Yamaha NMax

Begini Cara Gunakan AED, Perangkat Pacu Jantung Portabel

  Kamis, 16 Mei 2019   M. Naufal Hafizh
Perawat sedang mempraktikan penggunaan AED. (Alya Dinda/Ayobandung.com)

SUKAJADI, AYOBANDUNG.COM—Automated External Defibrillator (AED) merupakan alat stimulasi detak jantung portabel dengan listrik bertegangan tinggi. Alat ini merupakan perangkat pertolongan pertama terhadap penderita penyakit jantung yang tidak sadarkan diri. 

Layaknya perangkat pacu jantung, AED membantu mengembalikan irama detak jantung kembali normal melalui sengatan listrik. Alat ini memiliki perangkat elektronik yang mengalirkan sengatan listrik melalui kabel dan bantalan stiker yang ditempelkan pada dada korban.

kepala IGD Rumah Sakit Hasan Sadikin Doddy Tavianto menegaskan, produk AED banyak jenisnya di pasaran. Namun, semua fungsinya sama. AED juga dilengkapi instruksi penggunaan dengan audio untuk mempermudah masyarakat awam. 

Banyak mereknya, tapi intinya ialah fungsinya sama, hanya mereknya saja yang berbeda-beda. Semua orang awam itu bisa mempergunakannya. Kenapa? Karena di sini (AED) nanti akan mengeluarkan suara untuk apa yang harus dilakukan, ujar Doddy, Kamis (16/05/2019) di IGD Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung.

Instruksi audio yang terinstal dalam perangkat AED ini tersedia dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Perangkat AED memiliki instruksi yang singkat dan jelas mengenai petunjuk penggunaannya. 

Kita tinggal mengikuti perintah yang dikeluarkan alat ini (AED). Dia akan memerintahkan langkah yang harus diikuti untuk memberikan pertolongan pertama, jadi mudah sekali digunakan siapa pun, tambahnya.

AYO BACA : Stres Picu Risiko Penyakit Jantung

Berikut ini langkah-langkah menggunakan perangkat AED pada korban penyakit jantung:

1. Periksa respons dengan menepuk-nepuk bahu korban sambil berbicara dengan suara keras untuk mengembalikan kesadaran korban. Kemudian, periksa detak nadinya. Jika korban benar-benar tidak sadarkan diri, perintahkan orang lain untuk mengambil perangkat AED dan memanggil ambulans.

2. Sembari menunggu perangkat AED tersedia, kondisikan korban dalam posisi berbaring. Perangkat AED hanya bisa bekerja jika korban berada di posisi ini. Pastikan juga korban berbaring di keadaan yang aman agar tidak membahayakan keselamatan korban maupun penyelamat. Jangan membaringkan korban di tempat yang memiliki aliran listrik serta tanggalkan segala atribut korban yang memicu sengatan listrik seperti logam. Jika perlu, gunakan gunting untuk menanggalkan pakaian korban untuk mempermudah memasang perangkat AED.

3. Terus lakukan tindakan CPR dengan teknik kompresi dada sampai perangkat AED tersedia. Kompresi dada memerlukan tenaga yang besar dan cepat sehingga Anda harus menggunakan berat badan Anda agar jantung korban tetap dapat memompa darah ke seluruh tubuh. Anda harus berganti giliran ketika melakukan teknik kompresi dada, karena tindakan ini sangat menguras tenaga dan harus dilakukan tanpa henti sampai korban mendapat penanganan medis yang memadai.

4. Ketika perangkat AED sudah di tangan, segera menyalakan perangkat dengan menekan tombol ON. Perangkat akan segera mengeluarkan instruksi melalui audio sehingga Anda sebagai penyelamat harus berkonsentrasi mengikutinya. 

5. Selanjutnya, sambungkan kabel serta pad pada perangkat elektronik AED. Tempelkan pad yang dilengkapi stiker pada dada korban dan pastikan pad menempel kuat di kulit dada korban. Jika dada korban basah karena keringat atau air, keringkan dengan handuk terlebih dahulu.

AYO BACA : Gaya Hidup Tak Sehat Jadi Pemicu Sakit Jantung di Usia 30-an

6. AED kemudian akan memeriksa kondisi detak jantung korban. Jika instruksi audio perangkat menyerukan Don't Touch Patient Analyzing!, jangan ada satu pun penyelamat yang menyentuh korban. AED akan memutuskan bila korban membutuhkan sengatan listrik atau tidak dengan menganalisa detak jantung korban. 

7. Ketika AED menyerukan perintah Shocking Advised!, tekan tombol shock. AED akan mengalirkan sengatan listrik ke jantung korban. Namun sebelum mengaktifkan tombol sengatan listrik, pastikan sekali lagi tidak ada yang menyentuh korban. Karena jika bersentuhan saat pemberian sengatan berlangsung, Anda bisa ikut terkena sengatan listrik. 

8. Bila pertolongan dengan perangkat AED ini berhasil membuat korban kembali bernafas dan sadarkan diri, AED akan memerintahkan penolong untuk kembali melanjutkan tindakan CPR. Perangkat ini akan menyerukan perintah Continue CPR!.

9. Penolong harus terus melanjutkan langkah yang sama sesuai dengan instruksi AED sampai pertolongan paramedik memgambil alih tindakan pertolongan pertama.

10. Perlu diingat, AED tidak akan memberikan instruksi untuk menghentikan tindakan CPR dan memberitahu penolong jika detak jantung korban berhenti terdeteksi. AED akan terus memerintahkan penolong untuk tidak menghentikan tindakan CPR agar tidak berhenti berusaha memgembalikan korban sadarkan diri.

Pada kenyataannya, AED telah banyak tersedia di tempat umum seperti bandara, rumah sakit, dan pusat keramaian di Indonesia. Namun, pemahaman mengenai penggunaan AED di masyarakat awam masih sangat rendah. Akibatnya, sebagian besar masyarakat Indonesia kurang tanggap memberi pertolongan pertama terhadap penderita penyakit jantung di situasi darurat. Pada kenyataan di lapangan, sangat sedikit korban yang mendapatkan Bantuan Hidup Dasar (BHD). 

Pemahaman mengenai penggunaan AED ini penting untuk diterapkan di setiap kalangan masyarakat. Seharusnya dari sejak dini, bahkan kalau bisa diadaptasi dalam kurikulum pendidikan sekolah, ujar Koordinator Tim Code Blue Rumah Sakit Hasan Sadikin Gezy Wieta.

AED merupakan salah satu perangkat penunjang BHD atau pertolongan pertama yang cukup efektif. Tindakan BHD yang diberikan secepat mungkin terbukti dapat meningkatkan kemungkinan hidup seseorang setelah mengalami henti jantung. Apabila tidak mendapatkan BHD, prognosis pasien yang menderita henti jantung memburuk 7-10% tiap menit. (Alya Dinda)

AYO BACA : Ciri Sakit Dada karena Penyakit Jantung, Keringat Dingin sampai Mual

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar