Yamaha NMax

Jasa Delivery, Romantika Mahasiswa dan Warga Lokal

  Selasa, 14 Mei 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Jasa delivery. (Foto: Fathiya Nanda Alyssa)

 “Duh, gerah, nih! Ck.. mana laper lagi! Pengen beli makan, tapi di luar panas banget. Delivery aja apa?” ujar Arfan, seorang mahasiswa Fikom Unpad kepada temannya di indekos. Setelahnya Arfan terlihat sedang mengotak-atik gawainya. Tidak lama berselang, sudah ada orang yang mengantarkan makanan pesanannya. Arfan dan temannya siap menyantap makanan kesukaan mereka, hanya dengan merogoh kocek tambahan sebesar Rp6000 - Rp8000 saja. Mereka pun hanya santai di kosan, tak perlu berpanas-panasan.

Pengalaman seperti ini tentunya tidak hanya terjadi pada Arfan. Di luar sana banyak mahasiswa lain yang kerap dihinggapi malas untuk sekadar pergi keluar membeli makanan. Di era yang menuntut mobilitas yang tinggi, semuanya harus dilakukan dengan serbacepat, karena masyarakat tentu menginginkan segala sesuatu dapat dilakukan secara efisien dan praktis. Hal ini berlaku juga di wilayah pendidikan seperti Jatinangor. Karena itu, kehadiran jasa delivery menjadi salah satu solusi menjawab tuntutan mobilitas yang tinggi.

Dilansir oleh Kompas.com, Irwan M. Hidayana, antropolog dari FISIP Universitas Indonesia mengungkapkan bahwa delivery service kemudian menjadi kebutuhan karena orang semakin sibuk, di sisi lain kenyamanannya berkurang karena macet, waktunya berkurang, dan keamanan di jalan tidak terjamin. Delivery service menjadi cara untuk memenuhi kebutuhan dengan menawarkan kenyamanan.

Psikolog Unika Atma Jaya Jakarta, Agatha N Ardhianti M.Psi menambahkan, mahasiswa sekarang kebanyakan merupakan generasi Z yang terbiasa dengan segala sesuatu yang serbacepat atau instan.

Kebiasaan tersebut juga didorong dengan pesatnya teknologi yang berkembang. Jasa delivery termasuk salah satu bentuk layanan yang menyediakan kemudahan dan kepraktisan untuk mereka di tengah tuntutan mobilitas yang tinggi.

Jatinangor yang terkenal sebagai sebuah kawasan pendidikan, tercatat memiliki 4 institusi pendidikan besar, yakni Unpad, ITB, Ikopin, dan IPDN. Setiap tahunnya, ribuan mahasiswa baru datang berbondong-bondong ke Jatinangor untuk menuntut ilmu dan menggapai cita-cita. Dengan semakin padatnya hiruk-pikuk di Jatinangor, peluang usaha delivery akan bertumbuh subur.

PDKT dengan “Si Tukang Antar”

Hingga kini, sudah banyak jenis dan usaha jasa delivery yang hilir mudik di Jatinangor, mulai dari Kancil, Uwa Jafry, Octopus, Tolongin, Klik Delivery, Tanjidor, Jargo Delivery, Aksabiru on the Road, dan masih banyak lagi. Ada yang berhasil bertahan hingga sekarang, ada juga yang hanya sekadar numpang lewat (tidak bertahan lama) di industri jasa delivery ini. Namun, hal yang pasti, semuanya pernah hadir untuk membantu mahasiswa maupun warga lokal memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Kemunculan jasa delivery di Jatinangor tidak bisa dipastikan waktunya, tetapi mulai mencuri perhatian masyarakat Jatinangor setelah kembalinya Kancil pada 2015.

Saat itu, persaingan antar-jasa delivery masih cenderung sehat, mengingat belum banyak kompetitor dalam bidang yang sama. Otomatis Kancil menguasai hampir seluruh pasar delivery di wilayah Jatinangor.

Kesuksesan Kancil tidak berhenti ketika ia berhasil menjadi pionir usaha jasa delivery saja, sampai saat ini Kancil berhasil mengumpulkan lebih dari 19.000 adders pada aplikasi Line. Selain itu, Kancil telah mengeluarkan inovasi baru, terutama bagi jasa delivery di Jatinangor, yang sampai saat ini masih menuai pro dan kontra, yaitu peluncuran aplikasi kancil di google play stores dan ios.

Berselang dua tahun, tepatnya 2017, muncul kompetitor kuat bagi Kancil, yakni Tolongin. Tolongin yang awal mulanya bernama Run-Delivery, sampai saat ini telah berhasil mengumpulkan hampir 17.000 adders pada aplikasi Line. Bisa dibilang ini merupakan prestasi yang baik, karena jumlah adders Kancil dan Tolongin tidak jauh berbeda, mengingat Kancil lebih tua dua tahun dibandingkan Tolongin.

“Hingga saat ini, bisa dibilang saingan terberat kami adalah Kancil,” kata Muhammad Kamal Fauzi, CEO Tolongin ketika diwawancara di salah satu cafe & creative space di Jatinangor.

Di balik dominasi kedua merek jasa delivery di Jatinangor, muncul Klik Delivery sebagi kuda hitam di bisnis jasa delivery ini. Klik yang terhitung baru berjalan selama 3 bulan ini sudah berhasil menarik lebih dari 3000 adders pada aplikasi Line. Hal yang ditawarkan Klik kurang lebih sama dengan moda delivery lainnya, tetapi hingga saat ini bisa dibilang tarif yang diberikan Klik adalah yang paling murah di antara dua kompetitornya di atas.

“Tarif Klik Rp6000 sekali antar, Rp1000 untuk biaya administrasi sisanya untuk driver. Kami lebih murah bila dibandingkan dengan ongkir Tolongin dan Kancil yang berkisar pada angka Rp8000,” ucap Fakhrul Arifin, owner Klik Delivery, ketika diwawancarai di salah satu cafe kekinian di daerah Jatinangor.

Bukan Sekadar Mencari Cuan

Di tengah masa kesuksesan jasa delivery di Jatinangor, para pemilik usaha tidak terhanyut dalam kesuksesan yang berhasil mereka capai. Mereka tetap memegang teguh tujuan awal dibuatnya jasa delivery, yaitu untuk kepentingan masyarakat luas, bukan individu atau kelompok saja. Salah satu contohnya seperti tujuan awal dibuatnya Tolongin, yang dibuat karena sang pencetus, melihat adanya jarak sosial antara warga lokal dan mahasiswa.

“Awal mulanya Tolongin dibuat karena melihat ada gap antara warga lokal dengan mahasiswa. Karena itu kami berpikir untuk memberdayakan warga lokal agar berguna bagi mahasiswa, begitupun sebaliknya,” tutur Muhammad Kamal Fauzi sambil menyeruput ice matcha latte-nya.

Tujuan mulia ini rasanya tidak hanya dilakukan oleh Tolongin, jasa delivery lain tampaknya juga turut memiliki motivasi yang sama. Sama seperti Tolongin, Klik Delivery juga memaksimalkan driver dari warga lokal. Selain untuk mendekatkan warga lokal dengan mahasiswa, usaha delivery juga dapat digunakan sebagai mata pencaharian oleh warga lokal.

“Hingga saat ini Klik sudah memperkerjakan 40 driver lebih. 80% dari itu adalah warga lokal dan sisanya mahasiswa,” ungkap Fakhrul Arifin.

Selain membantu dari segi finansial sebagai mata pencaharian utama maupun sampingan, beberapa jasa delivery juga ikut andil dalam kegiatan sosial lainnya. Tolongin membuat inovasi ATM Makanan, yakni sebuah etalase yang ditaruh di depan rumah makan Hayuka yang sebelumnya sudah bekerja sama dengan Tolongin. Orang bebas menaruh makanan di etalase itu. Lalu makanan yang ada di etalase itu, bisa diambil secara bebas oleh siapa pun yang merasa membutuhkan.

“Kami buat ini ya agar orang-orang bisa saling membantu. Kami juga memperhatikan pihak-pihak lain seperti warga lokal dan ojek pangkalan. Kadang kalau ada lebih, kami suka bagi-bagi ke mereka, ya biar tahu kalau kamu menghargai mereka, biar sama-sama respek lah. Kan sama-sama mengantar jemput, bedanya kami tidak mengantar jemput orang, kami cuma antar jemput makanan atau barang,” ucap Muhammad Kamal Fauzi.

Berbeda dengan Tolongin, Klik melakukan aksi sosial melalui jalur lain. Salah satu contohnya aksi sosial yang mereka lakukan di bidang pendidikan. Mereka mengumpulkan buku-buku bacaan, kemudian disumbangkan ke sekolah-sekolah. Selain itu, bantuan sokongan finansial diberikan kepada sekolah yang membutuhkan.

Walaupun memiliki cara pengabdian kepada masyarakat yang berbeda, kedua contoh di atas cukup menjadi bukti bahwa usaha delivery tidak selamanya terpaku pada urusan keuntungan saja. Mereka juga memperhatikan keadaan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Jatinangor. Ini semua karena dibuatnya usaha delivery juga atas dasar kepedulian terhadap fenomena yang terjadi di dalam lingkungan Jatinangor, baik mahasiswa maupun warga lokal.

Rasa Malas Mengalahkan Segalanya

Pendapat orang terhadap jasa delivery cukup beragam. Ada yang suka menggunakan jasa delivery, ada yang tidak. Banyak alasan mereka menggunakan jasa delivery, banyak juga alasan mereka tidak sering menggunakan layanan delivery makanan maupun barang. Di era teknologi digital yang berkembang pesat, hanya dengan gawainya, mereka dapat memesan makanan atau jasa pengiriman barang melalui aplikasi delivery.

Beberapa alasan yang mendorong mereka untuk menggunakan jasa delivery, yaitu, pertama, karena jasa delivery membuat segalanya menjadi lebih mudah dan praktis. Mereka memesan makanan atau barang langsung diantar oleh driver sampai ke depan gerbang rumah. Jadi, jika mereka sedang mengerjakan tugas, tidak perlu memakan waktu untuk keluar dulu membeli makanan ketika merasa lapar. Mereka dapat mengerjakan pekerjaan lain sembari menunggu pesanannya datang.

Kedua, karena tidak memiliki kendaraan sendiri. Tempat makan yang jauh membuat mereka berpikir dua kali untuk jalan menempuh jarak yang lumayan jauh menuju tempat makan. Alasan ini terkadang berlaku juga untuk mereka yang ingin menikmati makanan restoran enak, tapi restorannya jauh dari rumah atau kosan. Mending pakai jasa delivery lalu nunggu di rumah, kan?

Nah, alasan ketiga ini merupakan alasan yang paling banyak digunakan para pengguna jasa delivery, yaitu malas.

Sebanyak 10 dari 22 orang memilih menggunakan jasa delivery karena mager atau males gerak. Ada juga yang malas jalan, malas keluar rumah atau kosan, dan malas masak. Budaya malas yang dianut oleh beberapa orang di Jatinangor khususnya, membuka peluang usaha yang menjanjikan untuk para penyedia jasa delivery.

Namun, tidak semua dari mereka suka menggunakan jasa delivery. 3 dari 22 orang tidak suka memesan makanan atau barang melalui jasa delivery. Menurut mereka, kekurangan dari jasa delivery yaitu, lama. Proses memesanan, menunggu orderan selesai, menunggu driver mengantar pesanan. Belum lagi kalau makanan yang dipesan habis, atau driver salah membeli pesanan. Ribet sih. Bagi yang tidak suka menunggu, mereka lebih memilih untuk pergi sendiri membeli makanan dan memasak di kosan atau di rumah.

Sebenarnya dua hal ini yang menjadi alasan yang berkesinambungan. Karena mereka menuntut pelayanan yang praktis dan cepat, satu driver yang menerima pesanan jadi mengambil lebih dari satu pesanan. Bukannya malah pelayanan yang cepat, malahan pelanggan jadi lebih lama menunggu. Belum lagi karena banyaknya pesanan yang diambil dalam satu kali jalan, driver terkadang salah memesan makanan mereka. Mungkin ini alasan bagi mereka yang memilih untuk tidak memesan makanan atau barang melalui jasa delivery.

Kemunculan Ojol

Awal mula Ojek Online (ojol) masuk ke Jatinangor, diwarnai dengan aksi pencegatan oleh para ojek pangkalan (opang). Mereka merasa masuknya ojol bisa membahayakan eksistensi mereka di kalangan mahasiswa yang ingin serbainstan. Kepraktisan dan harga yang lebih terjangkau membuat opang ketar-ketir mencari cara agar dapat bersaing.

Balas-membalas serangan pun pernah terjadi di antara keduanya. Puncaknya ketika beberapa pangkalan ojek dirusak oleh komunitas ojol yang merasa tidak terima dengan perlakuan semena-mena opang kepada ojol. Semenjak kejadian itu perjanjian pun telah dibuat antara ojol dengan opang. “Katanya sih ojol boleh nganter, tetapi tidak boleh menjemput penumpang di daerah yang ada opangnya, seperti Ciseke atau Caringin,” tutur Fauzi saat ditanya mengenai masuknya ojol di Jatinangor.

Masuknya ojol ke Jatinangor, tidak hanya menjadi kekhawatiran opang saja, tetapi juga menjadi kekhawatiran hampir semua usaha jasa delivery. Bagaimana tidak? Tarif yang ditawarkan Gojek atau Grab tentu lebih murah hampir dua kali lipat dibandingkan dengan rata-rata tarif delivery di Jatinangor, ditambah lagi dengan banyaknya promo yang diberikan kepada pelanggan jika membayar menggunakan moda pembayaran nontunai, seperti OVO dan Go pay. Jika dilihat dari segi ekonomis, tidak bisa dipungkiri masyarkat bisa berpindah hati dari jasa delivery lokal ke jasa delivery ojol.

Menurut Fakhrul, hal ini tidak bisa dipungkiri, karena memang investor ojol jauh lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan jasa delivery di Jatinangor, tetapi ia tidak merasa terganggu dengan adanya ojol.

“Sebenarnya balik lagi ke konsumen, di sini kan konsumen terbagi jadi dua, ada yang yang sering memesan gofood/grabfood, ada juga yang memesan delivery lokal seperti Klik. Merasa tersaingi ya pasti, tapi kalau soal memesan makanan, menurut saya konsumen lebih memilih Klik atau Tolongin, dibandingkan dengan gofood, karena bisa bebas beli di mana saja, kalau gofood kan cuma bisa memesan yang ada di aplikasi. Ya semuanya balik lagi sih ke konsumen,” tutur Fakhrul ketika membahas masalah ojol.

Pada dasarnya semuanya merupakan sarana delivery yang fungsinya membantu kita memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jadi, mau apapun bentuk dan jenis, semuanya dibuat demi kenyaman kita dalam kegiatan sehari-hari Yang berbeda mungkin hanya urusan tarif dan cara pemesanan. Semuanya kembali lagi ke diri kita sendiri, untuk memilih moda delivery apa yang ingin kita gunakan.

Jasa delivery saat ini sudah menjadi elemen yang tak terpisahkan dalam masyarakat, baik yang hanya beroperasi di wilayah Jatinangor seperti Kancil, Tolongin atau Klik Delivery ataupun yang beroperasi lebih luas seperti Grab dan Gojek. Tujuannya yang mulia untuk membantu kebutuhan mahasiswa dan meringankan beban ekonomi bagi warga lokal, membuat jasa delivery sendiri digemari hampir semua kalangan di Jatinangor.     

Mahasiswa dan usaha jasa delivery, bagaikan sebuah kisah romantika, di mana keduanya saling bergantung satu sama lain, agar tujuan mereka dapat tercapai. Keduanya pun melakukan simbiosis mutualisme, saling membutuhkan dan memberikan keuntungan satu sama lain. Mahasiswa mendapatkan pesanan mereka, tanpa perlu mengeluarkan usaha lebih, dan pihak delivery pun, mendapatkan dukungan finansial dari para mahasiswa. Jika jasa delivery, diibaratkan sebagai sebuah kisah romantika, apakah kamu merupakan bagian dari kisah ini?

Fathiya Alyssa & Timothy Putra

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar