Yamaha NMax

KULINER BANDUNG: Kerupuk ‘Jadul Bandung’, Digemari Sejak 50 Tahun Lalu

  Senin, 13 Mei 2019   Nur Khansa Ranawati
Salah seorang pedagang kerupuk jadul, Mukrim (73), saat melayani pelanggannya di depan Pasar Kosambi, Bandung, Minggu (12/5/2019). (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Kerupuk menjadi camilan yang seolah tak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bandung. Kerupuk bisa dihidangkan sebagai pelengkap aneka makanan, diolah dan dibumbui pedas menjadi seblak, atau dibuat menjadi bentuk lainnya dan menjadikannya memiliki penggemar masing-masing dari segala usia.

Termasuk pada 50-an tahun lalu, ketika jenis olahan kerupuk di Kota Bandung belum sebanyak sekarang. Mayoritas kerupuk yang dikonsumsi warga kala itu adalah jenis kerupuk berukuran besar serupa opak, berwarna putih kekuningan dengan tekstur bergelombang sebagaimana kerupuk yang lazim ditemui saat ini. Perbedaannya, tekstur kerupuk jadul itu lebih padat dan keras.

Mukrim (73) adalah salah satu penjaja kerupuk yang setia berjualan kerupuk jadul tersebut sejak 23 tahun silam. Pria asal Garut ini mengaku, dulu kerupuk yang dijualnya bisa ludes dalam satu hingga dua jam berkeliling dari rumah ke rumah.

"Dulu di rumah-rumah kompleks, orang-orang banyak yang beli kerupuk ini, dari ujung-ke ujung (rumah) semua beli," ungkap Mukrim ketika ditemui di depan Pasar Kosambi, Minggu (12/5/2019).

Saat itu, dia yang tengah duduk bersebelahan dengan petugas parkir setempat mengatakan, dirinya mencoba peruntungan untuk berjualan di pasar, salah satunya Pasar Kosambi. Sebelumnya, sejak dulu, dia berjualan dari rumah ke rumah. Namun, saat ini pembeli kerupuknya sudah tak seramai dulu.

AYO BACA : Kuliner Bandung: Mencicipi Gurihnya Serabi Legendaris Cihapit

Mukrim bekerja di salah satu dari dua pabrik kerupuk jadul tersebut di Bandung, yang—berdasarkan penuturannya—telah berdiri sejak 1963-an. Dia beserta sejumlah rekannya bertugas belanja bahan, memasak, dan menjemur kerupuk hingga menjualnya. Dia mengatakan, pemilik pabrik kerupuk tersebut saat ini terletak di bilangan Buah Batu dan Kosambi.

"Dulu jualannya bisa sampai dua kali balikan. Goreng kerupuk jam 1 siang, berangkat jam 2, jam 4 kerupuk sudah habis dan harus pulang ke pabrik untuk ambil lagi," jelasnya.

Meski tak sebanyak dulu, penggemar kerupuk ini di Bandung masih cukup banyak. Hal tersebut salah satunya tercermin dari sejumlah orang yang mampir membeli kerupuk di sela perbincangannya dengan Ayobandung.com. Beberapa di antara orang tersebut adalah paruh baya yang ingin bernostalgia dengan kerupuk favorit mereka.

"Banyak yang sudah tahu kerupuk ini, sudah ada langganan juga," ungkap Mukrim.

Menurutnya, kerupuk jadul tersebut memiliki keunggulan tersendiri dibanding kerupuk yang lazim ditemui saat ini di Bandung, terutama dari teksturnya.

AYO BACA : KULINER BANDUNG: Mencicipi ‘Roti Gempol’, Roti Bakar Legendaris Kota Bandung

"Rasanya beda, kerupuk sekarang mah hampos, kurang kriuk. Kalau anak muda kan senangnya kerupuk yang bantat dan keras," jelasnya.

Dia mengatakan, kerupuk tersebut terbuat dari bahan-bahan yang tak jauh berbeda dari kerupuk pada umumnya. Namun, cara membuatnya masih tradisional.

"Dibuatnya dari aci, tepung tapioka, tapi bumbu mah rahasia perusahaan," ungkapnya seraya tertawa. Pembuatannya pun masih sangat mengandalkan cuaca, ketika kerupuk harus dijemur langsung di bawah terik matahari agar dapat dikonsumsi.

"Itu ngaruh ke rasa juga. Kalau sekarang mau hujan atau panas, produksi kerupuk enggak kena pengaruh karena pakai oven," tuturnya.

Dulu, lanjut Mukrim, kerupuk jadul tersebut banyak dinamai sebagai Kerupuk Palembang meski seluruh bahan dan pembuatan berasal dan dilakukan di Bandung.

"Dulu suka ada yang nyebutnya Kerupuk Palembang. Biasanya dimakan jadi kerupuk banjur di sekolah-sekolah, atau dimakan dengan mi kocok dan bakso," jelasnya.

Mukrim mengatakan, di Ramadan ini, dirinya berjualan di Pasar Kosambi sejak pukul 8.00 WIB hingga sekitar pukul 13.00 WIB. Satu buah kerupuk jadul ini dibanderol Rp1.000.

Tertarik mencoba?

AYO BACA : Kuliner Bandung: 5 Bakso Lezat di Sekitar Dipatiukur

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar