Contoh untuk pola hidup sehat, kalau mau konsumsi nasi merah atau sayuran organik tentu harganya lebih mahal. Produk buat mendukung Zero Waste juga lumayan mahal, seperti pembalut kain atau menstrual cup, peralatan makan dan minum, dan Zero Waste kit lainnya. Tapi karena produk itu bisa dipakai dalam jangka waktu tahunan, jadi kehitungnya balik modal sih,” ujar Zia ketika ditanya pendapatnya soal modal besar dari pola hidup sehat dan gaya hidup Zero Waste.

Namun, banyak cara untuk menghemat modal tersebut. Menurut Zia, asalkan ada kemauan, pola hidup sehat sekaligus gaya hidup Zero Waste bisa diterapkan tanpa modal yang besar. Semuanya bisa diatur sesuai dengan kemampuan diri, seperti membeli buah dan sayur di pasar tradisional atau menanamnya sendiri di rumah. Selain itu, Zia pun membagi pengalamannya yang merasa terlalu boros membeli Zero Waste kit, misalnya sedotan stainless yang ternyata jarang dipakainya.

“Jadi kita yang harus lebih aware sama diri sendiri, apa yang perlu dan tidak perlu. Kalau mau lebih hemat lagi, coba masak sendiri. Jadi selain lebih hemat, juga bisa mengurangi sampah bekas makanan,” tambah Zia.

Zia hanya salah satu contoh masyarakat Indonesia yang sudah mulai menerapkan gaya hidup Zero waste dan pola hidup sehat. Kalau Zia sebagai sosok yang menerapkannya, disisi lain tentu ada pihak yang mendukung perkembangan pola hidup sehat dan gaya hidup Zero Waste ini. Salah satu pendukungnya ialah keberadaan Warung Sehat 1000 Kebun yang terletak di daerah Arcamanik, Bandung.

Berdiri sejak 1,5 tahun yang lalu, Warung Sehat 1000 Kebun awalnya merupakan komunitas yang berisi individu yang hendak menerapkan pola hidup sehat. Pertemuan antara konsumen dan produsen yang membutuhkan dan menghasilkan produk pendukung untuk pola hidup sehat yang sering kali sulit dijumpai di tempat awam, menjadikan Warung Sehat 1000 Kebun berdiri hingga saat ini.

Produk yang ditawarkan Warung Sehat 1000 Kebun tentu serba organik. Sayur, buah, bumbu dapur , frozen food, sampai produk kecantikan berasal dari petani dan produsen lokal Indonesia khususnya Bandung. Diakui salah satu pengelola Warung Sehat 1000 Kebun, Ida, yang berhasil ditemui pada Kamis (23/5), produk organik di Warung Sehat 1000 Kebun memang memiliki harga yang cukup mahal. Sama seperti Zia, menurut Ida untuk menerapkan pola hidup sehat yang identik dengan bahan-bahan organik memang perlu modal yang lumayan besar. Tetapi, mahalnya harga tersebut bukan tanpa alasan.

 “Kalau organik, mahal itu wajar. Karena risikonya pun lebih tinggi. Petani kalau menanam sayur atau buah organik dan diserang hama, apa yang ditanam langsung gagal semua. Jadi harus adil ya. Kita tetap sehat, petani pun bisa memenuhi kebutuhan hidupnya,” ujar Ida.

Namun, menurut Ida, ada yang lebih penting daripada harga sebuah produk organik.  Hidup sehat tidak harus selalu mahal, yang harus ialah mempunyai kemauan dan kesadaran akan pentingnya hidup sehat. Salah satu cara agar bisa hidup sehat anti mahal ialah dengan rajin menanam sayur atau buah sendiri di rumah. Setiap orang bisa menjadikan rumahnya kebun, tinggal beli bibit lalu tanam dan hasilnya dapat di konsumsi sendiri.

“Membuat kebun sendiri di rumah itu mudah. Kebunnya tidak perlu besar. Justru yang perlu diperbesar adalah keinginan untuk membuat kebun itu,” tambah Ida.

Selain itu, Warung Sehat 1000 Kebun juga memiliki inovasi terkait pengolahan sampah sisa makanan. Inovasi ini dinamakan Takakura.Takakura merupakan metode untuk mengolah sampah makanan dengan cara yang tidak merepotkan. Terbuat dari campuran pupuk kandang, sekam, dedak, dan diberi sedikit tanah yang dicampurkan dalam box berukuran sedang. Setelah itu, campuran bahan tersebut disiram dengan air. Boleh menggunakan air biasa, air gula, atau mikroorganisme. Setelah didiamkan tiga hari, Takakura siap digunakan.

Lantas, bagaimana cara memanfaatkan Takakura? Seperti yang disampaikan ida, caranya mudah dan tidak merepotkan. Sampah sisa makanan dimasukkan ke dalam Takakura dan di aduk. Hasilnya bisa dijadikan pupuk untuk menanam. Uniknya, walaupun berisi campuran sampah sisa makanan, Takakura tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Jadi ramah lingkungan.

“Ini jadi sebuah siklus. Kita makan, sisanya masukkan ke Takakura. Pupuk hasil takakura bisa kita buat untuk menanam kembali. Hasil tanamannya, nanti kita makan sendiri. Begitu terus siklusnya berputar. Jadi, tidak perlu lagi beli sayuran. Hemat kan? Badan sehat, lingkungan pun sehat,” ujar Ida seraya menunjukkan Takakura di Warung Sehat 1000 Kebun.

“Jadi, untuk menerapkan pola hidup sehat dan gaya hidup Zero Waste harus serba mandiri?”

Tidak juga! Jika ingin menerapkan pola hidup sehat dan gaya hidup Zero Waste sebenarnya tidak selalu harus serba mandiri. Tanam sendiri, panen sendiri, masak sendiri, untuk dimakan sendiri. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang ingin menerapkan kedua cara hidup yang baik ini. Karena itu, mulai bermunculan restoran yang khusus menyajikan hidangan untuk seorang vegetarian. Tak jarang, ditambah dengan inovasi Zero Waste minimal dengan mengurangi penggunaan plastik. Menjadi vegetarian merupakan salah satu cara untuk menyongsong pola hidup sehat.

Salah satu restoran yang menyajikan hidangan untuk para vegetarian ialah Kehidupan Tidak Pernah Berakhir. Restoran yang terletak di jalan Padjadjaran, Kota Bandung ini berdiri sejak 19 Mei 2012. Menurut manager restoran, Silvi Oely Joedha, akrab disapa Joedha (dibaca Juda) awalnya restoran ini berdiri karena visi yang sama dari tiga pendirinya untuk menyampaikan kemaslahatan kepada orang banyak melalui makanan vegetarian. Bahkan restoran ini mendedikasikan dirinya sebagai restoran vegan, lebih tinggi tingkatannya dibanding vegetarian.

“Menjadi vegetarian itu ada beberapa tahapan. Diantaranya ada semi vegetarian yaitu orang yang makan daging hanya 1 sampai 2 hari dalam seminggu, ada lacto ovo vegetarian yaitu orang yang tidak makan daging tetapi masih memakan turunannya (susu, keju, dan telur), sedangkan kalau vegan ialah orang yang sama sekali tidak mengkonsumsi daging maupun turunannya. Murni 100% tumbuhan. Kehidupan Tidak Penah Berakhir ialah restoran vegan,” ujar Joeda.

Selain identik dengan harga yang mahal, menurut Joeda, menjadi vegetarian juga identik dengan pola hidup yang membosankan dan membuat tubuh lemas karena hanya makan sayur-sayuran. Tetapi restoran Kehidupan Tidak Pernah Berakhir dapat mematahkan dua hal tersebut. Bicara soal harga, restoran ini memberikan harga yang terjangkau. Hanya sekitar 10-12 ribu rupiah sudah dapat seporsi nasi dilengkapi dengan empat jenis sayuran bebas pilih.

Kalau soal mengatasi kebosanan, restoran ini mensiasatinya dengan mengolah sayuran menjadi beragam makanan yang biasanya terbuat dari daging, seperti rendang, sate, dendeng, dan sebagainya. Tetapi menu tersebut berasal dari bahan nabati yang dikenal dengan nama olahan daging nabati.

“Kami kelola restoran ini sedemikian rupa agar bisa diterima oleh semua kalangan. Jadi makanan disini murah, sehat, tetapi juga enak dan tidak membosankan,” ujar Joeda.

Restoran ini juga mencontohkan bahwa masakan yang sehat tidak harus selalu mahal. Semua bahan masakan di restoran Kehidupan Tidak Pernah Berakhir dibeli dari pasar tradisional di daerah Bandung, Pasar Ciroyom salah satunya.

“60% makanan diolah dan di masak langsung disini. Setelah dari pasar, semuanya di rendam air garam agar bebas hama dan pestisida. Setelah itu dimasak tanpa menggunakan bahan penyedap buatan. Jadi walaupun murah, kualitas dan kebersihan makanan tetap terjamin,” ujar Joedha sembari menunjukkan beberapa menu di etalase makanan.

Restoran Kehidupan Tidak Pernah Berakhir menjadi salah satu tempat yang berhasil menunjukkan bahwa pola hidup sehat dapat diterapkan oleh kalangan manapun, dengan cara yang tidak membosankan dan harga yang terjangkau.

Dari semua pengalaman dan cerita, bisa dibuktikan bahwa sebenarnya pola hidup sehat dan gaya hidup Zero Waste yang identik dengan mahal itu tergantung pada diri setiap orang yang menerapkannya. Penerapan pola hidup sehat untuk tubuh, dan gaya hidup Zero Waste untuk bumi ialah sebuah pilihan bagi setiap orang. Tidak ada keharusan untuk menjalankannya. Tapi, demi menjaga kesehatan diri dan juga bumi, tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?

Sudah cukup menjadikan mahal sebagai alasan. Buktinya sudah banyak alternatif yang dapat mematahkan identitas modal besar dari kedua hal ini. Zia, Warung Sehat 1000 Kebun, dan restoran Kehidupan Tidak Pernah Berakhir hanya beberapa dari sekian banyak alternatif lain yang dapat Anda cari sendiri. Seperti yang disampaikan Ida di Warung Sehat 1000 Kebun yang dikelolanya, “yang diperlukan itu kesadar dan keingin untuk mulai hidup sehat. Sehat untuk diri sendiri, dan sehat untuk lingkungan”

Jadi, sudahkah Anda memiliki kesadaran dan keinginan itu?

Irsya Fitriansah

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar