Yamaha NMax

Regulator Penerbangan Dunia Tak Sepakat dengan FAA Soal Boeing 737 Max

  Senin, 27 Mei 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Pesawat jenis boeing milik Garuda Indonesia lepas landas di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (15/3/2019). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Ternyata sekitar 60 regulator penerbangan dari 33 negara tidak setuju dengan gagasan Dinas Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat (AS) tentang rencana menerbangkan kembali Boeing 737 Max.

Dalam pertemuan sehari di Forth Worth Texas pada 23 Mei 2019 lalu, para regulator menyatakan lebih suka melakukan penilaian sendiri atau dengan kata lain tidak mau mengikuti gagasan FAA dan bujukan Boeing Corp.

Penolakan tersebut memperlihatkan ketidakpercayaan terhadap FAA dan Boeing Corp. Keduanya dinilai mengeluarkan kebijaksanaan yang menjadi akar mula musibah yang menimpa B 737 Max Lion Air pada 29 Oktober 2018 dan Ethiopian Air pada 10 Maret 2019 lalu yang menewaskan 346 penumpang dan awak.

FAA diketahui tidak memeriksa semua fitur Max dan kemudian menyerahkan penyelesaiannya kepada Boeing Corp. Salah satu dalihnya adalah toleransi karena Boeing Corp. sedang mengejar tengat penyerahan kepada konsumen.

Dalam promosinya, Boeing Corp. menyatakan mode pengendalian Max serupa dengan seri Boeing 737 terdahulu. Boeing Corp. dalam buletin petunjuk operasional juga tidak memberitahukan adanya fitur baru Manuevering Characteristics Augmentation System (MCAS), Sistem Tambahan untuk Gerakan-gerakan Tertentu.

MCAS ini vital karena fisik Max berbeda dengan B-737 seri terdahulu. Kedua mesinnya lebih besar dan landing gear-nya lebih rendah. Bila tinggal landas cenderung mendongak dan begitupun ketika sedang mendaki untuk mencapai titik ketinggian tertentu, yang dapat menyebabkan pesawat jatuh dengan ekor duluan.

Cara kerjanya, MCAS yang mendapat input dari sensor yang mengukur sudut serang hidung pesawat dan secara otomatis memerintahkan pesawat untuk menurunkan hidung. Diperkirakan perolehan input yang salah itu, menyebabkan pesawat Lion maupun Ethiopian Arlines tidak terkendali dan menukik tajam.

 

Sudah Diperbaiki

Boeing Corp. mengaku sudah melakukan perbaikan MCAS dan mengadakan 207 uji terbang. Dengan demikian sudah tidak ada masalah. Kemudian Boeing tinggal menyusul jadwal waktu untuk memastikan pesawat dapat kembali terbang dengan aman, kata Daniel Elwell, pejabat ketua FAA, pada penutupan konferensi sehari penuh tersebut.

Disebutkan, Boeing Corp. sudah menyerahkan semua dokumen perbaikan. FAA akan melakukan analisis atas semua piranti lunak dan uji terbang.

Para regulator dan maskapai yang masih mengandangkan Max tidak mempedulikan kedua pernyataan itu. Mereka kecewa dengan kenyataan FAA yang mempunyai hubungan ‘terlalu nyaman’ dengan Boeing Corp.    

Regulator dan maskapai penerbangan non-AS tampaknya akan menentukan sendiri langkah-langkah berikutnya. Mereka kehilangan kepercayaan terhadap FAA dan Boeing. Sepertinya jalan menuju kesepakatan masih jauh.   

Dirjen Penerbangan Sipil Kanada Nicholas Robinson menyatakan mempercayai sepenuhnya FAA dan prosesnya, tetapi tidak mengesampingkan kemungkinan mengharuskan pilot Max mengikuti pelatihan di simulator.

Badan Keamanan Penerbangan Eropa, Kanada, dan Brasil termasuk di antara negara-negara yang menyatakan akan mengevaluasi sendiri Max. Sementara maskapai Cina yang pertama kali mengandangkan Max kemungkinan besar mengambil langkah serupa, sejalan dengan sengketa dagang dengan AS. 

Asosiasi Kokpit Eropa, yang menaungi 38 pilot dari 36 negara menegaskan, sebelum Max kembali mengudara, mereka memerlukan berbagai jawaban dan transparansi. Banyak pertanyaan terkait filosofi desain Max, ujar juru bicaranya, Kamis (23/5/2019) ini.

 

Maskapai AS Antusias

Yang antusias menerbangkan kembali Max justru maskapai AS. Mereka ingin memanfaatkan liburan musim panas, mulai pertengahan Juni sampai September mendatang. American Airlines dan Southwest, menargetkan untuk menerbangkan kembali Max pada awal Agustus.

Mengapa tergesa-gesa? Apakah semata-mata ingin meraup potensi di musim panas? Apakah pilot AS lebih terlatih atau karena keberuntungan belaka?  Sejauh ini maskapai AS percaya pelatihan Max cukup dengan komputer atau tablet.

Sesaat setelah diperkenalkan, Boeing memperoleh pesanan 649 unit. Terdiri dari Lion 201 unit, Southwest Airlines 150 unit, United Airlines dan Norwegian Air Shuttle masing-masing 150 unit, ALC 75 unit, dan Virgin Australia 23 unit. Pesanan berikutnya datang dari Cina, Garuda Indonesia, dan lain-lain.

Biro Transportasi Federal AS menyatakan dalam kurun waktu Januari–Oktober 2018 Southwest Airlines menduduki peringkat pertama dengan mengangkut 132.251.331 penumpang, isusul Delta Air Lines (106.062.211),  American Airlines  (99.857.863), United Airlines (71,722,425 ), SkyWest Airlines (31.257.149 ), JetBlue Airways (28.406.310 ) Alaska Airlines  (26.273.073), Spirit Airlines (21.863.935), Frontier Airlines (15.527.410 ), dan Republic Airline (operates as American Eagle, Delta Connection, and United Express)  (14.728.265 ).

Negara bagian California merupakan penyumbang penumpang terbanyak dengan 80.625.570 penumpang, Texas (63.014.287),  Florida (59.603.905 ), Georgia (39.724.476) Illinois (37.686.992), New York ( 30.626.628),  Colorado ( 26.683.796),  North Carolina ( 24.483.603)  Washington  (20.456.161) dan Nevada (20.127. 801).

Data yang diterbitkan Biro juga mengungkapkan pada setiap bulan, Januari-Oktober, Southwest selalu berada di tempat teratas hingga menguasai 20%  dari jumlah seluruh penumpang  yang diangkut. Disusul  Delta 16%, American Airlines 15% dan United Airlines 11%. Sisanya rata-rata di bawah sepuluh persen.

Berdasarkan data tersebut masuk akal bila maskapai AS sangat antusias  Mereka tidak ingin kehilangan potensi pendapatan gara-gara Max yang mereka miliki teronggok di hanggar atau Bandara. Apalagi sekalian pesawat yang teronggok memerlukan perawatan khusus, yang berarti fulus, supaya siap terbang.

Harapan maskapai-maskapai AS untuk bisa mengaktifkan Max belum tentu diterima penumpang. Katakanlah para penumpang berfikir rasional, namun kecemasan mereka tetap lebih tinggi dari sebelumnya. Bakal ada histeria bila pesawat berguncang-guncang walaupun karena badai.

Perlu juga diketahui, hanya Alaska Airlines, American Airlines, dan United Airlines yang masuk dalam 20 peringkat perusahaan penerbangan teraman di di dunia. Nomor satu diduduki Air New Zealand, nomor dua Alaska Airlines sedang American Airlines ke empat di bawah ANA. Sementara United Airlines nomor 19.

 

Garuda Nyaman

Sekali lagi para regulator dan maskapai masih akan bersikap menunggu dan menanti perkembangan baru. Tampaknya Garuda yang paling cepat mengambil posisi dengan membatalkan pesanan 48 Max dan menggantinya dengan produk Boeing yang lain. Dalihnya kepercayaan konsumen terhadap Max sudah menurun bahkan hilang.

Soal satu unit yang sudah wira-wiri , goleng sana goleng sini tak masalah. Kandangkan saja. 

 

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar