Yamaha Aerox

Permendag 64 Membuat Industri Menjerit

  Jumat, 24 Mei 2019   Mildan Abdalloh
Ilustrasi industri tekstil.

SUMURBANDUNG, AYOBANDUBG.COM -- Dalam dua tahun terakhir, industri tekstil di Indonesia mengalami penurunan omzet yang signifikan. Hal tersebut dikarenakan adanya Permendag nomor 64 tahun 2017 yang memungkinkan impor masuk ke Indonesia tanpa adanya kontrol.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat, Kevin Hartanto, mengatakan dalam dua tahun terakhir permintaan pasar domestik industri tekstil semakin menurun. Bahkan saat Ramadan ini pun nyaris tidak ada lonjakan permintaan barang.

Padahal, Ramadan merupakan waktu yang biasanya bagi industri tekstil untuk menggenjot penjualan.

"Setelah kami teliti, penyebab penurunan permintaan itu karena barang impor yang lebih mendominasi pasar domestik," tutur Kevin saat diskusi IKM tekstil di Bandung, Kamis (23/5/2019).

Dulu aturan impor barang di Indonesia diatur oleh Permendag nomor 85 yang mengatur tata niaga impor produk tekstil. Dalam permemdag tersebut, diatur impor bahan tekstil dibatasi hanya untuk produsen pemilik TPT.

Aturan tersebut mempunyai batasan yang jelas terkait bahab baku yang diimpor untuk industri tidak boleh diperjualbelikan selain kepada industri atau dipindah tangankan. Aturan tersebut diawasi secara ketat oleh pemerintah. Bahkan, jika ada produsen yang kedapatan melanggar menjual bahan baku produksi tekstil menjual kepada selain industri, izin impornya bisa dicabut.

Namun pada 2017 keluar Permendag nomor 64 yang dimanfaatkan oleh pedagang pemegang APIU untuk memasukan barang impor dalam bentuk produk jadi.

"Ini menjadikan seolah-olah barang impor dalam bentuk barang jadi diberi karpet merah. Jadinya impor umumlah yang menjadi superior. Barang TPT impor menjadi melenggang masuk pasar domestik Indonesia, pelaku industri jadi gigit jari, hanya menjadi penonton," katanya.

"Apakah adil import umum bisa memperdagangkan import tekstil?," imbuh Kevin.

Dengan adanya Permendag 64/2017, kata Kevin, menjadikan ketidakadilan bagi industri tekstil di Indonesia karena pemegang APIU bisa melakukan impor secara bebas tanpa adanya kontrol.

"Sekarang semua produk bisa masuk, bukan hanya bahan baku, tapi produk jadi. Dari china salles bisa langsung jualan ke toko. Mereka sudah tahu barang yang dibutuhkan dengan harga lebih murah. Yang namanya dagang pasti memilih harga termurah," katanya.

Karena barang jadi yang bisa langsung masuk tanpa ada saringan, menjadikan industri tekstil di Indonesia terus melesu. Industri tekstil yang biasa mensuplai barang untuk kebutuhan sandang menjadi minim pesanan, karena pedagang eceran bisa mendapat barang jadi dari impor dengan harga jauh lebih murah.

"Imbasnya bukan hanya kepada industri tekstil saja, tapi juga ke industri produk tekstil, seperti garmen. Industri tekstil ini seperti mata rantai, jika satu terganggu, maka akan berpengaruh terhadap yang lainnya. Dulu kami mengira, penurunan pesanan karena daya beli, ternyata daya beli masih bagus, tapi yang menjadi masalah adalah impor barang jadi yang menguasai pasar domestik," paparnya.

Dia berharap agar pemerintah melakukan revisi Permendag 64/2017 atau mengembalikan aturan impor kembali ke Permendag nomor 85.
 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar