Yamaha Mio S

Potret Harmoni di Sudut Sumedang

  Senin, 13 Mei 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Pintu depan Pura Praja Natha dari halaman samping Gereja Katolik Santo Albertus Magnus. (Foto: Putri Shaina Madani)

Suara-suara alat musik khas Bali mendadak terdengar dari Pura Praja Natha saat ritual pemberian abu tengah digelar di Gereja Katolik Santo Albertus Magnus. Kedua rumah peribadatan tersebut hanya dipisahkan oleh jalan setapak yang ditutupi batu bata berwarna merah pudar. Pintu masuk pura berhadapan langsung dengan halaman rumput yang berada di kawasan gereja Katolik. Jarak yang begitu dekat membuat jemaat gereja Katolik yang tengah mengadakan ritual Rabu Abu dapat mendengar dengan jelas perayaan Nyepi yang digelar umat Hindu. Suara pastor yang memimpin ibadah hari itu pun terdengar lamat-lamat, tenggelam dalam tabuhan alat musik dari pura.

Rabu, 6 Maret 2019, menjadi hari penting bagi umat agama Kristen dan Hindu. Umat Kristen merayakan Rabu Abu dalam rangka menyambut Paskah, sementara umat Hindu mengadakan ritual sebelum Nyepi yang jatuh pada hari Kamis. Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Jatinangor menjadi saksi potret keragaman beragama di Indonesia hari itu.

Kedua rumah ibadah tersebut memang sengaja dibangun berdampingan. Tak hanya dua, di samping gereja Katolik berdiri pula Gereja Protestan Immanuel POUK IPDN. Ketiga rumah peribadatan tersebut membentuk komplek tersendiri dalam kawasan IPDN yang luas. Perlu waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke komplek rumah peribadatan tersebut dengan berjalan kaki melewati jalanan menanjak. Jarak antar-rumah ibadah yang hanya beberapa langkah membuat komplek tersebut menjadi salah satu fenomena unik di kota kecil nan damai, Sumedang.

Hari Minggu menjadi hari yang sibuk di kawasan itu. Umat dari ketiga agama berbondong-bondong menuju rumah ibadah masing-masing. Suasana yang tenang dan khidmat terlihat dalam pura. Umat Hindu berkumpul untuk melaksanakan ibadah maupun sekadar bercengkrama. Kesibukan juga terlihat di kedua gereja. Umat Katolik yang telah selesai melakukan ibadah pukul 8.00 WIB pagi masih terlihat memenuhi kawasan gereja. Anak-anak terlihat duduk melingkar untuk mengikuti kelas Minggu. Umat Protestan baru berdatangan untuk melaksanakan ibadah pukul 9.30 WIB.

Komplek ini tidak langsung berdiri dengan sendirinya. IPDN, yang pada awal pembentukannya masih bernama Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), berdiri di Jatinangor, Sumedang, tahun 1990.

Praja, sebutan untuk murid di IPDN, datang dari berbagai provinsi di Indonesia. Saat itu baru ada masjid sebagai tempat ibadah umat muslim. Seiring bertambahnya praja dari berbagai penjuru negara dengan agama yang beragam, masuklah usulan untuk membangun rumah peribadatan bagi agama-agama lain.

“Waktu itu baru satu sarana ibadah yang ada. Baru ada masjid yang ada di depan. Tetapi dengan berkembangnya agama ini, di tahun 1996 seluruh sarana ibadah didirikan. Gereja Protestan, gereja Katolik, dan pura. Itu diresmikan pada tahun 1997 oleh menteri dalam negeri. Semuanya, satu kali diresmikan,” jelas Nontje Tandean, salah satu Pembina Kerohanian Praja IPDN bidang Kristen Protestan yang juga mengabdi sebagai pendeta Gereja Protestan Imanuel POUK IPDN.

AYO BACA : Ini 5 Kisah Toleransi Agama Paling Menyejukkan

Ia melanjutkan, perbedaan visi, misi, serta sistem yang ada di IPDN dengan perguruan tinggi lain mendorong perlunya membangun gereja untuk umat Kristen Protestan dan Katolik serta pura untuk umat Hindu. Nontje menjelaskan IPDN menganut tri tunggal pusat, yaitu pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan sehingga IPDN mengadakan pembinaan mental kerohanian, termasuk agama, di dalamnya.

Cerita lain datang dari pura. Pura memang disediakan oleh IPDN, namun ada campur tangan dari Provinsi Bali dalam pembangunannya. “Ini memang dari IPDN, dari lembaga, tapi dari Provinsi Bali juga ikut menyumbang. Seiring waktu, baru puranya dibikin seperti pura di Bali,” tutur sekretaris praja pengurus pura I Gede Sagus Sadarma Putra Negara.

Berbeda tapi Satu

Keberadaan komplek ini di tengah kentalnya isu kontroversi keagamaan di Indonesia bagaikan “oasis di tengah gurun pasir”. Umat Hindu, Kristen Katolik, dan Kristen Protestan hampir tidak pernah berkonflik karena kepentingan agamanya masing-masing. Mereka justru hidup berdampingan dan saling menolong.

“Kita tahu bagaimana kita bersikap saat umat Kristen dan Katolik beribadah, mereka juga tahu ketika kita beribadah. Jadi, kita saling mengerti lah. Istilah isu SARA yang sekarang lagi booming di sini ngga ada, sih. Malah makin damai. Kemarin ketika kami Nyepi mereka membantu kami mempersiapkan parade ogoh-ogoh. Ketika umat Kristen ada acara kami juga diundang untuk mengisi acara,” lanjut praja yang disapa Kak Sagus itu.

Sagus menekankan, walaupun saat mereka merayakan Hari Raya Nyepi lingkungan sekitar ramai karena ibadah umat Kristen Katolik dan Kristen Protestan, itu tidak menjadi masalah. Menurutnya, dalam agama Hindu lingkungan adalah nomor dua, hanya sarana pendukung, yang terpenting adalah kondisi spiritual diri sendiri.

Saat ditanya apabila masing-masing tempat peribadatan puas dengan fasilitas lahan yang diberikan IPDN sekarang, mereka mengatakan puas karena lingkungannya damai dan kerukunan antar-beragama sangat terasa. Bahkan, saat pertanyaan tentang keinginan untuk memisahkan diri dari komplek diberikan, sekretaris Gereja Katolik Santo Albertus Magnus Ali menyatakan, ia tidak mau membangun tembok pembatas antara gerejanya dengan gereja Kristen Protestan di sebelahnya.

AYO BACA : Bandung Pisan: Kecamatan Babakan Ciparay Punya Kampung Toleransi

“Ada usulan-usulan dari lembaga juga kita pasang tembok aja biar mereka kegiatan tidak terlihat, kita juga kegiatan tidak terlihat. Tapi kita sama-sama menolak. Kalau dua tembok, anggap saja pemisah, hubungannya (jadi) kurang baik. Apalagi di gereja itu harusnya kita membuat jembatan untuk saling koordinasi. Kalau pasang tembok kan memisahkan, memutuskan jembatannya itu,” tegas Ali.

Ali juga menuturkan kebanggaannya menjadi bagian dari komplek peribadatan yang damai itu. Ia menceritakan kerukunan di lingkungan tersebut. Saat ada perayaan seremonial satu agama, umat agama lain ikut membantu. Contohnya, saat gereja Katolik mengadakan perayaan natal seremonial, bukan hanya praja Kristen Protestan yang turun tangan untuk membantu. Praja hindu dan muslim pun turut mengulurkan tangan membantu persiapan, mereka juga diundang untuk mengisi acara yang digelar gereja Katolik.

Sekretaris gereja Katolik yang sudah menjadi pengurus gereja sejak pertama kali didirikan itu juga berharap kerukunan beragama dalam komplek peribadatan tersebut bisa dicontoh oleh masyarakat Indonesia yang lain.

“Di sini kan katakanlah Indonesia mini, ya. Kita harapkan mereka (praja) lulus dari sini membawa perubahan ke daerah. Tentang kerukunan beragama di sini, bisa disampaikan ke sana. Supaya terwujud juga kerukunan di daerah. Kalau sudah tercipta kerukunan rasanya aman-aman dalam pelaksanaan agama dan peribadatan,” ujar Ali.

Nontje pun menuturkan hal yang sama. Ia ingin situasi kerukunan dalam beragama yang tercipta di kawasan peribadatan itu bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain. Baginya, nilai-nilai yang ada dalam Pancasila terutama mengenai tolerasi antar-umat beragama dapat terimplementasikan dengan baik di sini.

Staf kerohanian IPDN itu juga berharap kelak para praja mampu membawa perubahan ke daerah masing-masing. “Karena mereka (praja) itu ‘kan calon pemimpin bangsa, mereka harus paham agama-agama yang ada. Kalau mereka sudah di daerah mereka jadi pemimpin semua orang bukan umat tertentu sehingga mereka diberi pemahaman-pemahaman toleransi, kerukunan umat beragama yang seharusnya mereka tunjukkan dan mereka rasakan di sini supaya mereka bisa terapkan di daerah,” tambahnya.

Barangkali, memang tak berlebihan jika Nontje menginginkan sistem yang berlaku di IPDN ini menjadi inspirasi di seluruh Indonesia. Di tengah zaman yang semakin dipenuhi orang-orang dengan ego tinggi mengenai agamanya dan sering dengan mudah menjatuhkan agama lain yang tidak sejalan dengannya, justru IPDN menghadirkan potret kerukunan dan toleransi beragama yang amat kental. Bila suasana damai ini mampu tercipta selama lebih dari 20 tahun tanpa terusik di salah satu sudut kota Sumedang, bukan tidak mungkin bagi daerah lain untuk melakukan hal yang sama.

Putri Shaina Madani Ristianti dan Farah Tifa Aghnia

Jurnalistik Universitas Padjadjaran angkatan 2017

AYO BACA : Tunjukkan Toleransi Beragama, Istri Gusdur Sahur di Wihara Bogor

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar