Yamaha NMax

Heboh Pelecehan Seksual Driver Grab, Komnas Perempuan: Perlindungan Aplikator Lemah

  Rabu, 15 Mei 2019   Faqih Rohman
Ilustrasi ojek online: Calon penumpang menunjukan tarif ojek daring di Jakarta, Kamis (2/5/2019).(Antara)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Komnas Perempuan menilai pelecehan penumpang perempuan Grab oleh pengemudi mitra yang terus berulang, merupakan buntut dari tanggung jawab parsial operator yang lemah. Dari kejadian, seharusnya terjadi pembenahan yang sistematis dan menyeluruh.

Pelecehan tersebut ramai diperbincangkan di sosial media, khususnya twitter dalam beberapa hari terakhir. Terhitung 13-14 Mei 2019, terlihat percakapan (mention dan retweeted) terkait pelecehan tersebut mencapai 135 postingan.

Kasus itu bermula dengan seorang gadis, penumpang Grab, mengaku mengalami perlakuan pelecehan seksual. Pada 11 Mei, temannya bernama Sarah Noer pemilik akun twitter @noergasme, menayangkan kronologis kejadian yang menimpa si gadis.

Unggahan berupa tangkapan layar komunikasi antara Sarah dan temannya yang jadi korban tersebut menjelaskan, ada kerentanan bagi penumpang wanita sebagai pengguna Grab.  Dalam tangkapan layar yang diunggah pada akun twitter tersebut, secara jelas ada identitas akun sang pengemudi berinisial AS.

Berdasarkan informasi tersebut, korban sebenarnya telah mengendus gelagat tak baik dari pengemudi. Sepanjang jalan, pengemudi Grab itu dengan sengaja memainkan rem, agar dada penumpang menempel ke punggung si pelaku.

Singkat cerita, korban memilih turun sebelum sampai tujuan. Nahas, sewaktu korban berjalan kaki tak jauh dari titik turun, pelaku dengan mengendarai sepeda motornya, malah meremas payudara korban.

Segera Respons

AYO BACA : Regulasi Luput Atur Promo, Perang Tarif Ojol Harus Disetop

Kejadian inipun telah direspons Grab. Akun GrabId, “Terima kasih atas data yang kakak berikan, kami akan segera melakukan pengecekan terkait hal ini,” balas tweet kepada Sarah Noer.

Sarah Noer memperingatkan bahwa kejadian yang menimpa rekannya bukan kali pertama. “Bukan pertama, bukan kali kedua. Sistem kalian yang mesti kalian ubah,” sergahnya.

Peristiwa yang seringkali menimpa penumpang Grab itupun dibenarkan Komisi Nasional untuk Perempuan (Komnas Perempuan). 

Menurut Pengampu Komnas Perempuan Imam Nakha’i, sejauh ini perlindungan konsumen dari aplikator lemah.

Dia mengutarakan selama ini, aplikator tidak melakukan perubahan secara menyeluruh untuk meningkatkan perlindungan konsumen perempuan. 

“Jika terjadi pelecehan, terhadap pelaku, hanya dikeluarkan saja akunnya. Selebihnya korban yang menanggung,” tegasnya.

Imam mengungkapkan sebenarnya kejadian seperti yang menimpat penumpang perempuan dari Grab, bisa dicegah. Pasalnya, kejadian serupa bukan pertama kali muncul.

AYO BACA : Bisnis Ojol Terancam Beleid Pemerintah

“Dari Komnas , kami mendorong aplikator juga membenahi sistem penerimaan pengemudi mitra. Harus mereka awasi, kaji, dan evaluasi siapa calon pengemudi, rekam jejak seperti apa,” ungkapnya.

Di sisi lain, Imam melanjutkan tindakan pelecehan juga bersumber dari paradigma pelaku yang salah.

“Relasi kekuasaan, dominasi, yang ada di kepala pelaku juga harus dibenahi,” tegas Imam.

Grab Sesalkan Pelecehan Seksual

Manajemen Grab menyesalkan dugaan pelecehan seksual oleh mitra pengemudi Grab yang dilaporkan pada 12 Mei 2019 dan sudah langsung menindaklanjuti laporan pelapor berdasarkan prosedur perusahaan. 

"Sesuai dengan kebijakan kami, Grab tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk tindak kekerasan dan pelecehan. Maka kami telah menonaktifkan akun mitra pengemudi tersebut segera setelah mendapat laporan guna menginvestigasi dugaan yang dituduhkan," ujar Head of Public Affairs Grab Indonesia, Tri Sukma Anreianno melalui keterangan kepada Ayobandung.com, Rabu (15/5/2019).

Grab juga telah berkomunikasi dengan penumpang yang bersangkutan dan menawarkan pendampingan bebas biaya dari Yayasan Pulih yang direkomendasikan oleh Komisi Nasional Anti-Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). 

Grab siap bekerja sama dengan pemerintah maupun aparat berwenang untuk penanganan kejadian ini, termasuk jika penumpang yang bersangkutan ingin menempuh jalur hukum.

"Grab telah aktif berkomunikasi dan menjalin kemitraan dengan Komnas Perempuan sejak akhir 2018 lalu untuk mendapatkan masukan-masukan strategis, dengan tujuan peningkatan komitmen dalam pencegahan kekerasan seksual," katanya. 

AYO BACA : Tarif Baru Mahal, Warganet Ancam Berhenti Pakai Ojol

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar