Yamaha Lexi

Kisah dari Salah Satu Kampung Penghasil Timun Suri Terbesar

  Kamis, 16 Mei 2019   Ananda Muhammad Firdaus
Markoli dan Karniawati selepas memanen timun suri di kebun yang mereka garap di Desa Srijaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. (Ananda M. Firdaus/Ayobandung.com)

TAMBUN UTARAAYOBANDUNG.COM—Timun suri, buah musiman yang menjadi primadona kudapan sup buah di bulan Ramadan, sudah tak asing dicicipi setiap orang. Di balik itu, ada perjuangan para petani yang menanam sampai memanennya. 

Di Kabupaten Bekasi, tepatnya di Kampung Gabus, Desa Srijaya, Kecamatan Tambun Utara, pedagang timun suri mudah ditemui. Sepanjang Jalan Haji Nausan, misalnya, warga setempat tampak menjajakan timun suri di depan jalanan. 

Namun, di balik jalan raya tersebut, terhampar berhektare-hektare kebun timun suri. Karenanya, kampung ini menjadi salah satu daerah terbesar pemasok timun suri saat Ramadan di Jawa Barat. 

"Memang terbesar, kita bisa ngirim sampai ke mana-mana. Ke Cikarang, Cibitung, Kota Bekasi, Karawang, Bandung, bahkan Jakarta," ujar salah seorang petani, Markoli (49), saat ditemui di sela memanen timun suri di kebunnya, Kamis (16/5/2019).

AYO BACA : 5 Menu Buka Puasa yang Paling Diburu Urang Bandung

Markoli sudah menjadi petani timun suri sekira delapan tahun. Dia didampingi istrinya, Karniawati (45), menanam dan memanen timur suri itu tiap tahunnya. 

Dia pribadi tidak mempunyai tanah resmi. Hanya saja diizinkan menggarap tanah milik orang lain di lahan milik perumahan setempat, kurang lebih 5.000 meter persegi. "Walau sedikit, tapi untung. Bisa kerja," ujarnya. 

Markoli mengungkapkan, rata-rata masyarakat Kampung Gabus berprofesi sebagai petani. Biasanya tanah di kampungnya digarap untuk tananam seperti bayam, palawija, sawi, dan timun suri. 

Tiap tanaman digarap bergantian tergantung musim. Sementara itu, khusus timun suri, ia menamannya antara satu sampai satu setengah bulan sebelum Ramadan. 

AYO BACA : Patut Dicoba, Ini 5 Minuman Tradisional Bandung untuk Buka Puasa

Ada tiga jenis timun suri yang ditanamnya, yaitu timun suri Taiwan, timun suri Paris, dan timun suri manohara. Tiap timun suri mempunyai karakter tersendiri. Namun, yang paling laku di pasar yakni timun suri Taiwan dan Paris. Bentunya yang bulat, besar, dan berwarna mencolok menjadi keunggulannya. 

"Rata-rata timun suri usianya 45-60 hari tanam, baru bisa dipanen. Jadi, kemarin antara Maret-April kita menanamnya, jadi sekarang tinggal panen terus dijual," jelasnya. 

Ketika masuk masanya itu, untuk ukuran kebun sekitar 2.000 meter persegi, timun suri yang dapat dipanen sampai empat kali. Rata-rata dari ukuran kebun itu menghasilkan mencapai 15 kuintal lebih. 

Karena jumlahnya yang besar, Markoli biasa menjual timunnya kepada pemborong. Untuk harganya cukup murah namun sangat menguntungkan yakni Rp2.500-Rp5.000 untuk per kilogramnya. 

Ia mengungkapkan, ada sekitar 40 orang penggarap sepertinya yang tidak mempunyai tanah langsung. Namun, di sekitar Kampung Gabus, masih banyak warga-warga yang secara pribadi memanfaatkan tanah pribadi untuk menaman timun suri. 

"Memang di Kampung Gabus udah terkenal jadi penghasil timun suri. Kalau puasa, jalan juga berubah jadi warna kuning kaya timun suri, banyak yang jualan," pungkas Markoli. 

AYO BACA : Kuliner Jabar: Kue Tutug Oncom, Kue Kering yang Pedas

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar