Yamaha NMax

Dua Hal yang Perlahan Kikis Budaya Literasi Indonesia

  Kamis, 16 Mei 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Pengunjung membaca buku secara gratis yang disediakan aktivis literasi. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)

Seiring dengan teknologi yang terus berkembang, industri perfilman ikut mengalami kemajuan pesat. Melihat dari sejarah perfilman di Indonesia, film sudah mengalami kemajuan sejak 1998 hingga sekarang. Bahkan era ini dianggap sebagai era kebangkitan film nasional.

Dengan majunya teknologi, tentunya akan sangat mudah dalam perindrustrian film untuk menciptakan film yang berkualitas, yang akan terus menarik banyak peminat setiap tahunnya. Hal ini pastinya akan menjadi kabar baik bagi industri perfilman indonesia.

Namun, bagaimana dengan kemampuan literasi anak-anak Indonesia? Dibandingkan negara-negara lain di dunia, tingkat literasi anak-anak dan orang dewasa di Indonesia sangat rendah. Rendahnya literasi akan berdampak luas bagi kemajuan bangsa.

Melihat hal ini, pemerintah kemudian mengadakan banyak program untuk menumbuhkan kembali budaya literasi. Di beberapa sekolah, budaya literasi sudah sangat ditekankan, bahkan ada juga yang sudah menetapkannya sebagai program wajib. Siswa wajib membawa buku dan wajib membacanya selama minimal 10 menit dalam satu hari.

Apa sebenarnya yang membuat tingkat literasi Indonesia masih rendah? Melihat dari segi teknologi, semakin berkembang, semakin mudah pula bagi anak-anak Indonesia untuk mengakses banyak hal, sehingga semuanya terbilang menjadi praktis.

Contohnya, dengan adanya ponsel pintar, anak Indonesia dapat dengan mudah mendapatkan apa yang dicari, entah itu artikel ataupun video yang berisi banyak informasi. Hal ini membuat posisi buku kalah saing di kalangan masyarakat.

Kembali ke soal perfilman. Kita tahu film selalu memunculkan aktor yang memiliki peran yang mengikuti alur cerita. Hal tersebut membuat film dinilai lebih menarik dan lebih mudah dipahami, serta cenderung tidak membosankan.

Meski budaya menonton dan membaca jauh berbeda, tetapi menonton film dianggap bisa menimbulkan rasa malas untuk membaca. Hal ini terlihat dari lebih ramainya bioskop dibandingkan dengan toko buku dan perpustakaan. Padahal, industri perfilman juga sebenarnya tidak terlepas dari karya-karya sejumlah penulis yang ceritanya banyak diangkat ke layar lebar.

Bagi para pecinta novel, biasanya mereka selalu membaca sebuah novel terlebih dahulu hingga habis, lalu kemudian baru menontonnya jika novel tersebut dijadikan film. Namun, terkadang mereka sering kali merasa kurang puas dengan film yang disuguhkan, karena ceritanya dianggap berbeda dengan ketika mereka berimajinasi sambil membaca.

Hal tersebut menunjukkan bahwa membaca tidak selalu membosankan. Dengan membaca, otak akan berimajinasi dengan sangat luas mengikuti alur cerita dalam buku.

Selain itu, semakin banyak kita membaca, otak akan semakin sehat, karena dengan membaca otak akan dilatih untuk lebih aktif berpikir dan berimajinasi. Di sisi lain, budaya malas membaca justru akan berdampak buruk pada banyak hal. Contoh yang paling sering terjadi adalah salah dalam memahami informasi.

Sering kali orang keliru dalam memahami informasi yang tertera dalam sebuah gambar atau video. Terlebih lagi, di sosial media saat ini tidak sedikit berita-berita palsu bertebaran dan memprovokasi pikiran kita.

Teknologi dan film memang tidak bisa dijadikan alasan rendahnya budaya literasi Indonesia. Namun jika tidak kita waspadai sejak dini, budaya literasi akan semakin terkikis secara perlahan.

Dalam kasus ini, peran orang tua, guru, dan lingkungan sangat penting untuk menyongsong generasi baru agar lebih menyukai membaca, atau paling tidak seimbang antara tontonan dan bacaan. Hal ini juga menjadi tugas bagi para penulis di Indonesia untuk terus menciptakan karya karya hebat agar dapat menarik banyak kalangan masyarakat untuk membaca.

 

Rahma oktaviana

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar