Yamaha Mio S

Literasi Anak Penting untuk Cegah Kekerasan

  Kamis, 09 Mei 2019   M. Naufal Hafiz
Ilustrasi. (Ulrike Mai/Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM—Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menekankan pentingnya peningkatan literasi anak mengenai kekerasan dan dampaknya untuk mencegah tindak kekerasan terhadap anak oleh teman sebaya.

Dalam banyak kasus, kekerasan antaranak terjadi sebagai dampak dari literasi yang kurang, adiksi anak terhadap kekerasan serta salah pengasuhan, kata Susanto dikutip dari Antara, Kamis (9/5/2019).

Menurut Susanto, anak yang kerap melihat tayangan-tayangan kekerasan dan sadisme melalui gawai cenderung rentan melakukan kekerasan. Selain kecanduan melihat tayangan kekerasan, Anak pun ingin melakukan tindak kekerasan sebagaimana tayangan yang dia tonton.

Selain peningkatan literasi, menurut dia, orang tua dan orang dewasa perlu meningkatkan peran dalam mengawasi media yang dikonsumsi anak-anak. Orang tua dan orang dewasa harus mencegah anak-anak menonton tayangan yang penuh kekerasan dan sadisme, termasuk yang ada dalam permainan daring.

AYO BACA : Kasus Kekerasan Anak Masih Marak, Pelaku Biasanya Orang Dekat

Orang tua harus memastikan dan memilih media tontonan dan permainan anak yang mendidik serta merangsang karakter anak dapat berkembang dengan baik, tutur Susanto.

Dia juga mengemukakan keprihatinan mengenai hasil Survei Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2018 yang dilaksanakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, yang menunjukkan pelaku kekerasan terhadap anak yang paling banyak justru teman sebaya.

Menurut Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2018 yang dilakukan terhadap 11.410 rumah tangga yang tersebar di 1.390 blok sensus di 232 kecamatan yang berada di 150 kabupaten/kota di 32 provinsi, dua dari tiga anak dan remaja perempuan atau laki-laki pernah mengalami salah satu bentuk kekerasan sepanjang hidupnya. Kekerasan yang dialami cenderung tumpang tindih antara kekerasan emosional, kekerasan fisik, dan kekerasan seksual.

Tiga dari empat anak-anak dan remaja yang pernah mengalami kekerasan salah satu jenis atau lebih melaporkan bahwa pelaku kekerasan adalah teman atau sebayanya.

AYO BACA : Menteri Yohana: Anak-anak Sudah Berani Melaporkan Kekerasan

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar