Yamaha Lexi

Keberagaman dan Kesetaraan Tidak Selalu Makro

  Sabtu, 04 Mei 2019   Dadi Haryadi
Presiden RI, Joko Widodo dan rakyatnya mengenakan pakaian adat yang mengilustrasikan keberagaman budaya di Indonesia (Foto: presidenri.go.id)

Kesetaraan merupakan eksposisi dari keberagaman. Analoginya begini, fitur multiplayer dalam game merupakan solusi dari adanya fitur single player, atau lebih mudahnya apapun penyakit yang dialami oleh orang Indonesia dan menyebabkan tidak enak badan, teh hangat adalah obatnya.

Lantas, mengapa analogi yang dipaparkan merupakan contoh riil remeh-temeh yang jarang diperhatikan banyak orang? Jika mendengar kata kesetaraan x keberagaman, otak kita akan berdengung bahwa isu makro atau nasionallah yang paling pas untuk dibahas.

Mentang-mentang satunya lagi mikro, bukan berarti perlu disepelekan. Bukan, bukan mikro seperti rumah produksi atau pasar tradisional yang akan dibahas. Isu mikro tidak selalu berasal dari pertumbuhan ekonomi atau sosialisasi masyarakat. Kegiatan, kebiasaan, dan lingkungan hidup di sekitar kita sehari-hari merupakan mikro yang dimaksud. Keberagaman kerap kali ditemukan saat kita mengonsumsi pangan. Ga percaya? Mari saya sebutkan.

AYO BACA : Melihat Keberagaman Agama di Negara Komunis China

Tim miĀ goreng dengan tim miĀ rebus, tim bubur diaduk dengan tim bubur ga diaduk, tim pakai daun bawang dengan tim ga pakai daun bawang, tim pedes dengan tim ga pedes, tim nasi soto dicampur dengan tim nasi soto dipisah, tim telur dadar dengan tim telur ceplok. Indahnya keberagaman.

Tapi, apakah mereka pernah menjadikan keberagamaan tersebut sebagai masalah? Tim bubur diaduk berpolemik dengan tim bubur ga diaduk karena bagi mereka itu penistaan terhadap bubur?

Rasanya contoh di atas terlalu klise untuk jadi bukti keberagaman dari sisi mikro. Pernah dengar kata zerowaste? Teknik meminimalisir sampah ini sedang ramai diterapkan oleh kaum milenial. Gerakan ini semakin kuat semenjak video penyu yang hidungnya tersumbat sedotan plastik beredar.
Dari zerowaste, kita bisa melihat keberagaman insan. Ada yang mengartikan sampah plastik itu jahat, tetapi tetap menggunakan kertas.

AYO BACA : Menghargai Keberagaman lewat TPS

Padahal sekali sampah ya tetap sampah. Ada juga yang membeli sedotan stainless yang dipakai tidak lebih dari tiga kali karena malas menyucinya. Ada pula tren menstrual cup dan menstrual pad bagi para wanita agar tidak menimbun sampah pembalut. Menarik bukan?

Mari kumulasikan kembali keberagaman-keberagaman tersebut. Perkembangan globalisasi benar-benar membuat keberagaman semakin beragam. Tuntutan modernisasi mendorong anak-anak muda era sekarang lebih bisa mengeksplorasi gaya hidupnya. Gaya musik folk oleh para musisi independen membuat banyak orang jadi tergila-gila dengan lagu-lagunya yang multitafsir.

Presensi penikmat musik pop masih mengagung-agungkan Isyana Sarasvati dan Raisa sebagai diva lokal era kini. Visual tak kalah menarik. Orang-orang mengekspresikan fotonya ke media sosial. Latar belakang seperti hanya sekadar mencari followers dan likes, menyebarkan hoaks, content creator, mereka hanya sebatas mengekspresikan diri mereka.
Dari banyaknya keberagaman tersebut, hanya ada satu konklusi. Kesetaraan.

Bukan kesetaraan yang dipaksakan, tetapi kesetaraan yang lahir sebagai inisiatif diri. Dari banyaknya tim A dan tim B dari selera makan mereka, tujuan mereka hanya ingin makan. Dari beragamnya interpretasi orang terhadap zerowaste, tujuan mereka hanya ingin mengurangi sampah. Dari beragamnya selera bergaya hidup, tujuan mereka hanya mengekspresikan diri mereka. Dari beragamnya perbedaan yang ada, penyetaraan tujuan dan frekuensi lah yang menjadi asas terciptanya toleransi.

Valerian Pradovi
Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran

AYO BACA : Toleransi Dinilai Masih Jadi Tantangan Bangsa

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar