Yamaha NMax

Kedalaman yang Muncrat di Dalam Diri Rainer Maria Rilke

  Jumat, 10 Mei 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi. (Pixabay)

 “…pergilah masuk ke dalam dirimu, galilah sampai ke dasar tempat kehidupanmu berasal; pada sumbernya itu, kau akan mendapatkan jawaban apakah kau memang harus mencipta…”

-Letter To A Young Poet – Rainer Maria Rilke

Perjalanan Kepenyairan

Suatu waktu saya pernah ditanya perbedaan prosa dan puisi. Banyak yang telah mendefinisikan keduanya. Sampai saya diberikan perumpamaan untuk kedua hal tersebut: prosa ibarat lautan yang luas, puisi ialah sumur dalam. Tidak perlu tanah lapang untuk mendapat air dari sumur, namun butuh upaya gigih dan penuh pertimbangan untuk dapat masuk dan mendapat kejernihan air yang jernih.

Pada buku puisi Kedalaman Terarah Padamu terjemahan Agus R. Sarjono dan Berthold Damsauser, termuat 40 puisi. Puisi-puisi tersebut diambil dari beberapa buku puisi dan perjalanan puitik Rilke sejak 1896 hingga akhir hayatnya 1926, yang terbagi ke dalam sembilan subjudul.

Tentu akan sangat sulit untuk menyimpulkan arah buku ini, terlebih buku ini ialah hasil dari kumpulan buku yang lain dengan proses kreatif yang berbeda.

Rainer Maria Rilke terlahir sebagai Katolik di Praha (Austria) 1875 Rene Maria. Oleh Ibunya Shopie, Rilke kecil diperlakukan seperti perempuan—karena anak pertama Shopie sebelum Rilke—meninggal beberapa saat setelah dilahirkan. Harapan memiliki anak perempuan pun cukup besar, sejak awal terlihat ketika memberikan nama Maria.

Rilke memulai kepenyairannya sejak tahun 1894 di kota Praha dengan menerbitkan buku puisi Kehidupan dan Puisi, disusul buku-buku lainnya.

Perjalanan kepenyairannya semakin ranum ketika ia hijrah ke Munchen, Jerman. Dia pernah beberapa kali berkuliah di jurusan filosofi dan sejarah seni, kemudian jurusan Hukum. Pada tahun 1896, Rilke pindah ke Jerman untuk kuliah di bidang sejarah seni dan estetika.

Meski begitu, dia sama sekali belum pernah menamatkan studinya di mana pun. Pengalaman “kegagalan” itulah yang melatarbelakangi Rilke tertarik ke wilayah seni.

Sejak itu, Rilke bertemu dengan Lou Andreas Salome aktivis feminis dan psikolog Russia yang menjadi cinta pertamanya, yang sekaligus menjadi penasehatnya. Dari situ, ia berganti nama menjadi Rainer Maria Rilke.

Kisah erotisnya dengan Lou harus kandas di tengah jalan karena Rilke dianggap memilki mental yang labil.

Namun, dari Lou, Rilke mengetahui filsafat Nietzsche dan psikoanalisis Freud. Selain itu, dia bertemu dengan Leo Tolstoy dan mempelajari budaya sastra Russia.

Cara Padang dan Kedalaman yang Mendominasi

AYO BACA : Gedung Kesenian itu Bernama Rumentang Siang

Perpuisian tidak akan terlepas dari beragam bentuk yang dihadirkan, tidak lain sebagai cara seseorang melihat cara pandang orang lainnya.

Perjalan puisi di Indonesia sendiri telah dimulai sejak angkatan Balai Pustaka, Pujangga baru, angkatan 45, 66, 70, hingga sekarang.

Dari perkembangan itu, puisi di Indonesia telah mengalami beberapa fase yakni mulai dari Indonesia yang bermula bahasa Melayu, kemudian terikat aturan atau norma ala-ala syair lama, kemudian mulai bergerak menjadi agak bebas sedikit demi sedikit dan mulai menggunakan kekuatan kata-kata sebagai bentuk perlawanan, bahkan kata perlahan lepas makna harfiahnya sebelum kembali lagi di fase sekarang.

Hal tersebut dipengaruhi situasi lingkungan bahkan traumatik sebagai bangsa yang terjajah. Karenanya, segala hal yang negara ini rasakan belum dapat berdiri sendiri sebagai kekuatan atau estetika yang utuh. Perlu adanya tolok ukur, salah satunya perpuisian dari Barat.

Chairil Anwar sebagai “Binatang Jalang” angkatan 45 yang mempelopori puisi modern pada masanya pernah menerjemahkan karya Rilke yang berjudul “Herbstagg” atau “Hari Musim Gugur”

Hari Musim Gugur

Tuhan, sampai waktuku

Musim panas begitu megah

Lindungkan bayangmu pada jarum hari

Dan atas padang anginmu, lepaslah.

…       

Melihat arah kekaryaan pada puisi-puisi Rilke dalam buku Kedalaman Terarah Padamu, perenungan diri dengan pencipta sangat mendominasi, di samping teknik penyampaian yang semakin padat dan simbolik di awal masa kepenyairan hingga akhir hayatnya.

Saya berspekulasi Rilke tidak terlalu terpengaruh secara keyakinannya seperti konsepsi pemikiran Friederich Nietzsche. Namun, saya rasa itu malah membangkitkan celah-celah kesendirian Rilke dalam permenungannya akan ketuhanan.

Rilke sendiri dalam perjalanan kepenyairannya bisa dikatakan tidak terlalu melek dalam permasalahan sosial di sekitarnya, atau isu perpolitikan yang menyertai hidupnya di awal abad ke-20. Selain itu, dalam buku ini, diksi serta tema semisal Tuhan, malaikat, dan kesendirian sangat mendominasi.

AYO BACA : Balo-balo, Kesenian Tradisional untuk Kelabui Penjajah dan Sebarkan Agama

Padamkan Mataku

Padamkan mataku! Kau kusanggup kupandangi,

sumbatlah telingaku. Kau sanggup kusimak,

tanpa kaki, kau kusanggup kusambangi,

tanpa mulut, padamu kusanggup tetap tetap teriak.

tebaslah lenganku, kau kugapai

dengan jiwaku menjelma tangan,

remaslah jantungku, otak kan berdenyut,

dan jika otak kau ledakan,

dengan darah kau kupagut

1896

Sesaat membaca puisi ini, inferensi yang kita dapat diawal ialah menyebut bahwa puisi ini sungguh ekspresif dalam kekaguman aku lirik pada sosok “Kau”.

Sekilas puisi ini dipenuhi hiperbola dan sedikit ramuan surealisme pada larik akhir /dan jika otak kau ledakan,/dengan darah kau kupagut/ menandakan betapa besar keinginan aku lirik untuk menjangku “Kau”.

Saya berspekulasi bahwa dalam puisinya, Rilke terpengaruh oleh konsepsi ketuhanan yang memang Sang empunya Maha.

Jundun Yade Alfarid

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI

AYO BACA : 16.153 Siswa SD Kota Bandung Torehkan Rekor Menulis Puisi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar