Yamaha NMax

Lipkhas KPPS: Beban Petugas Pemilu Tidak Sederhana

  Rabu, 15 Mei 2019   Erika Lia
Seorang kerabat berdoa di depan makam Ketua KPPS 10 Desa Kaliwedi Lor, Kecamatan Kaliwedi, Kabupaten Cirebon, Kaelani, Senin (22/4/2019), yang meninggal dunia diduga akibat kelelahan selama bertugas dalam momen Pemilu 2019. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

SUMBER, AYOBANDUNG.COM—Beban kerja para petugas penyelenggara Pemilu 2019 diakui luar biasa berat. Butuh kajian medis atas meninggal maupun sakitnya petugas penyelenggara pemilu dalam proses gelaran pesta demokrasi ini.

Ketua KPU Kabupaten Cirebon Sopidi menyebutkan, sejauh ini jumlah petugas penyelenggara pemilu yang meninggal dunia di Kabupaten Cirebon mencapai 12 orang. Jumlah itu terdiri atas petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) maupun petugas Perlindungan Masyarakat (Linmas).

Yang sakit mencapai puluhan, ujarnya kepada Ayocirebon.com, Rabu (15/5/2019).

Baik yang sakit maupun korban meninggal, menurut Sopidi, masih membutuhkan pengkajian dari instansi terkait, dalam hal ini Dinas Kesehatan setempat ihwal musababnya. Dia menyebut, harus ada kepastian medis atas kondisi kesehatan yang dialami para petugas penyelenggara pemilu itu.

Korelatif dengan tugas kepemiluan atau ada faktor lain di luar itu, cetusnya.

Namun dia tak menampik, tugas penyelenggara pemilu di lapangan tergolong sangat berat. Sedikitnya 26 jam seorang petugas penyelenggara pemilu harus menjalankan tugasnya.

Dimulai pukul 06.00 WIB sampai 00.00 WIB. Kalau sampai pukul 00.00 WIB belum selesai, dilanjutkan esok hari, tuturnya.

AYO BACA : Lipkhas KPPS: Pemilu 2019, Amanat Negara dan Beban yang Tak Manusiawi

Karena itu, dia mengakui, dibutuhkan stamina kuat dan daya tahan tubuh yang baik untuk mendukung pelaksanaan tugas kepemiluan secara fisik. Selain fisik, kondisi nonfisik para petugas pun dituntut prima mengingat adanya tekanan-tekanan dari banyak pihak saat menjalankan tugas.

Tak berhenti pada proses penghitungan, tenaga para petugas penyelenggara pemilu pun terkuras sampai setelah penghitungan. Menurutnya, proses administrasi yang harus dipenuhi para petugas penyelenggara pemilu setelah penghitungan suara bahkan mencapai ratusan kali, yang salah satunya meliputi penyesuaian isi dokumen.

Beratnya beban kerja penyelenggara pemilu, diklaimnya, telah diprediksi. Namun, pihaknya tak menyangka beban kerja itu akan menimbulkan korban jiwa maupun petugas yang sakit.

Kami tidak menyangka (ada petugas meninggal dan sakit). Tapi memang, beban kerja luar biasa berat dan itu diprediksi dari awal, bebernya.

Atas kondisi itu, dia menyatakan keprihatinan pihaknya. Secara formal, pihaknya tidak menyediakan anggaran untuk santunan terhadap para korban meninggal dunia, mengingat kejadian itu tak disangka.

Namun, tegasnya, secara kelembagaan KPU Kabupaten Cirebon telah menyampaikan kepada KPU RI atas kondisi tersebut dan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan.

Sejauh ini, Pemerintah Kabupaten Cirebon sendiri telah menyerahkan santunan bagi keluarga dari ke-12 petugas penyelenggara pemilu yang meninggal dunia. Menurut Sopidi, hal itu sesuai ketentuan yang menyatakan pemerintah daerah wajib memfasilitasi kelancaran penyelenggaraan pemilu.

AYO BACA : Lipkhas KPPS: Penyakit Bawaan dan Kelelahan Merenggut Ratusan Nyawa

Sebetulnya, sebelum penyelenggaran pemilu itu ada upaya pemberian asuransi. Tapi kemudian tidak ada, sehingga benar-benar mereka (petugas penyelenggara pemilu) itu semacam relawan dengan tugas luar biasa, tuturnya.

Beratnya beban kerja petugas penyelenggara pemilu diakui salah satu anggota keluarga petugas penyelenggara pemilu yang meninggal dunia. Satrio Widodo (30), putra sulung Ngadiono Supa'at, Ketua KPPS 13 Desa Kecomberan, Kecamatan talun, Kabupaten Cirebon, sebagai salah satu petugas penyelenggara pemilu yang meninggal dunia mengungkapkan, Pemilu 2019 harus dijadikan pelajaran berharga.

Dia mengharapkan kejadian serupa tak terulang pada pesta demokrasi berikutnya, bahkan berlangsung lebih baik.

(Pemilu) diubah lebih baik karena ini (Pemilu 2019) makan korban sampai sekitar 500 orang (nasional), ungkapnya setelah menerima santunan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon di Kantor Bupati Cirebon, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, pada 10 Mei lalu.

Proses Pemilu 2019 bisa jadi begitu melelahkan karena seingatnya, sang ayah tak tidur selama sekitar dua hari. Almarhum Ngadiono, disebutnya, mengalami kelelahan fisik.

(Proses pemilu) menguras tenaga (ayah) ya. Makanya saya harap dievaluasi agar lebih baik, cetusnya.

Penjabat Bupati Cirebon Dicky Saromi yang juga Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Provinsi Jawa Barat saat pemberian santunan bagi keluarga petugas penyelenggara pemilu yang meninggal dunia menyebutkan, jumlah petugas Kabupaten Cirebon yang meninggal dunia mencapai 12 orang.

Para petugas lain yang meninggal itu di antaranya Ketua KPPS 13 Desa Kecomberan, Kecamatan talun, Ngadiono Supa'at, Ketua KPPS 10 Desa Kaliwedi Lor, Kecamatan Kaliwedi, Kaelani, dan anggota KPPS TPS 05 Desa Silihasih, Kecamatan Pabedilan, Sutardi. Tak hanya petugas KPPS, petugas Linmas pun meninggal dunia usai bertugas mengamankan TPS, masing-masing atas nama Samsudin di TPS 15 Desa Pilangsari, Kecamatan Kedawung, Sarmadi di TPS 12 Desa Beberan, Kecamatan Palimanan, Tarki di TPS 5 Desa Karanganyar, Kecamatan Panguragan, dan Sumadi di TPS 4 Desa Kepunduan, Kecamatan Dukupuntang.

Data kami 12 orang meninggal dunia, katanya seraya menolak menyebutkan nilai santunan yang diberikan pada 10 Mei lalu.

Dalam kesempatan itu, dia enggan mengomentari pelaksanaan Pemilu 2019 yang diakuinya memakan korban. Dicky hanya menekankan rasa syukurnya atas pelaksanaan pemilu yang berjalan aman, damai, dan lancar.

AYO BACA : Lipkhas KPPS: Syarat Kesehatan Jangan Hanya di Atas Kertas

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar