Yamaha NMax

Perang Dagang AS-Tiongkok Sampai Kapan?

  Rabu, 15 Mei 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi perang dagang Tiongkok lawan Amerika Serikat. (Youtube.com)

Sejalan dengan semangat America First, Washington menuntut Tiongkok membeli lebih banyak produk-produk buatan AS guna mengurangi defisit perdagangan yang telah menahun. Sebagai contoh, AS mengimpor produk dari Tiongkok senilai US$539.5 milyar pada 2018, dibandingkan dengan US$505.5 milyar pada tahun sebelumnya. Adapun ekspor barang-barang AS senilai US$ 120.3 milyar pada 2018 atau turun dari hampir US$130 milyar pada 2017. Defisitnya sangat besar.

Impor Amerika Serikat sebagian besar terdiri dari komputer, peralatan komunikasi, pakaian jadi dan alas kaki. Adapun ekspornya kebanyakan pesawat terbang,kedelai dan mobil.

Tiongkok memperoleh surplus dari tahun ke tahun karena dapat memproduksi produk konsumsi dengan biaya rendah. Hal tersebut dimungkinkan karena standar kehidupan yang rendah membuat perusahaan dapat memberi upah buruh yang murah pula. Diragukan buruh akan menuntut kenaikan upah karena pemerintah bisa bertindak represif.

Di samping berkat biaya produksi yang rendah, kurs yuan yang relatif stabil terhadap dolar US$ juga memperkuat daya daya saing produk di pasaran internasional. Pemerintah mengkaitkan matauang yuan dengan sekeranjang mata uang termasuk dolar AS.

Bila dolar melemah terhadap yuan, maka Tiongkok akan membeli surat utang yang diterbitkan Kementerian Keuangan AS hingga US$ menguat lagi. Strategi ini kemudian ditinggalkan dan nilai yuan ditentukan oleh kekuatan pasar. Ternyata, AS masih saja mengalami defisit perdagangan dengan Tiongkok.

AYO BACA : Hubungan Kata Idiot dengan Donald Trump

Sikap Keras

Trump bersama Menlu Mike Pompeo dan Penasehat Urusan Keamanan Nasional John Robert Bolton menekan Tiongkok agar menurunkan defisit perdagangan. Tuntutan ini disertai kenaikan tarif sebesar 25 % terhadap produk baja impor dan 10% atas produk alumunium mulai 1 Maret 2018. Tiga bulan kemudian , kenaikan itu memengaruhi impor Tiongkok hingga US$34 milyar. Beijing membalas dengan membatalkan semua kontrak pembelian kacang kedelai.

Selain itu, AS menuntut Tiongkok menghapuskan ketentuan alih teknologi bagi perusahaan yang ingin memasuki pasar domestik Tiongkok, serta menaikkan nilai yuan yang telah undervalued terhadap dolar AS sebanyak 15-40%.

Menyesalkan

Kebijaksanaan Trump yang bernegosiasi tanpa menyediakan ruang kompromi, disesalkan berbagai pihak termasuk di AS sendiri. Tiongkok bukan seperti negara lain yang tunduk sebelum berunding.

AYO BACA : ‘Follower’ Hilang, Donald Trump Mengeluh Kepada CEO Twitter

Beijing, dewasa ini menguasai 28% dari total surat utang yang diterbitkan Kementerian Keuangan AS yakni sebesar US$1,12 triliun. Ini berarti kreditur terbesar. Bagaimana jika Beijing menggunakan Treasury Notes tersebut untuk melancarkan serangan balik?

Sejak 2013, Beijing gencar mempromosikan program One Belt One Road (OBOR). Program ini berhasil menarik 65 negara, termasuk Italia, satu-satunya anggota NATO yang turut serta.

OBOR sejauh ini terkait dengan infrastruktur, investasi dan perdagangan saja. Bagaimana jika kemudian diperluas dengan memperbanyak penggunaan yuan dalam sekalian transaksinya? Suatu tindakan yang meredusir peran dolar. 

Trump mengabaikan fakta bangsa Tiongkok memiliki nasionalisme tinggi dan telah mengalami pergolakan domestik yang panjang, mulai periode kekaisaran hingga masa Mao Zedong. Oleh sebab itu menggoda Tiongkok dengan kebijaksanaan yang berdampak memalukan, tak akan ditolerir.

Trump benar ketika menyatakan, ketegangan yang memuncak menyebabkan perusahaan-perusahaan AS meninggalkan Tiongkok ke negara lain, termasuk Vietnam. Tetapi kepergian itu disebabkan konsumen Tiongkok tidak membeli lagi produk-produk mereka. Konsumen tersinggung dengan ucapan Trump yang konfrontatif.

Kondisi hubungan AS-Tiongkok saat ini, seperti membuka peluang membalas perlakuan buruk bangsa Eropa (Barat) dalam perang Candu. Ketika itu orang-orang Tiongkok ditipu, diperdaya dan dipermalukan dengan candu. Kelakuan bangsa Barat tersebut diingat sampai sekarang.

Banyak pihak menyebut, konflik dagang kedua negara memberi peluang bagi Indonesia. Entahlah!

Farid Khalidi

AYO BACA : Perang Dagang AS-China Membahayakan Jawa Barat?

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar