Yamaha Aerox

Keberadaan Lahan Produktif Jatinangor Dipertanyakan

  Selasa, 07 Mei 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Lahan pertanian di Desa Sayang merupakan salah satu lahan produktif yang masih aktif hingga sekarang. (Valerian Pradovi)

Dahulu, tanah di Jatinangor merupakan area luas yang dipenuhi dengan persawahan hijau. Tanah yang semula hanya sebatas tanah kosong, dimanfaatkan oleh para warga lokal sebagai persawahan. Letak geografis yang berada di dataran tinggi serta udara yang lembab menjadi faktor pendukung modifikasi fungsi tanah. Medan yang cocok dengan irigasi pula memberi keyakinan penuh kepada warga kalau persawahan ini menjadi sumber mata pencaharian mereka.

Keasrian sawah yang dimiliki oleh sejumlah keluarga tidak bertahan kekal. Perlahan-lahan, satu per satu sawah diratakan. Dedaunan padi dan lelumpuran bersubstitusi menjadi tumpukan bata serta rataan semen.

Hal ini ditandai dengan berdirinya dua perguruan tinggi di Jatinangor, yakni Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Akademi Koperasi (AKOP). Dapat dikatakan transaksi jual-beli tanah dipelopori sesaat sebelum Unpad resmi didirikan. Universitas yang didirikan pada tahun 1979 ini memilih lahan bekas perkebunan sebagai letak kampusnya.  Sebesar 3.285,5 Hektar luas tanah berhasil jatuh ke tangan Unpad.

Berbeda dengan Unpad, AKOP sudah didirikan sejak tahun 1980. Empat tahun berjalan, perguruan tinggi ini mengubah namanya menjadi Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN).

Dengan berdirinya kedua perguruan tinggi tersebut, dimulai pula kenaikan harga tanah di Jatinangor. Julukan Jatinangor dengan sebutan “Kota Pelajar” mempengaruhi keinginan para investor tanah untuk mengelola lahan di Jatinangor. Harga tanah naik. Tahun 1980-an menjadi awal dari berdirinya banyak indekos.

Asal Muasal Kepemilikan Tanah

Kepemilikan tanah di Jatinangor sebelum tahun 1980-an masih didominasi oleh penduduk asli Jatinangor. Bertani menjadi mata pencaharian utama pada saat itu, karena adanya hamparan sawah yang luas di Jatinangor.

Dengan didirikannya beberapa perguruan tinggi, seperti AKOP, Unpad, dan STPDN membuat peluang usaha baru bagi para pemilik tanah. Para pendatang yang ingin berinvestasi properti datang ke Jatinangor untuk mencari lahan bisnis. Tepatnya pada tahun 1984 transaksi jual-beli tanah sedang kencang-kencangnya terjadi.

Hal ini membuat harga tanah melonjak naik dan membawa angin segar untuk para pemilik tanah. Banyak pemilik tanah di Jatinangor memilih untuk menjual tanahnya dengan harga yang dianggap mahal kepada para pendatang untuk dibuat indekos.

Aep, penjual tanah di Jatinangor mengatakan, “dulu tanah di sini harganya masih dua ratus ribu per meter, sekarang harganya bisa sampai 3 Miliar yang di bagian depan.”

Lepas menjual tanahnya, hasilnya akan dimanfaatkan oleh para penjual sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Ada yang membangun rumah, yang lainnya membeli tanah baru yang lebih kecil, ada yang dipakai untuk kebutuhan sehari-sehari, dan ada juga yang memilih untuk membeli tanah di luar daerah Jatinangor dan pindah ke sana.

“Kebutuhan jual tanah salah satunya untuk memindahkan lahan, karena pada saat itu di sini kurang produktif lahannya, jadi di jual untuk beli sawah di daerah lain yang lebih produktif, kayak di Sumedang,” ungkap Aep menjelaskan salah satu alasannya menjual tanah yang Ia miliki.

Begitulah pula yang dirasakan oleh salah seorang warga lokal, sekaligus salah satu pemilik indekos di Jatinangor bernama Hajah Acih. Tujuannya untuk investasi tanah membuatnya berulang kali jual-beli tanah. Salah satu sawah di Caringin yang dibeli Hajah Acih pada tahun 2008 merupakan bentuk investasi tanah. Sawah yang dipakainya untuk menanam padi sendiri pun dijual karena kondisi ekonominya yang kurang.

“Dulu saya punya tanah di Hegarmanah dijual, hasilnya beli sebagian dibeliin tanah di Caringin, sebagian lagi dipakai untuk sehari-hari. Terus yang di Caringin di jual lagi, untuk renovasi yang ini (tempat ia tinggal sekaligus indekos yang dimilikinya),” begitu ceritya Hajah Acih tentang perjalanannya menjual dan membeli tanah.

Ada pula Aep, salah satu anggota keluarga penguasa sebagian tanah di Caringin. Pada awalnya, setengah wilayah tanah di Caringin merupakan milik keluarga Aep. Aep merupakan generasi ketiga dari keluarganya. Ia dan saudaranya masing-masing memiliki wilayah tanah yang merupakan warisan dari aki dan nini-nya.

Tidak perlu diragukan lagi hasil penjualan tanah milik keluarga Aep. Beberapa indekos terkenal di Caringin, seperti Bumi Kartika Asri, Wisma Boulevard II, sampai Wisma Dara sudah tidak asing di telinga mahasiswa. Ketiga indekos itu dan apartemen Louvin yang dalam proses pembangunan hingga sekarang ialah hasil penjualan tanah milik keluarga Aep.

Caringin kala itu penuh dengan persawahan yang hijau asri. “Tahun tujuh puluhan cuma ada tiga rumah di sini, sisanya persawahan,” tambah Aep.

Hal tersebut terjadi secara terus-menerus selama bertahun-tahun. Dewasa ini, jarang kita temui pemilik indekos kita yang memang orang asli Jatinangor. Kebanyakan pemilik indekos di Jatinangor saat ini adalah orang-orang asing yang menginvestasikan uangnya di sini. Warga asli Jatinangor pun semakin lama semakin ‘terpinggirkan’ – pindah ke bagian belakang – di tanah kelahirannya. Sebagian  lain justru sudah pergi meninggalkan Jatinangor dengan modal yang didapatkannya dari hasil menjual tanah.

Nasib Sang Penjual

Warga lokal melihat penjualan tanah ini menjadi cara mereka mendapatkan uang lebih. Letak tanah yang strategis karena diapit empat perguruan tinggi mendorong tiap warga untuk beranjak-anjak menjual tanahnya.

“Biasanya, warga yang berhasil menjual tanahnya pindah ke luar Jatinangor, seperti Tanjungsari, Cicalengka, atau tetap di Jatinangor tapi bagian dalam,” ungkap Kepala RW 012 Sayang, Undang Setiadi.

Hal ini dilakukan guna mencari tanah di daerah lain yang lebih murah sehingga di masa mendatang harganya dapat dijual lebih tinggi. Di lain hal, pajak yang semakin hari semakin naik mengokohkan keyakinan warga untuk menjual tanahnya.

Setiadi menyatakan bahwa banyak pula warga lokal yang tergiur akan hasil penjualan tanah. Sempat berlomba-lomba menjual tanah kepunyaannya, berakibat ketidakpunyaan apa-apa karena kurangnya alokasi dana diri sendiri. “Penjualan tanah pun juga ada yang menjual dari milik warisan keluarga, namanya Pak Aep,” tambah Undang.

Aep meluruskan penjualan tanah milik warisan keluarga itu. Tanah yang merupakan warisan keluarga tersebut telah dibagikan bagi tiap anggota keluarganya, yakni generasi Aep. Menurut Aep, Tidak ada konflik yang perlu diseterukan karena tiap tanah sudah menjadi hak bagi pemilik tanah.

Bukan karena keterbatasan ekonomi, namun keluarga Aep menggunakan uang hasil penjualan tanah untuk manfaat sehari-hari. “Uang dari hasil penjualan tanah ini saya dan keluarga pakai untuk bikin rumah, beli motor, mobil, banyak pokoknya,” ungkap Aep.

Berbeda dengan Aep, Hajah Acih yang sempat menjual tanahnya sebanyak dua kali beralasan karena kurangnya perekonomian hidupnya. Tanahnya yang berlokasi di Caringin dianggurkan selama delapan tahun. Sambil menunggu dana terkumpul untuk mendirikan rumah, Hajah Acih sekaligus bercocok tanam di sawahnya.

Tepatnya tahun 2018 seorang pendatang menghampiri tanah milik Hajah Acih dan memberikan penawaran harga. Melihat tawaran yang besar, Hajah Acih pun menjual tanahnya di Caringin dan uangnya dipakai untuk membangun rumah di daerah Sayang.

Maraknya penjualan tanah di Jatinangor pun mau tak mau disikapi oleh kecamatan setempat. Endang, Kepala Departemen Pemerintahan kecamatan Jatinangor menyatakan lahan produktif di kecamatannya tersisa sekitar 30% dari luas kecamatan Jatinangor sebesar 26,2 km2.

Berdasarkan Naskah Sinergitas Kinerja Kecamatan Jatinangor tahun 2019, lahan sawah yang tersisa di Jatinangor sebesar 371 Ha. Totalnya, penggunaan tanah pertanian di Jatinangor seluas 599 Ha.

Naskah ini mengindikasikan jumlah lahan darat yang sudah tidak produktif begitu besar. “Potensi berkurangnya lahan produktif akan terus naik ke depannya,” tambah Endang.

Tokoh Pahlawan bagi Warga Lokal

Siapakah yang membeli tanah milik warga lokal?

Orang-orang dari Bandung, Jakarta, Bogor, dan penjuru wilayah lainnya berperan sebagai pendatang. Para pendatang ini melihat seluk-beluk potensi bisnis yang tinggi dari Jatinangor, di mana perguruan tinggi yang cukup melimpah.

Satu hal dan bukan lain, indekos.

Tita, pemilik indekos Wisma Boulevard I dan II yang berasal dari Bandung mengatakan, “Semua ini untuk investasi karena di Nangor lingkungannya banyak sekolah-sekolah tinggi. Jadi peluang untuk bisnis kos-kosan bagus.”

Berbeda cerita dari Hj. Dodi, Ia bukan pendatang, justru warga asli Jatinangor. Sampai saat ini, Hj. Dodi memiliki investasi berupa indekos, ruko yang disewakan, serta toko kelontong yang cukup besar. Ia mengaku sudah melihat potensi usaha di Jatinangor, terutama sejak Unpad dan AKOP didirikan. Modal yang ada dari keluarga juga cukup, hal itulah yang membuatnya bertahan di Jatinangor.

Tak hanya mendirikan usahanya sendiri, Hj. Dodi mengaku, tetangganya banyak yang menjual tanah kepada dirinya. Dengan alasan ingin membantu, dan harganya cocok, maka Ia membeli tanah tersebut.

Pasca tahun 1998 dan terjadinya krisis keuangan, banyak penduduk yang tidak memiliki surat tanah, dan akhirnya menjual tanah kepada Hj. Dodi dengan harga murah. Saat  itu tanahnya dijual dengan harga dua belas juta, namun tanpa sertifikat tanah.

Hj. Dodi sesungguhnya menyayangkan tanah-tanah yang dijual kepada para pendatang, apalagi tanah yang ada di lokasi strategis, “Di sini kan tanah emas, harus bisa dimanfaatkan dengan baik. Bagusnya buat dipakai usaha, sayang kalau dijual. Sebenarnya, di sini jualan apa pun kan akan laku, apalagi makanan.”

Nyatanya, tanah emas Jatinangor yang diagung-agungkan tak bisa dikelola maksimal oleh seluruh warga asli Jatinangor. Pada akhirnya, warga yang tak bisa bertahan akan pergi meninggalkan Jatinangor dan memulai kehidupan baru di tempat lain.

Valerian Pradovi dan Firyal Shabirah Adam.

 

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar