Yamaha Lexi

Penelitian: Sulitnya Melepas Ketergantungan Makanan Cepat Saji

  Senin, 13 Mei 2019   M. Naufal Hafiz
Ilustrasi. (Pexels)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM—Berpikirlah dua kali bahkan lebih sebelum mengonsumsi makanan yang serba-digoreng.

AYO BACA : KULINER BANDUNG: Kerupuk ‘Jadul Bandung’, Digemari Sejak 50 Tahun Lalu

Penelitian yang dilakukan oleh University of Michigan menyebutkan bahwa kadang sulit melepaskan kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji dari pola makan kita. Sebab, gejala yang muncul saat itu adalah mirip dengan gejala orang yang melepaskan diri dari kecanduan obat.

AYO BACA : Kuliner Bandung: 5 Bakso Lezat di Sekitar Dipatiukur

Penelitian yang dipublikasikan dalam edisi terbaru Appetite diyakini sebagai penelitian pertama dari jenis penelitian yang mengamati gejala melepaskan diri dari makanan yang memuaskan diri dari pola makan harian mereka.

Jika mereka mencoba untuk berhenti untuk beberapa kali, mereka harus melaporkan apa yang dialaminya, kemudian gejala melepaskan diri itu mirip dengan seseorang yang mencoba mengurangi nikotin atau ganja, demikian laporan wwlp, seperti yang dikutip Senin (13/5/2019).

Responden mengatakan, mereka mengalami dua hingga tiga gejala ini setelah meninggalkan sajian cepat saji, yakni kesedihan, kelelahan, mendambakan, mudah marah, dan setelah beberapa hari kemudian, gejala-gejala tersebut mereda.

Para peneliti mengatakan, hal tersebut ada hubungannya dengan cara kerja melepaskan diri dari kecanduan obat.

AYO BACA : KULINER BANDUNG: Nikmatnya Cwie Mie 87

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar