Yamaha Aerox

Bandung Baheula: Masjid Mungsolkanas, Masjid Tertua di Bandung

  Sabtu, 18 Mei 2019   Anya Dellanita
Masjid Mungsolkanas. (Anya Dellanita/ayobandung.com)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Jika berbicara tentang perkembangan Islam di kota Bandung, kebanyakan orang pasti akan menyebut Masjid Agung Alun-alun atau Masjid Besar Cipaganti sebagai masjid bersejarah di Bandung. Namun, tidak banyak yang menyebut nama Masjid Mungsolkanas. Padahal, masjid inilah masjid tertua di Bandung.

Memang, letak Masjid Mungsolkanas tidak sestrategis masjid-masjid bersejarah lain. Letaknya yang berada di gang membuatnya seringkali tidak terlihat orang banyak. Masjid yang berlokasi di sebuah gang kecil di kawasan Cihampelas ini berdiri sejak 1869, san membuatnya menjadi masjid tertua di kota Bandung. 

Nama Mungsolknas sendiri terbilang jarang dijadikan nama masjid, yang biasanya dalam bahasa Arab. Tak jarang yang mengira nama ini adalah nama jalan tempat masjid ini berdiri. Padahal, nyatanya tidak begitu 

"Mungsolkanas itu sebenarnya singkatan dari kata 'Mangga Urang Solawat ka Nabi SAW'. Namanya dari dulu begini. Pemberian Mama Aden alias R. Suradimadja alias Abdurohim," ujar Sekretaris DKM Masjid Mungsolkanas, Dedy Priyatna di sela-sela acara Ngabuburit Bareng Ulin Bandoeng beberapa waktu yang lalu.

Menurut Dedy, nama tersebut diambil dari filosofi doa di dalam kitab Tankibulkaul yang berarti setiap orang yang membaca dan mengamalkan solawat Nabi SAW Insya Allah doanya akan terkabul. Dedy juga menceritakan tentang sejarah awal bentuk bangunan tersebut hingga menjadi seperti sekarang. Ternyata, dulu masjid ini hanya berupa tajug sederhana.

"Dulu sebelum jadi begini cuma tajug aja. Bentuk bangunannya berupa kobong dan panggungnya terbuat dari bilik," kata Dedy.

Dedy mengatakan, bangunan masjid ini didirikan di atas lahan yang diwakafkan oleh Lantenas, nenek dari seorang bernama Zakaria, yang merupakan pengurus pertama masjid ini. Lantenas seorang janda dari R. Suradipura, Camat Lengkong Sukabumi yang wafat pada 1869. 

Dikutip dari tulisan milik Apriliya Oktavianti dari situsbudaya.id, tanah yang dimiliki Lantenas saat itu terbilang sangat luas, yakni mulai dari Jalan Plesiran sampai Gandok (Jalan Siliwangi) Bandung.

Lahan pemandian Cihampelas dan pabrik daging yang sekarang telah berubah menjadi pusat belanja Cihampelas Walk juga merupakan milik Lantenas. Janda kaya ini wafat pada 1921, tepat pada usia 80 tahun.

Menurut Dedy, tajug yang telah berdiri lebih dari 140 tahun itu pertama kali dipugar menjadi masjid pada 1933, hampir bersamaan saat Wolf Schoemaker memugar Masjid Kaum Cipaganti. Namun, ada perbedaan, yakni Mungsolkanas dipugar atas biaya dan inisiatif Mama Aden, sedangkan Masjid Kaum Cipaganti dibiayai oleh pemerintah kolonial Belanda.

Nah, menurut salah satu pengurus pasca kemerdekaan, Zakaria, Masjid Cipaganti juga dulunya merupakan tajug dan dibangun oleh Mohammad Tabri, yang juga leluhurnya. Setelah Masjid Cipaganti dipugar oleh Schoemaker, jamaah yang biasa solat di Cipaganti untuk sementara pindah tempat ke Mungsolkanas. 

Untuk pemugaran besar-besaran, terjadi pada 1994. Setelah Masjid Kaum Cipaganti selesai dibangun, Mama Aden, yang saat itu menjadi imam dan khotib di Mungsolkanas, mengusulkan seorang ulama bernama Juanda kepada Bupati Bandung untuk memimpin Masjid Cipaganti. 

"Usulannya diterima oleh bupati. Setelah diuji terus lulus, Juanda menjadi imam Mesjid Kaum Cipaganti. Namun, akhirnya dia dipindahka menjadi imam Masjid Ujungberung, sampai wafatnya di tahun 1935," tutur Dedy.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar