Yamaha Aerox

FAA Izinkan Boeing-737-Max 8 Mengudara Lagi?

  Selasa, 21 Mei 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi pesawat boeing. (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal)

Pilot, cuaca, atau kedua-duanya kerap dituduh sebagai penyebab kecelakaan pesawat. Tuduhan ini sangat efektif sebab pilot tak bisa membela diri karena sudah ‘pulang’ ke alam baka. Demikian pula dengan cuaca, ia tidak dapat membela diri lantaran ‘hidup’ di dunia lain, sering berubah,dan tak faham bahasa manusia. 

Tuduhan terhadap pilot atau cuaca itu membebaskan produsen dari masalah, sedangkan maskapai tinggal membayar asuransi sesuai ketentuan yang berlaku. Semua selesai dan bisnis penerbangan kembali seperti biasa.

Cerita di atas tak berlaku dalam mencari penyebab musibah Boeing 737-Max 8 Lion Air dan Ethiopian Airlines. Sebagaimana diketahui  pesawat milik kedua airlines jatuh dalam kondisi yang mirip, beberapa menit setelah tinggal landas kemudian menukik. Bila punya Lion nyebur ke laut, milik EA menghujam ke daratan.     

 

Promosi Boeing

Menurut Boeing Corp., Max 8 paling hemat BBM dan biaya operasional paling rendah dibandingkan dengan pesawat satu gang (single-aisle) lainnya. Lebih hemat 14% dibanding Airbus A-320 neo. Penjelasan ini membuat maskapai tertarik sebab bahan bakar menyerap 40-45% biaya operasi.

Max  juga disebut tak beda dengan Boeing 737-900-ER, atau B-737-800 NG. Berkat kemudahan ini, maka lagi-lagi maskapai dapat menghemat biaya yang lazim dikeluarkan buat pelatihan pilot.

Promosi itu berdampak  pesanan yang luar biasa. Pada tahun 2012, Boeing kebanjiran pesanan 649 unit. Terbanyak dari Lion Air yakni 201 unit. Southwest Airlines (150). United Airlines dan Norwegian Air Shuttle masing-masing 100. ALC 75 unit dan Virgin Australia 23 unit.

 

Spesifikasi Teknis

Max 8 memiliki  landing gear yang lebih pendek. Ia ditenagai dua mesin yang lebih besar hingga menambah berat. Posisi mesin lebih maju dan lebih tinggi.

Fakta-fakta ini menggeser pusat gravitasi  pesawat lebih ke depan yang membuat hidung pesawat mendongak terlalu tajam (pitch up) setelah lepas landas. Posisi ini, bila lebih dari 15 derajat,  dapat membuat pesawat jatuh dengan ekor terlebih dulu.

Guna mencegahnya,  Boeing mengembangkan piranti lunak yang disebut Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). MCAS bekerja secara otomatis untuk menurunkan sudut hidung pesawat setelah mendapat data dari sensor yang mampu membaca posisi sudut pesawat terhadap terpaan angin dari depan.

Caranya,  setelah memperoleh data MCAS akan mengatur roda penyesuaian ( trim, yang berlokasi di bawah panel FMC). Trim ini berhubungan dengan sepasang sayap kecil di ekor. Sayap ini terbagi dua, bagian belakang untuk elevator sedangkan belahan depan   stabilisator  horisontal pesawat. MCAS ini yang mengatur stabilisator horizontal supaya hidung pesawat turun atau naik.

Problem muncul bila MCAS memperoleh data yang salah tentang sudut serang , angle of attack,  hingga  secara otomatis ia akan membuat hidung pesawat menukik. Perlu diketahui, beberapa menit setelah tinggal landas, pilot biasanya akan menghidupkan sistem kendali otomatis dan membiarkan pesawat terbang sesuai dengan data rencana terbang yang dimasukkan ke dalam Komputer Manajemen Penerbangan (FMC).

Dalam kondisi kendali otomatis itu,  tiba-tiba MCAS membuat pesawat menukik dan tentu saja membuat pilot bingung dan terkejut. Pada saat yang sama ia melihat tak ada masalah karena berbagai indikator pada berbagai papan display di hadapannya tidak memperlihatkan sesuatu yang negatif.

Belakangan juga diketahui, dalam pengendalian secara manual maka Max akan bereaksi serupa. Hidung pesawat turun sendiri.

Pada kasus Ethiopian Airlines, perilaku MCAS muncul setelah tiga menit take off yang membuat Kapten Pilot Yared Getachew (29) dengan 8.321 jam terbang dan Ko Pilot Ahmed Nur Mohammod Nur (361 jam terbang) minta izin kembali ke landasan. Petugas lalulintas penerbangan Bandara Bole,  Addis Ababa melihat pesawat terbang dengan kecepatan tinggi, bergerak naik turun.  Setelah itu, tiga menit kemudian, tak ada kontak, rupanya Max 8 ET-AVJ  jatuh di lahan kosong pada Minggu pagi, 10/3/2019 dengan menewaskan 157 orang.

Nahas serupa terjadi pada Max 8 Lion Air, JT160, PK-LQP, 29 Oktober 2018. Pesawat dengan 189 penumpang menukik dan jatuh di perairan Karawang, laut Jawa. Kapten Pilot Bhavje Suneja dan Ko Pilot Harvino juga ingin kembali ke Soekarno-Hatta, tapi tak kuasa mengendalikan pesawat yang punya pikiran sendiri itu.

 

Boeing Corp. Menyembunyikan?

Kenapa pilot bingung? Ternyata Boeing Corp. tidak mencantumkan fitur otomatisasi, tentang MCAS,  dalam buku petunjuk pengoperasian Max 8. Baru setelah Lion jatuh, Boeing Corp. menjelaskan tentang fitur  yang mempengaruhi perilaku terbang.

Para penyelidik kecelakaan JT-160 memusatkan perhatian fitur otomatisasi itu serta sensor yang memberi input sudut serang yang berubah-ubah kepada MCAS. 

Menurut Boeing Corp.  bila hidung pesawat mendongak dan  pesawat akan stall, pilot disarankan memutar-mutar sendiri roda trim  atau memanfaatkan tombol elektrik di batang kiri kemudi pesawat. MCAS memang tidak aktif bila sudut serang pesawat mengecil atau pilot mengendalikan sendiri trim.

Dengan demikian, nyata sudah Boeing Corp. tidak memberitahukan adanya  fitur otomatisasi itu. Meskipun begitu Chief Executive Boeing Corp. Dennis Muilenburg menyebut terjadi pilot error karena ko pilot Ethiopia kurang berpengalaman dalam membantu mengatasi krisis.

Dinas Penerbangan Federal (FAA) juga urun salah dengan memberi sertifikasi kelaikan Max 8. Seorang pejabat senior FAA tidak melakukan tugasnya dengan baik ketika memeriksa sensor sudut serang pesawat. Persis  ketika Boeing Corp. dikejar waktu memenuhi  tengat penyerahan pesawat.

 

Pembelaan

Anggota DPR dari negara bagian Missouri, Sam Graves, melakukan pembelaan dalam dengar pendapat Subkomite Penerbangan DPR, Rabu 15-6-2019, menyatakan kecelakaan Lion maupun EA disebabkan kesalahan pilot. “ Penerbang yang dididik di Amerika Serikat lebih mampu menangani kondisi darurat pada pesawat jet. Saya prihatin dengan standar kualitas pelatihan.”

Graves mengutip laporan yang dibuat dua pilot satu maskapai terkemuka di AS. Laporan itu menyatakan kesalahan pilot merupakan penyebab paling utama dalam kedua musibah. Laporan dibuat atas permintaan dan dibayar oleh lembaga investasi yang menyimpan dalam jumlah besar saham Boeing.

Pilot error sejalan dengan pernyataan Boeing sebelumnya dan merupakan bagian dari pembelaan hukum bila ada tuntutan.

Sejumlah 25 keluarga korban Lion JT-610 menyewa kuasa hukum dari Ribbeck Law Chartered untuk menuntut Boeing Corp. Sebelumnya hanya keluarga korban Rio Nanda Pratama yang mengajukan tuntutan. Sidang digelar di Circuit Court of Cook County, Illinois, Amerika Serikat.

Maskapai, seperti Ryanair,  juga menuntut Boeing Corp. tidak memenuhi jadwal penyerahan pesawat. Selain itu, maskapai lain juga menuntut kompensasi akibat Max 8 di- grounded.  Garuda minta pesawat yang lain sebagai tukaran Max 8 yang sudah dipesan.

Dalam perkembangan paling akhir diutarakan, FAA akan mengadakan pertemuan dengan para pemangku kepentingan dari berbagai negara pad 23 Mei 2019. Dalam pertemuan itu para peserta akan diberi penjelasan tentang hasil analisa keamanan FAA. Sekalian juga memberitahukan  keputusan FAA untuk mengizinkan B-737-Max 8 kembali mengudara di AS, pertengahan tahun ini. 

Wakil maskapai Cina, Badan Keamanan Penerbangan Eropa, Kanada, Brasil, Australia, Jepang, Indonesia, Singapura an Uni Emirat Arab tampaknya akan ikut dalam pertemuan tersebut. Belum diketahui apakah ada kenaikan harga saham Boeing sebagai tanggapan atas rencana pertemuan tersebut.

 

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar