Yamaha NMax

Petani Jatinangor: Jangan Sampai Minta-minta!

  Sabtu, 04 Mei 2019   Dadi Haryadi
Jalan setapak mengitari kawasan sawah garapan Pak Uha. Ratusan meter beton kokoh berdiri membatasi tanah apartemen dan tanah warga yang kelak akan jatuh ke tangan pelaku industri lahan huni. (Mush'ab Hassan)

Siang itu kala jam istirahat siang, Nanang tengah menyortir pupuk-pupuk guna kesuburan sawah yang ia garap. Pria yang sehari-hari menggarap sawah ini lahir dan dibesarkan di Desa Hegarmanah, Jatinangor.

Nanang mengaku sudah bertani sejak usia dini menemani ayahnya, Pak Uha. Sembari memilah-milah pupuk, berkali-kali keluhan menjadi petani di Jatinangor ia lontarkan. 

Jatinangor memang akrab dengan sapaan “Kota Pelajar”. Bagaimana tidak? Sampai 2019, ada empat perguruan tinggi yang kokoh berdiri di tanah Jatinangor. Keempat perguruan tinggi tersebut adalah Institut Pemerintahan Dalam Negri (IPDN), Institut Manajemen Koperasi Indonesia (IKOPIN), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Siapa sangka, perkembangan Jatinangor yang dulunya dipenuhi sawah ini menuai banyak keluhan bagi para petani.

“Sekarang mah sebenarnya saya mikir-mikir, seandainya sewaktu-waktu tidak ada sawah, saya bingung juga mau kerja apa. Sedangkan saya punya anak dan istri,” keluh pria berumur 32 tahun itu.

Pekerjaan yang akrab dengan tanah dan lumpur tersebut seakan jadi pekerjaan estafet yang turun menurun. Nanang mengaku kakeknya sudah bertani dan memiliki banyak tanah di Jatinangor. Ayah Nanang pun meneruskan pekerjaan kakeknya hingga turun ke Nanang. Tak heran jika Nanang benar-benar kecewa dengan segala permasalahan lahan huni yang baru-baru ini mulai menggerogoti nasibnya.

“Ini semuanya dulu sawah, dari apartemen itu sampai sini. Sekarang petani pada nyewa (tanah) ke apartemen,” ucap Nanang sembari menunjuk salah satu apartemen yang berdiri kokoh tepat di belakang Nanang.

Senasib dengan Nanang, Cucu, seorang petani yang menggarap sawah di daerah dekat sawah milik Nanang juga mengalami keluhan yang sama. Menurutnya, ladang rezekinya sudah berkurang akibat pembangunan apartemen yang terus berkelanjutan.

“Sama apartemen sudah hampir lima hektare terbeli. Jadi nasib petani mah bagaimana ya tinggal setungtung sebelum dibangun apartemen lagi,” kata Cucu sembari melampiaskan kekecewaaannya dengan menginjak-nginjak lumpur.

Nanang menambahkan, pihak apartemen memaksa membeli sawah para petani dan pemilik lahan, walaupun paksaan tersebut secara halus. 

AYO BACA : 13.000 Hektare Sawah di Jabar Kekeringan

“Pemaksaan untuk menjual tanah ke apartemen ada secara tidak langsung. Dipasangi benteng beton seolah-olah secara halus memaksa untuk jual tanahnya ke mereka. Apartemen nanya ke petani ini tanah siapa kemudian dicari (pemilik tanahnya) kemudian dibeli,” kata Nanang sembari bergantian tugas menebar pupuk di sawah dengan ayahnya.

Ironisnya, status sawah yang digarap Nanang merupakan tanah sewaan dari apartemen. Artinya, petani seperti Nanang yang bekerja di tanah sewaan ini harus merelakan sebagian hasil jerih payah panennya sebagai bentuk bayar sewa lahan.

“Masalahnya pemilik (tanah) memaksa penggarap untuk menyewa padahal sedang kemarau, kan susah menggarap sawah sedang kemarau. Bayarnya sulit jika kemarau, kan tidak bisa ditanam. Hasil tani pun tidak ada, ya masa harus disewa. Hasil tani untuk bayarnya kan tidak ada, pemilik lahan kurang pengertian, sementara penghasilan sawah kalau kemarau gini tentu merosot. Ditambah lagi faktor hama alami seperti burung pipit menambah kesulitan petani,” terang Nanang.

Bertubi-tubi masalah menyerang petani yang bekerja di sekitar hunian apartemen. Bahkan, menurut pengakuan para petani, sikap pihak apartemen benar-benar membuat petani kewalahan seperti memaksa setoran hasil panen. Saat kami menanya kejelasan dari pihak apartemen, mereka enggan untuk menanggapi tanpa alasan yang jelas.

Bak peribahasa “sudah jatuh tertimpa tangga”, masalah para petani tidak berhenti di situ saja. Petani juga merasa rugi atas sistem irigasi yang apartemen jalankan. Di sisi lain daerah Jatinangor, Ade (42), petani yang menggarap sawah di Desa Caringin, Jatinangor mengaku dirugikan dengan sistem irigasi hunian yang ada di sekitarnya.

“Saya merasa sekitar lima tahun ini air jadi masalah, makin susah sekarang. Entah berebut dengan kosan atau bagaimana. Panen saya juga turun karena bertani di sini tanahnya sudah tercemar,” keluh Ade.

Bukan hanya Ade, Nanang dan Cucu juga ikut tergerus menjadi korban irigasi lahan huni. Mereka mendapati perlakuan dari pihak apartamen dan indekos yang kurang ramah lingkungan. Saking jengkelnya, Nanang serasa menyalahkan para mahasiswa yang tinggal di indekos di sekitar sawah garapannya.

“Banyak sampah plastik di sawah. Kami tidak menyuruh tidak boleh ada mahasiswa. Tapi pemilik kosan tidak bisa mengelola sampahnya dengan baik. Masa di sawah ada (sampah) plastik, pembalut, kan (itu) tidak bisa didaur ulang,” tutur Nanang akan keluhannya kepada para mahasiswa.

Selaras dengan Nanang, Cucu jauh lebih naik pitam. Pihak apartemen menjadi semena-mena dalam membangun proyekannya tanpa memerhatikan lingkungan. Cucu menjadi salah satu korban pembangunan tidak ramah lingkungan tersebut.

AYO BACA : Alih Fungsi Lahan Kawasan Bandung Utara

“Saya merasa dibodohi oleh pihak ini (apartemen). MOU (memorandum of understanding)-nya akan dibuat saluran air dan irigasi. Tapi, nyatanya tidak, malah jadi apartemen. Mungkin ada oknum-oknum yang bermain di sini. Biasanya petani suka dikasih amplop oleh pihak itu (oknum),” kata Cucu seraya berapi-api.

Dampak tragis pun menimpa Nanang. Akibat sistem irigasi yang tak ramah lingkungan, Nanang harus menelan pil pahit bahwa anak pertamanya terkena Down Syndrome. Nanang mengaku sangat terpukul dengan situasi tersebut. Namun, dia tetap tegar dan mensyukurinya.

Anak saya juga itu anak Down Syndrome, sudah di tes di Eyckman Bandung. Ternyata ini pengaruh dari lingkungan juga. Saya tidak menyembunyikan anak saya (yang statusnya) ABK (anak berkebutuhan khusus), baru mau 6 tahun umurnya sekarang, saya bawa sekolah di Tanjungsari. Saya dikasih cobaan anak pertama anak Down Syndrome, tapi ya disyukuri saja,” ungkap Nanang Jujur dengan raut muka yang cukup pilu.

Saat kami coba lagi untuk mengonfirmasi segala penuturan Nanang dan Cucu ke pihak apartemen, mereka masih enggan memberi tanggapan atau pun pernyataan. 

Mengenai kerusakan lingkungan, menurut peneliti dan ahli ekologi dari Center International Forestry Research (CIFOR), Elizabeth Linda Yuliani, detergen yang diproduksi dari lahan huni memang merusak lingkungan. Dalam kasus ini, sawah-sawah garapan petani turun kualitasnya akibat limbah buangan hunian seperti indekos dan apartemen.

“Detergen mengandung bahan-bahan kimia yang sulit diuraikan. Di perairan, bahan-bahan kimia itu, misalnya fosfat atau sodium, bisa menyebabkan eutrofikasi yang secara sederhana artinya pertumbuhan algae yang luar biasa dan airnya jadi bau. Sangat rentan merusak mikroba dan unsur hara tanah (sehingga) menurunkan kesuburan lahannya," terang Linda.

Linda juga menuturkan bahwa sebenarnya sawah mampu menyerap bahan-bahan kimia tersebut, tapi jika jumlahnya sudah membludak hal itu tidak bisa dilakukan.

“Di sawah, bahan-bahan kimia ini bisa terserap padi. Lingkungan atau ekosistem memiliki daya dukung atau toleransi (pada limbah). Kalau polutannya sedikit dan tidak terus-terusan, ekosistem bisa meminimalisir sendiri dampaknya, masih bisa recover dan pulih. Tapi jika gangguannya banyak dan terus-menerus, hingga melebihi daya dukung, maka ekosistem akan collapse dan susah pulih,” pungkas Linda.

Ade juga sempat mengaku menjadi salah satu korban pencemaran detergen. Dia menuturkan akhir-akhir ini kualitas hasil panennya menurun. Dampak dari butir-butir detergen mengharuskannya menjual lahan sawahnya.

Mush'ab Hassan
Mahasiswa Jurnalistik Unpad

AYO BACA : Lahan Pertanian Semakin Tergerus Perumahan

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar