Yamaha NMax

Bank Indonesia Minta Masyarakat Waspadai Peredaran Uang Palsu

  Sabtu, 04 Mei 2019   Erika Lia
Logo Bank Indonesia

CIREBON, AYOBANDUNG.COM-- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Cirebon mendorong transaksi non tunai selama Ramadan dan Idulfitri untuk meminimalisir peredaran uang palsu (upal). Wilayah Cirebon menjadi salah satu daerah yang rawan peredaran upal.

Kepala Perwakilan BI Cirebon, M Abdul Majid Ikram menyebutkan, kala banyak orang memegang uang kartal (tunai), resiko memperoleh upal lebih besar. Untuk mencegahnya, pihaknya mendorong transaksi non tunai.

"Kami dorong penggunaan non tunai karena kalau banyak orang yang memegang uang kartal, risiko dapat upal lebih besar," tuturnya.

Kepala Tim Sistem Pembayaran (SP) Pengedaran Uang Rupiah (PUR) dan Keuangan Infklusif KPwBI Cirebon, Yukon Afrinaldo menyebut, Wilayah Cirebon (Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) termasuk daerah yang rawan peredaran upal. Untuk nasional, DKI Jakarta dan Jawa Barat merupakan daerah dengan peredaran upal paling tinggi.

"Peredaran tertinggi masih DKI Jakarta dan Jabar. Cirebon juga menjadi daerah paling banyak peredaran upal karena secara ekonomi peredaran uang di wilayah ini termasuk yang tertinggi se-Jabar," ungkapnya.

AYO BACA : Cegah Peredaran Uang Palsu, Ini Dorongan BI Kepada Masyarakat

Pecahan Rp100 ribu dan Rp50 ribu menjadi pecahan yang kerap dipalsukan. Bahkan, dalam beberapa kasus pihaknya menemukan upal asing atau dari luar negeri.
Fluktuasi peredaran upal di Wilayah Cirebon kerap terjadi pada momen-momen tertentu, khususnya pada hari raya keagamaan dan pesta demokrasi. Modus peredaran, tempat, dan waktunya pun berbeda-beda. Pasar tradisional dan dini hari menjadi tempat serta waktu yang paling rawan peredaran upal.

Menurutnya, sejak 2015 jumlah upal sempat mengalami kenaikan dari sekitar 9 ribu lembar menjadi 15 ribu lembar. Namun, jumlah itu berhasil ditekan hingga angka 5 ribu lembar pada 2018.

"Pada 2018 jumlahnya berhasil kami turunkan menjadi 5 ribu lembar," ujarnya.

Dia mengklaim, selama kurun waktu tiga tahun jumlah peredaran upal di Wilayah Cirebon menurun. Selain menindak tegas para pelaku, pihaknya bersama kepolisian terus berupaya mencegah melalui edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

Dia berjanji, bersama institusi Polri, BI berkomitmen terus memberantas peredaran upal hingga tuntas. Selain itu, edukasi kepada masyarakat perihal pengenalan upal dan uang asli pun tak henti dilakukan.

"Kami berkomitmen meningkatkan koordinasi dengan penegak hukum untuk memberi sanksi semaksimal mungkin bagi para pelaku. Kami juga akan memberi lebih banyak media-media edukasi guna mencegah peredaran upal," tegasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar