Yamaha Mio S

Unggah Ujaran Kebencian di Facebook, Dosen di Bandung Ditangkap Polisi

  Jumat, 10 Mei 2019   Anya Dellanita
Ilustrasi kriminal.(Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Seorang dosen di Bandung ditangkap pihak kepolisian karena diduga menyebarkan ujaran kebencian lewat Facebook. 

Dosen dengan inisial SDS tersebut diduga menulis "Harga Nyawa Rakyat, jika people power tidak dapat dielak; 1 orang rakyat ditembak oleh polisi harus dibayar dengan 10 orang polisi dibunuh mati menggunakan pisau dapur, golok, linggis, kapak, kunci roda mobil, siraman tiner berapi dan keluarga mereka."

Status Facebook tentang people power yang ditulis pada 9 Mei 2019 tersebut sudah dibagikan sebanyak 10 kali dan ada beberapa netizen yang mengingatkan agar dihapus.

AYO BACA : Hoaks Politik Masih Marak Pasca Pemilu

Atas perbuatannya, dosen tersebut dijerat oleh Pasal 14 ayat 1 dan Pasal 15 KUHPidana. 

"Pasal tersebut dipakai karena memang konten perbuatannya masuk ke pasal itu," ujar Direktur Ditreskrimsus Polda Jabar Kombes Pol Samudi, Jumat (10/5/2019).

Samudi mengatakan kasus ini hanya salah satu kasus dari banyak kasus serupa yang berhasil terungkap polisi. Menurutnya, hal itu harus ditindak tegas dan membuat prihatin.

AYO BACA : Begini Cara Facebook Perangi Ujaran Kebencian

"Ya ini cuma salah satu dari sekian kasus serupa yang telah kami ungkap. Siapa pun yang membuat berita bohong dan menyebarkannya akan ditindak tegas Polri," kata Samudi. 

"Ditangkapnya dosen ini bukannya bikin bangga ya. Kami malah prihatin karena masih banyak anggota masyarakat menyalahgunakan media sosial," tambahnya.

Ke depannya, Samudi berharap masyarakat bisa memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan sesuatu yang baik. 

"Kami polisi berharap kalau masyarakat bisa menggunakan ponsel pintarnya buat sesuatu yang bermanfaat. Bukan untuk menyebarkan berita kebencian. Kalau masih berulah, ya terpaksa ditindak agar jera," kata Samudi.

Samudi juga menyayangkan tindakan SDS. Apalagi, yang bersangkutan berprofesi di bidang pendidikan dan seorang intelektual.

"Yang bersangkutan ini seorang intelektual. Kalau intelek kan harusnya mencerdaskan masyarakat. Kalau ada berita harusnya ya dicek dulu," tuturnya.

AYO BACA : Yuk, Setop Penyebaran Hoaks di Masyarakat

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar