Yamaha

Menyusuri Jalanan Braga : Antara Penjual dan Seniman Lukisan

  Kamis, 30 Mei 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ade (57) menunjukan hasil lukisan di kios lukis miliknya jalan Braga, Kota Bandung, Sabtu (27/1/2018). Di zaman yang serba digial ini Ade tetap konsisten menggunakan kuas, cat dan canvas untuk melukis. Untuk satu hasil karyanya membutuhkan waktu 3 hari dan di jual seharga Rp 750.000-Rp. 3.500.000 tergantung tingkat kesulitan serta di pasarkan di dalam negeri dan luar negeri seperti Jepang, Belanda, Belgia dan Prancis. (Kavin Faza/ayobandung)

Jalan Braga di Kota Bandung sering dikunjungi wisatawan baik lokal maupun internasional. Sepanjang  jalan, pengunjung bisa melihat bangunan-bangunan tua dengan gaya arsitektur Belanda. Selain itu, di sepanjang trotoar Jalan Braga terdapat banyak penjual lukisan. Lukisan yang dijajakan bervariasi gambarnya. Ada lukisan pemandangan, lukisan benda, lukisan kaligrafi sampai lukisan manusia. Oleh sebab itu, tak heran jika banyak sekali wisatawan yang sering berkunjung ke Braga untuk melihat-lihat bangunan dan lukisan atau sekadar untuk jalan-jalan saja.

Banyaknya lukisan menghiasi sepanjang trotoar ini yang menjadikan ciri khas dari jalan Braga. Saat melewati jalanan ini dari arah Jalan Asia Afrika, di ruas trotoar sebelah kiri terdapat lebih banyak penjual lukisan dibandingkan trotoar di sebelah kanan. Di ruas kiri trotoar jalan Braga, terlihat juga beberapa toko khusus yang menjual berbagai karya hasil lukis manual maupun lukis print (cetak). Hal ini yang menjadikan wisatawan lebih banyak berjalan di ruas kanan trotoar, karena bisa sembari melihat-lihat lukisan.

Salah seorang penjual lukisan di jalan Braga, Ajeh (42) menuturkan jika jalanan ini selalu ramai baik hari kerja maupun hari libur.

Ia mengaku jika lukisan-lukisan yang ia jual bukanlah buatannya sendiri, melainkan mengambil dari produsen. Berbagai lukisan ia jual mulai dari lukisan tumbuhan, pemandangan, abstrak, hingga kaligrafi. Namun, ia tidak menjual lukisan manusia karena tidak menyukainya. Ia menjual lukisan manusia jika ada yang pesan saja.

“Banyak pembeli mengira lukisan-lukisan ini hasil saya, padahal mah ngambil dari produsen. Saya cuma jualin hasil pelukis. Biasanya saya ngambil dari pelukis di Cipacing atau Garut. Menurut saya, penjual ya penjual, pelukis ya pelukis. Biar kami (penjual) yang memasarkan hasil karya pelukis,” ujar Ajeh saat ditemui di kawasan Jalan Braga Kota Bandung, Minggu (31/3). Ajeh mengatakan jika ia tidak bisa melukis, tetapi hanya bisa menjualnya saja.

Lukisan yang dijajakan rata-rata lukisan yang dibuat dengan pisau palet dan lukisan biasa. Perbedaannya, lukisan yang menggunakan pisau palet hasilnya timbul. Harga yang ditawarkan untuk lukisan dengan pisau palet pun lebih mahal daripada lukisan biasa. Harganya bisa mencapai Rp 500 ribu, sedangkan lukisan biasa seharga Rp 200 ribu. Hal ini dikarenakan, lukisan dengan pisau palet lebih sulit pengerjaannya dan membutuhkan waktu yang lebih lama. Menurut Ajeh, lukisan timbul yang ia jual bisa mencapai Rp 500 ribu. Sedangkan setelah ditawar pembeli, ia memberi harga di batas Rp 350 ribu.

Selain Ajeh, ada juga penjual yang sekaligus melukis hasil karyanya sendiri. Seorang seniman lukis asal Bandung, Dede (56) mengaku bahwa ia menjajakan hasil karya lukisnya sendiri. Ia juga menjual hasil karya lukisan orang lain. Beberapa hasil karya lukisnya yang ia jual diberikan tanda tangan di atas kanvas sebagai ciri bahwa itu buatannya. Tanda tangan itu bertuliskan “Damyang” atau singkatan dari Dede Amyang. Sama seperti pelukis lain, ia mengambil barang dari produsen lukisan asal Garut, Cianjur dan Jelekong.

Menurutnya, lukisan yang diambil dari produsen di Cianjur dan Garut lebih mahal daripada produsen dari Jelekong. Hal itu dikarenakan produsen dari Jelekong adalah sebuah home industry, di mana lukisan dengan satu objek dibuat menjadi puluhan lukisan yang sama.  Sedangkan lukisan yang dari Garut dan Cianjur, produksinya hanya satu sampai dua buah saja, sehingga membuat harganya lebih mahal.

“Lukisan yang dibuat di Garut atau Cianjur itu termasuk produsen rumahan sedangkann di Jelekong itu produsennya punya banyak pelukis sebagai pekerjanya. Ya, kalau bisa dibilang,  lukisan dari Jelekong itu kodi-an,” ujar Dede, Minggu (31/3). Dede mengatakan jika ia lebih banyak menjajakan hasil lukisan yang ia ambil dari produsen di Jelekong daripada lukisannya sendiri.

Jelekong memang merupakan daerah wisata yang banyak menghasilkan seni lukis. Tempat tersebut terkenal dengan gudang keseniannya. Selain banyaknya hasil karya seni lukis yang berasal dari sana, ada juga hasil karya seperti wayang golek. Oleh karena itu, banyak penjual lukisan yang memasok barang dagangannya dari sana.

Dede biasanya menjajakan barang dagangannya dari pukul pagi pukul 09.00 - 18.00 . Alasan Dede tidak berjualan cukup lama karena jika malam harinya hujan, ia memilih untuk pulang saja.

“Saya buka dari pukul 09.00 sampai maghrib. Gimana situasi aja, kalau nggak hujan ya sampai malam. Tapi kadang-kadang pukul 16.00  juga udah pulang, soalnya sekarang sore suka hujan, jadi nggak banyak orang yang lewat,” tambah Dede.

Di balik cukup banyaknya wisatawan yang membeli lukisan di Jalan Braga tersebut, para penjual dan seniman lukis di sana sempat mengeluhkan karena asipirasi mereka kurang mendapat perhatian dari Pemerintah. Mereka berharap Pemerintah bisa membuat semacam galeri untuk mengapresiasi hasil-hasil seniman lukisan tersebut. Selain itu, jika pemerintah memfasilitasi para seniman, maka mereka akan lebih bersemangat berkreasi. Nantinya,  bisa saja dengan lebih banyaknya hasil karya lukisan, mereka berharap akan lebih banyak lagi wisatawan yang datang.

Dilansir dari jabarnews.com, Wali Kota Bandung terpilih, Oded M Danial membenarkan adanya keluhan itu dari seniman yang ada di Kota Bandung. “Mereka meminta mengusulkan ada gerai sebagai bukti perhatian dari pemerintah. Mereka merasa belum diperhatikan. Gerai itu juga bisa menjadi penyemangat bagi mereka untuk berkrereasi lagi,” jelas Oded.

Ajeh mengatakan jika permintaan itu benar. Meskipun bukan seniman lukis, ia juga mengharapkan pemerintah bisa memberikan upayanya terhadap para seniman lukisan di Jalan Braga. Ia juga mengungkapkan jika sebelumnya memang sudah ada bentuk perhatian pemerintah terhadap mereka. Namun, saat itu pemerintah baru memfasilitasi para seniman dengan membuatkan sebuah pameran di Jalan Braga, bukan membuatkan sebuah galeri.

Oded berjanji, pihaknya akan mengupayakan permintaan dari para seniman lukis di Braga tersebut. Selain itu, ia juga akan berusaha melakukan kerjasama dengan berbagai pihak. Oded mengatakan jika pihaknya bisa bekerja sama dengan perkantoran atau bank. Jika diterima, nantinya para seniman lukisan tinggal mengajukan rancangan gerai yang diinginkan. Setelah itu, seniman lukis  yang sudah berpengalaman maupun yang masih muda bisa ikut berpartisipasi memberikan karya lukisannya.

Untuk ke depannya, para seniman lukis di Jalan Braga mengharapkan permintaan mereka cepat dikabulkan oleh Pemerintah Kota Bandung. Dengan semakin banyaknya seniman yang berkarya lewat lukisan di Jalan Braga tersebut, mereka berharap wisatawan akan semakin banyak yang berkunjung. Selain itu, lukisan-lukisan tersebut juga bisa lebih mempercantik jalanan Braga. Bukan hanya seniman lukisan, para penjual lukisan pun nantinya akan mendapatkan keuntungan lebih jika jumlah wisatawan meningkat. Secara tidak langsung, Jalan Braga sampai saat ini sudah menjadi ladang bagi para seniman untuk berkarya dan ladang bagi para penjual untuk mencari nafkah.

Cicin Yulianti 
Mahasiswa Jurnalistik Unpad.

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar