Yamaha Mio S

Pertumbuhan Pengiriman Uang Pos Indonesia Diharapkan Lampaui Target

  Jumat, 31 Mei 2019   Nur Khansa Ranawati
(Pixabay.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Pertumbuhan bisnis transaksi pengiriman uang ke dalam negeri alias remitansi PT. Pos Indonesia pada 2019 diharapkan melampaui target. Manajer Remitansi Luar Negeri PT. Pos Indonesia, Abdussyukur Muharam, menyebut target remitansi perseroan tahun ini sebesar Rp13,7 triliun.

“Kami sangat realistis terhadap target di tahun ini. kita ikuti tren yang terjadi dalam 4 tahun terakhir seiring kebijakan moratorium bagi tenaga migran Indonesia. Tetapi kami juga berharap dapat melampaui target tersebut,” kata Abdussyukur.

Sejauh ini, hingga triwulan I/2019, perseroan telah menghimpun jumlah transaksi remitansi yang telah mencapai 700 ribu transaksi dengan besar kiriman uang sebanyak Rp3.1 triliun.

“Angka di triwulan awal tersebut bagi kami sangat positif untuk meraih pendapatan yang jauh lebih baik pada triwulan berikutnya,” ujar Abdussyukur.

AYO BACA : Kiriman Barang via Pos Indonesia Melonjak Jelang Lebaran

Berdasarkan data perbankan, bisnis remitansi pekerja migran pada tahun 2019 diproyeksikan akan naik sebesar 23% dari perolehan remitansi pada akhir tahun lalu yang mencapai US$10,8miliar. Namun proyeksi tersebut bisa juga mengalami penurunan. Karena hal tersebut seiring dengan menurunnya tren bisnis remitansi secara global.

Dituturkan Abdussyukur, lanskap bisnis remitansi ini sudah mengalami perubahan dalam empat tahun terakhir. Hal ini terjadi bukan terhadap Pos Indonesia saja, namun secara global berdampak terhadap seluruh pelaku usaha bisnis remitansi. Salah satunya yaitu berlakunya moratorium pengiriman tenaga kerja ke negara-negara middle east (Timur Tengah).

“Pemerintah lebih memperketat pengiriman TKI ke negara-negara di kawasan Timur Tengah. Kalaupun ada, hanya perpanjangan masa kerja saja bukan penambahan tenaga kerja baru. Ini tentunya berdampak bagi seluruh pemain pada bisnis remitansi,” paparnya.

Saudi Arabia, sebut Abdussyukur, merupakan salah satu negara dengan market terbesar bagi Indonesia. Dibandingkan lima tahun lalu, jumlah TKI ke Saudi Arabia saat ini terus berkurang seiring kebijakan moratorium tenaga kerja asing yang diberlakukan. 

AYO BACA : Peak Season Lebaran, Pos Indonesia Janjikan Layanan Tetap Prima

“Mungkin ke depan apabila pemerintah mencabut kebijakan moratorium tersebut pasti dampaknya akan semakin baik bagi bisnis remitansi. Namun di luar itu pemerintah tentunya telah memikirkan yang terbaik dalam memberikan perlindungan terhadap tenaga migran Indonesia,” ujar Abdussyukur.

Seperti diketahui, pada 2015 silam, pemerintah melalui Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri telah menerbitkan kebijakan moratorium penempatan pekerja migran atau tenaga kerja Indonesia sektor informal (pembantu rumah tangga) ke seluruh negara kawasan Timur Tengah. Hal ini dilakukan pemerintah dalam rangka melindungi dan memperbaiki tata kelola perlindungan pekerja migran Indonesia dari berbagai risiko di negara tujuan.

Latar belakang moratorium bagi pemerintah adalah karena belum adanya regulasi mengenai perlindungan pekerja migran di negara penempatan. Negara di kawasan Timur Tengah belum memiliki mekanisme penyelesaian masalah pekerja migran.

Pemerintah Indonesia belum melihat adanya komitmen kuat dari pemerintah negara-negara di Timur Tengah dalam memberikan perlindungan kepada pekerja migran. Hal ini tentunya merujuk pada tingginya kasus yang menimpa pekerja Indonesia di kawasan tersebut

Pemerintah sendiri telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 260/2015 tentang Penghentian dan Pelarangan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia pada Pengguna Perseorangan di mana inti dari peraturan tersebut adalah menghentikan pengiriman pekerja migran, khususnya sektor pembantu rumah tangga di seluruh negara Timur Tengah.

Selama moratorium, pemerintah Indonesia terus mendorong negara di kawasan tersebut untuk memperbaiki aturan/tata kelola penempatan dan perlindungan pekerja migran dan memiliki mekanisme penyelesaian yang jelas jika terjadi masalah yang menimpa pekerja migran Indonesia.

Lebih lanjut Abdussyukur mengatakan bahwa di luar kawasan Timur Tengah, jumlah tenaga migran Indonesia tetap ada dan cenderung meningkat setiap bulannya. Tujuannya adalah kawasan Asia, seperti Malaysia, negara Korea Selatan, Taiwan dan Hongkong.

AYO BACA : Jelang Lebaran, Pos Indonesia Target Remitansi Tumbuh 120%

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar