Yamaha Mio S

Lailatulkadar, Amin Syukur Ajak Jemaah PAPB Sucikan Jiwa

  Minggu, 26 Mei 2019   Rizma Riyandi
Jemaah sedang khusyuk mendengarkan tausiyah saat kegiatan Pengajian Ahad Pagi Bersama (PAPB) bertempat di Masjid Al Muhajirin, Palebon, Minggu (26/5/2019).

Meraih lailatulkadar memang harus disiapkan jauh-jauh hari. Yakni, bulan Rajab dan Syaban perlu dilakuan tazkiyatun nafsi melalui puasa, hingga kemudian ketika datang Ramadan, kita gunakan semaksimal mungkin mengejar datangnya lailatulkadar. Itulah prolog Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Walisongo Semarang, Prof Dr KH Amin Syukur MA, saat mengisi tausiyah di Pengajian Ahad Pagi Bersama (PAPB) bertempat di Masjid Al Muhajirin, Palebon, Minggu (26/5/2019).

Hadir dalam pengajian tersebut Ketua Umum Yayasan Amal PAPB Semarang Prof HM Ali Mansyur, Sekretaris HM Sayuti berserta jajaran pengurus H Achmad Fuad, H Muntasir, H Asyhadi Noor, dan ratusan jemaah setia PAPB Semarang yang sudah masuk hingga putaran ke 952 sejak 7 Mei 2000.

Prof Amin yang juga Pembina YAPAPB tidak lupa menyinggung dulu ketika Ramadan akan berakhir, Nabi menangis dengan para sahabat. Adapun kita umatnya kala menyambut Ramadan setidaknya terbagi menjadi tiga sikap.

“Saat datangnya Ramadan itu ada yang senang, susah, bahkan tidak suka. Maka, saya harapkan jamaah PAPB senang dengan hadirnya Ramadan,” tegasnya.

Tentang kehadiran lailatulkadar, Amin menekankan dengan upaya tazkiyatun nafsi atau penyucian diri. Langkahnya pertama, takholli maknanya memisahkan atau meninggalkan diri dari sifat buruk mulai dari iri, dengki, sombong, ujub, pamer, dan lainnya melalui taubat.

Adapun kedua, wara’ atau meninggalkan subhat atau remeng-remang (tidak jelas halal dan haramnya).

“Yang jelas-jelas subhat saja tidak mau, apalagi yang jelas-jelas haram, dan inilah tafsir zuhud dalam perspektif tasawuf,” terangnya.

Ketiga, tajalli, atau pencerahan dalam hati. Hatinya tidak toleh-toleh kepada luar melainkan mendasarkan kepada hati untuk setiap hal yang dilakukan. Sehingga akan muncul cahaya dari diri kita secara otomatis prihalhal yang benar untuk kemudian dilakukan dan tidak benar akan serta merta ditinggalkan.

“Jika hal inikita lakukan, simbol tazkiyatun hafsakhirnya menjadi akhlakul karimah. Maka tanda perubahan akhlak itulah yang menjadi pemaknaan ulama kontemporer ketika ingin mendapat lailatulkadar,” jelasnya.

Oleh karena itu, mengoptimalkan 10 hari terakhir di puncak bulan Ramadan adalah ikhtiar melalui perubahan akhlak/karakter itu agar kita mendapatkan lailaturkadar yang lebih baik dari 1000 bulan, pungkasnya.

Usman Roin
Jemaah PAPB Semarang

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar