Yamaha Mio S

Lipkhas KPPS: Beban Kerja Sangat Melelahkan, Energi Terkuras

  Rabu, 15 Mei 2019   Mildan Abdalloh
Grafis Pilpres 2019.(Attia)

SOREANG, AYOBANDUNG.COM--Pemilu 2019 bisa disebut yang paling berdarah dalam sejarah pemilihan di Indonesia. Bukan karena konflik horizontal, melainkan banyak petugas penyelenggara pemilu di lapangan seperti kelompok panitia pemungutan suara (KPPS) maupun pengawas TPS yang meninggal dunia.

Sebagian besar, KPPS atau PTPS yang meninggal dunia dikarenakan faktor kelelahan. Kinerja petugas pemilihan di tingkat paling bawah tersebut, memang terdapat perubahan signifikan dibanding dengan pemilu sebelum-sebelumnya.

Dengan penambahan surat suara yang harus dihitung, KPPS mempunyai tambahan beban kerja. Bahkan proses penghitungan bisa berlangsung sampai dini hari.

"Sangat melelahkan, tanpa henti harus bekerja dari pagi sampai pagi lagi," tutur Erik, salah seorang anggota KPPS di Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Rabu (15/5/2019).

Jika kondisi tubuh yang kurang fit, kelelahan sangat dimungkinkan terjadi. Terlebih tugas dari KPPS bukan hanya melakukan prosea pungut hitung suara. Tetapi juga harus mendirikan TPS dan menjemput logistik dari PPS.

"Sejak dilantik 7 hari sebelum proses pemungutan suara, petugas KPPS harus mengikuti bimbingan teknis. Sebelum hari H juga energinya sudah terkuras," ujar Ketua KPU Kabupaten Bandung, Agus Baroya.

KPU RI sebenarnya telah melakukan upaya pencegahan kelelahan. Seperti pembangunan TPS didorong supaya bisa beres pada pukul 16.00 sebelum hari H. Hal tersebut bertujuan supaya KPPS mempunyai banyak waktu untuk beristirahat dan bisa bekerja dalam keadaan segar besok harinya 

Namun, kendala lapangan, banyak petugas KPPS yang mempunyai pekerjaan lain. Sementara pemerintah hanya meliburkan pada hari pencoblosan, sehingga banyak petugas KPPS yang baru mendirikan TPS pada malam hari dan baru rampung dini hari. Sementara, subuh mereka harus bekerja dengan mempersiapkan diri di TPS.

"Akhirnya banyak yang begadang. Jadi H-1 energinya telah terkuras. Pagi-pagi harus langsung bekerja untuk pemungutan suara," ujarnya.

Tidak heran, jika petugas KPPS banyak yang mengalami kelelahan bahan ada yang sampai meninggal dunia.

Ironisnya, dengan beban kerja yang rentan terhadap kelelahan. KPPS hanya mendapat gaji tidak seberapa. Bahkan tanpa adanya pemberian asuransi.

Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf mendorong kedepan jika pemilu harus dilakukan secara serentak kembali seperti saat ini, maka KPPS bisa mendapat asuransi.

"Beban kerjanya kan berat, jadi sebaiknya harus ada asuransi," ujarnya.

Dede berpendapat, pemilu sebaiknya tidak dilakukan secara bersamaan, terutama pileg dan pilpres. 

"Sebaiknya kembali dipisah. Misal pileg dulu, baru tiga bulan kemudian pilpres," ujarnyan

Bukan hanya bisa mencegah korban jiwa KPPS yang kelelahan meninggal dunia, tetapi juga supaya bisa menghasilkan pilihan politik terbaik.

Dengan pemilihan dilakukan bersamaan antara pileg dan pilpres, partai politik banyak yang terfokus pada kampanye capres dan cawapres. Pun dengan masyarakat yang hanya terfokus untuk menentukan pilihan calon pemimpin, sementara calon wakil di parlemen seolah terlupakan.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar