Yamaha NMax

Pergulatan Hidup Mahasiswa ‘Pulang-Pergi’ Bandung-Jatinangor

  Rabu, 08 Mei 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Salah satu mobil dari perusahaan shuttle milik Arnes Shuttle di kawasan Balubur Town Square, Bandung, Minggu (23/3/2019). (Cyntia Karima Ayuni)

Mahasiswa dapat dikategorikan menjadi dua, bila dikaitkan dengan jarak tempat tinggal dan kampus. Pertama, mahasiswa indekos karena tempat tinggalnya di luar kota. Kedua, mahasiswa yang tinggal di kota yang sama dengan kampus namun harus menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah ke kampus masing–masing.

Pilihan kendaraan pun menjadi lebih beragam, terutama bagi mahasiswa yang rumahnya masih satu kota dengan kampus. Bila ingin, mereka dapat menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil ataupun motor. Ada juga pilihan lain yang dirasa lebih “murah”, kendaraan umum seperti bus atau angkutan kota. Namun, jam keberangkatan yang tidak pasti dan penuh sesak di jam tertentu dari kendaraan umum tersebut menjadi bahan pertimbangan.

Lalu kendaraan apa yang sekiranya dapat meminimalisasi semua kekhawatiran para mahasiswa yang tempat tinggalnya jauh dari kampus? Mungkin jawabannya adalah transportasi umum travel atau shuttle.

Travel atau shuttle adalah kendaraan umum roda empat alias mobil yang biasanya berangkat antarkota membawa tak lebih dari 10 orang penumpang di dalamnya. Waktu keberangkatan mobil–mobil milik perusahaan travel atau shuttle pun memiliki jadwal yang pasti sehingga kemungkinan terlambat dapat diminimalisasi.

Selain itu, tempat duduk yang jelas dan teratur membuat mobil travel atau shuttle terasa lebih nyaman, belum lagi dengan menambah harga bisa mendapatkan kursi khusus yang memiliki tempat mengisi baterai handphone kamu.

Dengan fasilitas yang telah disebutkan di atas, mungkin inilah yang dapat menjadi solusi bagi para mahasiswa yang menjalankan rutinitas “pulang pergi”, namun biaya yang dikeluarkan juga tidak murah.

Lebih spesifik lagi mari menilik kehidupan mahasiswa di lingkungan perkuliahan Jatinangor. Jatinangor terkenal dengan kampus yang memiliki mahasiswa beragam dari berbagai daerah di Indonesia. Problematika kendaraan inilah yang mungkin terasa lebih di kalangan mahasiswa tersebut.

Bila mahasiswa tersebut berasal dari luar Jatinangor, bahkan luar Jawa Barat, tentu mengharuskan mereka tinggal di sebuah pondokan atau indekos selama masa berkuliah. Kendaraan mereka menuju kampus pun hanya berkutat di antara ojek pangkalan, ojek online, dan angkot.

Berbeda dengan mahasiswa yang tinggal di rumah yang berada di sekitar Jatinangor atau yang terjauh mungkin Kota Bandung. Jarak tempuh yang beragam membuat mahasiswa asal kota Bandung memiliki pilihan kendaraan yang lebih untuk berangkat ke kampus.

Menggunakan kendaraan pribadi tentu saja sudah sangat umum, apalagi bagi para mahasiswa laki–laki. Selain murah, kendaraan pribadi dirasa paling cepat untuk tiba di kampus.

“Kalo saya sih ya mending naek motor, udah mah cepet, bisa selap–selip, sama murah juga sih cuma bayar bensin aja. Tapi ya gitu kadang kalo pulangnya malem suka cape,” ujar Dani, salah satu mahasiswa asal Bandung yang berkuliah di Universitas Padjadjaran Jatinangor.

Semua hal memang ada sisi positif dan negatifnya. Apalagi sisi negatif dari naik motor ini adalah kelelahan selama perjalanan, mengantuk dalam perjalanan pulang, tentu dapat berakibat fatal bagi para pengendara kendaraan pribadi.

AYO BACA : Angkutan Klasik Bandung: Mengenal Sejarah Perkembangan Angkutan Umum Bandung

Hal inilah yang menyebabkan transportasi umum lebih menarik, terutama dari sisi keselamatan pribadi. Kamu tinggal membayar sejumlah uang, lalu duduk manis sembari menunggu perjalanan pulang ke rumah.

Namun, transportasi umum tidak semuanya nyaman. Hal yang biasa menjadi kendala bagi mahasiswa Bandung adalah jadwal bus yang tidak pasti. Misalnya bus DAMRI dengan rute Dipatiukur-Jatinangor (PP), Leuwi Panjang-Jatinangor (PP), dan Elang-Jatinangor (PP) yang hanya beroperasi dari pukul enam pagi hingga pukul enam sore. Selain jadwal yang tidak pasti, bus juga rentan penuh pada jam–jam keberangkatan kuliah atau kerja.

Kemunculan berbagai travel dan shuttle

Kemunculan shuttle yang memiliki rute pendek seperti Bandung-Jatinangor ataupun Jatinangor-Bandung pertama kali muncul di pengujung tahun 2011. Saat itu, Arnes Shuttle merupakan perusahaan transportasi pertama yang melayani rute Bandung-Jatinangor atau sebaliknya.

Kini, terdapat tiga shuttle lain yang memiliki rute sama dan beroperasi secara bebas di Bandung maupun Jatinangor. Keempat travel atau shuttle ini sama-sama melewati pintu tol Pasteur-Tol Padaleunyi-pintu tol Cileunyi. Pemilihan jalur ini tentunya berpengaruh terhadap jarak dan waktu tempuh yang harus dilalui.

Manajer Operasional Arnes Shuttle Iwan Priyadi mengatakan, pada hari kerja, 60 persen penumpangnya merupakan mahasiswa. sedangkan sisanya merupakan orang-orang yang bekerja di Bandung maupun Jatinangor.

Banyaknya penumpang inilah yang menyebabkan lonjakan penumpang bisa terjadi saat pagi, sore, dan malam. Untungnya, berbagai travel dan shuttle memiliki jam keberangkatan yang terjadwal dan pasti. Selalu ada keberangkatan setiap 30 menit sekali. Bahkan saat terjadi lonjakan penumpang, keberangkatan dapat menjadi 15 menit sekali.                       

Keberadaan berbagai travel dan shuttle dengan rute Bandung-Jatinangor bisa dikatakan menguntungkan bagi beberapa mahasiswa. Itulah yang dikatakan Yasmin, mahasiswa Unpad jurusan Administrasi Bisnis asal Bandung yang sudah dua tahun memilih untuk pulang-pergi menggunakan transportasi umum jenis travel atau shuttle. “Karena jadi punya banyak pilihan (travel atau shuttle), mobilisasiku juga jadi efektif,” ujarnya.

Ia menambahkan, salah satu alasannya lebih memilih menggunakan travel atau shuttle adalah jam keberangkatan yang lebih bisa diprediksi. Meskipun harus pergi dan bersiap lebih pagi, dirinya mengaku tidak terlalu khawatir karena banyak travel atau shuttle dengan rute Bandung-Jatinangor memiliki waktu keberangkatan yang pasti sehingga ia lebih bisa mengatur waktu.

Namun, tak jarang dirinya beberapa kali mengalami kejadian yang tidak terduga.

“Udah rajin banget berangkat pagi, udah masuk tol Pasteur. Tiba-tiba dapet kabar kalau dosennya enggak jadi masuk kelas, pundung kan itu. Begitu sampai (di Jatinangor) langsung pulang lagi,” ucapnya sambil tertawa.

Keuntungan lainnya adalah waktu tempuh yang lebih sedikit jika dibandingkan dengan transportasi umum seperti bus. Bus DAMRI dengan rute Dipatiukur-Jatinangor (PP)  harus melewati Dipatiukur–Gasibu–Diponegoro–Supratman-A Yani-RE Martadinata–Laswi–Tegalega, sebelum akhirnya memasuki Tol Moh. Toha dan keluar di pintu Tol Cileunyi. Waktu tempuhnya paling cepat mencapai 60 menit.

AYO BACA : Pertama di Indonesia, Angkot Online Diluncurkan di Kota Bekasi

Berbeda dengan berbagai travel atau shuttle rute Bandung–Jatinangor yang langsung memasuki Tol Pasteur. Berbagai perusahaan travel atau shuttle kini berlomba-lomba memiliki pool atau tempat keberangkatan di daerah yang paling dekat dengan gerbang tol, sehingga waktu tempuhnya hanya sekitar 30-45 menit.

Hal inilah yang membuat Natalia, mahasiswa Unpad jurusan Matematika asal Bandung, memilih pulang-pergi menggunakan travel atau shuttle daripada bus.

“Dia (shuttle) punya jam berangkat yang pasti dan lebih cepet juga sampenya,” ucap Natalia.

Berbeda dengan Yasmin dan Natalia yang sudah dua tahun memilih untuk pulang-pergi menggunakan shuttle, Farah, mahasiswa Unpad jurusan Jurnalistik, mengaku lebih memilih menggunakan bus DAMRI untuk pulang dan pergi kuliah.

Menurutnya, tarif travel atau shuttle Bandung–Jatinangor ataupun sebaliknya terlalu mahal dibandingkan dengan bus DAMRI.

“(Tarif) DAMRI jauh lebih murah dan terjangkau, sekarang harga tiketnya cuma sepuluh ribu,” ujar Farah yang sudah dua tahun memilih pulang-pergi menggunakan bus.

Dirinya mengaku hanya pulang menggunakan travel atau shuttle jika ada kegiatan kampus yang mengharuskan dirinya berada di Jatinangor hingga malam.

Kehidupan mahasiswa, pilihan mereka

Sebagai mahasiswa yang melakukan kegiatan seperti di atas, apakah kamu merasakan hal yang sama? Menjadi “pejuang” demi menimba ilmu di perkuliahan, selalu mengingat orang tua di rumah agar tetap semangat dalam menjalani kegiatan, lelah dan letih tak menjadi rintangan berarti demi masa depan nanti. Memang, jarak tidak bisa disalahkan demi memenuhi kebutuhan kita, fasilitas pun telah disediakan agar mempermudah perjalanan kita. Dan tentu saja, ada unsur positif dan negatif dari setiap pilihan kendaraan yang diinginkan. Hadirnya travel atau shuttle memang mempermudah perjalanan kita, tapi di saat kendaraan travel atau shuttle ini memunculkan rasa bosan, atau memunculkan isu ekonomi tingkat mahasiswa alias dompet tipis, pilihan seperti menyewa indekos patut dipertimbangkan.

Namun, semua itu kembali kepada pilihan para mahasiswa ini. Jarak tempuh Jatinangor-Bandung bukan jarak yang jauh, dan bukan jarak yang dekat pula. Rintangan yang dihadapi selama perjalanan adalah efek samping dari pilihan hidup yang telah disetujui secara tidak langsung sejak berstatus mahasiswa di kawasan Jatinangor.

Hal yang mungkin belum tersampaikan di sini adalahtetap hidup sebagaimana mestinya. Mengurangi pengeluaran demi menabung itu ide baik, tapi sampai menyiksa diri sendiri rasanya tidak perlu. Berlaku pula dengan pilihan berkendara pulang-pergi yang harus dipilih mahasiswa, carilah yang paling nyaman dan aman menurut kalian.

Perlu diingat, istirahat adalah waktu yang paling berharga dibanding apapun. Istirahat dalam perjalanan itu perlu, kelelahan dapat menyebabkan sakit dan tentu saja sakit perlu ke dokter atau rumah sakit. Hal ini tentu sangat bertentangan dengan konsep awal tadi, mengurangi pengeluaran sehari–hari demi menabung, yang ada malah mengeluarkan lebih uang demi sehat dan bugar kembali.

Kuliah pun bisa tertinggal dan berujung pada waktu lulus yang menjadi lebih lama karena badan dirasa lelah menjalani aktifitas sehari-hari. Pilihlah kendaraan yang paling aman, nyaman, dan kalau bisa lebih ekonomis demi lancarnya perkuliahan serta kesehatan yang tetap maksimal.

Jadi, sebagai mahasiswa asal Jatinangor yang menggeluti kerasnya kehidupan pulang-pergi, apakah travel atau shuttle sudah memenuhi semua keinginan kalian dalam nyamannya pulang-pergi? Atau berkendara dengan kendaraan umum lain lebih menarik karena lebih murah? Kalian yang menentukan ya!

Cyntia Karima Ayuni dan Ridzky Rangga Pradana

AYO BACA : Pengamat Usul Pemerintah Buat Aplikasi untuk Pantau Kelayakan Bus Pariwisata

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar