Yamaha NMax

Jaarbeurs Bandung, dari Gedung Pameran hingga Pusat Pelatihan Militer

  Sabtu, 11 Mei 2019   Anya Dellanita
Jaarbeurs Bandung, dari gedung pameran hingga pusat pelatihan militer. (ayobandung.com/Anya D)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM-- Sebagai kota yang sempat direncanakan sebagai calon ibu kota Hindia Belanda, tidak aneh jika Bandung memiliki bangunan-bangunan bergaya Eropa zaman dulu. Nah, yang namanya sebuah calon ibu kota, sudah pasti ada tempat luas yang biasa dipakai sebagai tempat digelarnya acara besar. Ternyata, tempat tersebut ada di jalan yang sekarang bernama Jalan Aceh, tepatnya Gedung Kodiklat di sebrang GOR Saparua Bandung.

Ya, gedung tersebut dulunya bukan tempat pelatihan militer seperti sekarang, melainkan sebuah tempat pameran bernama Jaarbeurs. Kata 'Jaarbeurs' sendiri dalam Bahasa Belanda berarti 'tempat pameran tahunan'. 

Nah, dikutip dari tulisan milik Apriliya Oktavianti di situsbudaya.id, Sabtu (11/5/2019), Jaarbeurs sendiri baru dipakai menjadi tempat pameran atau pesta dagang tahunan mulai 1925. Sebelumnya, pesta dagang yang berupa semacam pasar malam tersebut digelar di Nederland Indie Athletiek Unie atau sekarang Lapangan Saparua, dari tahun 1920 hingga 1924. 

Dalam tulisan Apriliya, disebutkan bahwa pesta dagang tahunan tersebut diprakarsai oleh Wali Kota Bandung saat itu, yakni B. Coops dan Bandoeng Vooruit. Sementara yang mendesain bentuk gedungnya adalah 2 arsitek bersaudara, C.P Wolff Schomaker dan R.L.A Schomaker.

Pegiat sejarah Vecco Suryahadi, dalam blognya menuliskan bahwa pesta dagang tahunan di Jaarbeurs digelar satu tahun sekali setiap bulan Juni-Juli. Alasannya, karena pada bulan-bulan tersebut anak-anak libur sekolah.

"Maka dapat kita bayangkan betapa ramainya kota dengan pesta pora ceria, yang melibatkan seluruh warga kota dan selain warga kota," ujar Vecco dalam tulisannya, Sabtu (11/5/2019).

Vecco memaparkan apa saja yang dipamerkan dan didagangkan di Jaarbeurs. 

"Jaarbeurs menyajikan segala macam pameran dari hasil kerajinan rakyat samai barang produksi dari industri – pabrik – perusahaan dunia (zakenwereld) seperti Siemens en Halske dan Baldwin Locomotive Work," kata Vecco.

Tak hanya itu, Jaarbeurs juga menjadi tempat berkumpulnya atraksi pertunjukan, hiburan kesenian, expositie, dan tentonstelling dari seluruh Hindia Belanda bahkan dari luar Hindia Belanda. Makanan khas Bandung juga dijual di sini. Biasanya, ada beberapa stand, yakni B.M.C (Bandoengsche Melk Centrale), Maison Boin, Maison Bogerijen, Bakkerij Valkenet, Firma C.H.Hazes, dan Restaurant Kuyt en Vesteeg.

Ramainya Jaarbeurs membuatnya disebut-sebut sebagai pasar malam paling menarik mengalahkan Pasar Malam Gambir di Batavia dan Jaarmarkt di Surabaya.

Jaarbeurs juga sering diisi oleh kontes musik dan mode pakaian. Banyak noni-noni datang berkumpul di Jaarbeurs untuk pamer mode fashion mereka. 

Karena itulah, bukan Juni-Juli menjadi bulan rezeki bagi pedagang, sopir, dan pemilik penginapan di sekitar tempat tersebut.

Sementara itu, melihat dari sisi arsitektur, bangunan ini dibangun dengan bentuk art deco, ciri khas arsitek Belanda, C.P Wolff Schoemaker. Bangunan ini juga dulu memiliki ciri khas berupa tiga patung Atlas, seorang titan dalam mitologi Yunani yang sering digambarkan menopang bumi.

Tiga patung Atlas di Jaarbeurs terletak di bagian dekat atap, posisinya seperti sedang menopang atap bangunan tersebut, layaknya Atlas dalam legenda. 

Sayangnya, pesta meriah tersebut ikut terhenti setelah zaman kolonial berakhir. 

Kini, Jaarbeurs sudah banyak berubah. Tulisan namanya kini sudah hilang, berganti dengan logo angkatan darat. Patung Atlasnya juga sudah tidak ada lagi dan fungsi bangunannya juga sudah berubah.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar