Yamaha NMax

Jatinangor, Debu, dan Perawatan Wajah

  Jumat, 03 Mei 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Potret polusi di Jatinangor (Foto: Warta Kema)

Kriingg

Novira mengerjapkan matanya. Sementara tangannya sibuk menggapai sumber suara yang tak lain dan tak bukan adalah jam wekernya yang bernuansa merah jambu.

Bukannya bergegas ke kamar mandi, Novira justru segera bercermin –sementara tangannya terlihat memegang sebotol kecil micellar water. Dituangnya micellar water ke kapas, kemudian digosokkan keseluruh permukaan wajahnya. Usai membersihkan wajahnya, perempuan berusia dua puluh tahun ini lekas mandi, tidak lupa mencuci muka – bukan sikat gigi, berbeda seperti lirik lagu yang biasa dinyanyikan anak TK.

Usai mandi, Novira menepuk-nepuk wajahnya dengan toner. Rutinitasnya belum selesai, wajah mulusnya masih harus dibaluri moisturizer.Harapannya agar kulitnya tetap lembab dan halus. Terangnya cahaya matahari membuat Novira sadar, wajahnya belum terlindungi dari sinar matahari. Maka, sebelum bergegeas, dirinya mengoleskan sun block ke seluruh permukaan wajahnya.

Itulah rutinitas perawatan kulit wajahyang Novira lakukan setiap hari. Rutinitas Novira di pagi hari tidak jauh berbeda dengan Nadila, perempuan berusia sembilan belas tahun. Bedanya, Nadila menitikberatkan kepada penggunaan masker. Penggunaan masker dinilainya jauh lebih efektif dan instan dibandingkan dengan perawatan kulit wajahlainnya. Jenis-jenis masker yang ia gunakan pun beragam; berbagai merk sheet mask dan masker berbahan dasar scrub.Rutinitas Nadila ini juga mirip-mirip dengan Aisyah, delapan belas tahun. “Kalau pakai sheet mask jerawatnya berkurang, dan nggak buluk aja,” jelasnya.

Buluk’ didefinisikan Aisyah sebagai wajah yang kusam. Dalam rangka menghindari wajah yang kusam tersebut, Tizani, sembilan belas tahun, memilih menggunakan tujuh rangkaian perawatan kulit wajahsetiap harinya. Udara di Jatinangor, tempat ia tinggal, ia nilai kering dan berpolusi, sehingga kehadiran perawatan kulit wajah sebagai ‘tameng’ untuk kulitnya sangat krusial.

“Waktu SMA aku nggak pakai banyak perawatan kulit wajahkarena merasa nggak perlu. Ketika mulai kuliah (di sini) jadi ya pakai, karena kondisinya,” kata Aghnia (20), mahasiswa Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang.

Aghnia juga menjabarkan bahwa ia merasa lingkungan Jatinangor berpolusi, sehingga ia harus menambah rangkaian perawatan kulit wajahnya sebagai tindakan preventif dari kerusakan kulit akibat polusi. Salah satunya adalah penggunaan sun block yang semakin intens. Menurutnya, dengan memakai sun block, kulitnya dapat terlindungi dari ‘kejahatan’ matahari dan udara kotor sekitarnya.

Jatinangor: Banyak Polusi, Minim Solusi

Sering mengeluh mengenai polusi yang bertebaran di Jatinangor? Rasanya keluhan warga Jatinangor terkait polusi cukup beralasan. Penggalan cerita diatas mengenai perempuan-perempuan dengan rangkaian perawatan kulit wajahnya merupakan perempuan yang berdomisili di Jatinangor, Sumedang.

Kepala Sub Bagian Umum (Kasubag) Jatinangor, Eddih Muliadi mengakui Jatinangor berada di perlintasan antar provinsi. Kondisi itu memungkinkan kendaraan yang lalu lalang di Jatinangor lebih beragam, termasuk kendaraan besar seperti truk.

“Kecamatan Jatinangor memang dilalui oleh jalan negara. Makanya, itu yang jadi alasan banyak sekali truk-truk besar yang lewat. Jadi kalau di liat secara kasat mata ya memang banyak polusi,” kata Eddih di kantor kecamatan Jatinangor (19/03).

Eddih tidak menampik wilayah Jatinangor memang tinggi tingkat polusinya secara kasat mata. Namun sayangnya, Eddih dan pihaknya tidak punya daya upaya menanggulangi polusi di Jatinangor. Kendala utamanya adalah ketersediaan alat pengukur kualitas udara yang absen di Jatinangor. Berangkat dari situ, kadar kualitas udara sehat bahkan belum bisa terukur.

Lebih jauh lagi, Dosen Geologi Lingkungan Universitas Padjadjaran, Yudhi Listiawan menuturkan wilayah Jatinangor sebagai meeting point. Artinya, kawasan ini memang menjadi titik bagi dua arah dalam berbagai aktivitas, termasuk perjalanan truk logistik. Dampaknya, tentu saja kandungan kimia berbahaya dalam asap kendaraan yang mau tidak mau akrab di setiap aktivitas warga jatinangor.

Zat Hidrokarbon yang keluar bersamaan dengan asap kendaraan. Kandungan ini menurut Yudhi menjadi salah satu polutan yang punya dampak tidak main-main terhadap kesehatan kulit manusia. Dampak menjadi momok terbesar bagi remaja, yakni munculnya jerawat.

AYO BACA : Sumpah Serapah di Pagi Hari

Namun sayang, Yudhi dan timnya belum melakukan kajian lebih jauh mengenai polusi udara di Jatinangor. meski sadar kadar polusinya tinggi, sekali lagi, keterbatasan alat menjadi hambatan utama meneliti kualitas udara di Jatinangor. maka, perlu usaha lebih keras merawat kulit dari bahaya polusi di Jatinangor bukan?

Perawatan kulit wajah: Sebuah Solusi

Merujuk kepada pendapat perempuan di Jatinangor tadi, mereka semua mengaku menggunakan perawatan kulit wajahuntuk mengurangi kerusakanyang ditimbulkan oleh polusi. Kebanyakan menilai bahwa aktivitas luar ruangan menjadikan wajah kusam, berjerawat dan kotor. Selain itu, seluruhnya juga menyatakan bahwa polusi di Jatinangor cukup ‘mengganggu’ bagi kondisi wajah mereka, maka digunakanlah perawatan kulit wajahsebagai tindakan preventif dari masalah kulit yang dapat timbul. Namun, efektifkah cara mereka? Seberapa ‘merusak’kah polusi kepada kulit?

Dr. Madhuri Agarwal, founder dan medical director dari YAVANA Aesthetics Clinic, Mumbai, menyebutkan bahwa polusi udara dapat mengakibatkan kulit lebih cepat menua, kusam, dan terlihat lelah. “Berbagai polutan udara seperti radiasi ultraviolet, hidrokarbon aromatik polisiklik, senyawa organik yang mudah menguap, karbon dioksida, partikel, asap ozon dan rokok mempengaruhi kesehatan kulit sebagai lapisan terluar dari tubuh,”jelasnya kepada FEMINA India (01/07/18).

Dilansir dari Kompas.com (01/08/18), Doris Day, MD, seorang profesor dermatologi klinis di New York University Langone Medical Center, serangan debu dan polusi dapat mengakibatkan perubahan warna kulit, warna kulit tidak merata, sekaligus mempercepat penuaan kulit. Pernyataan tersebut didukung oleh sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Investigative Dermatology, yang melakukan perbandingan terhadap orang yang telah tinggal di kota dan desa selama 24 tahun. Hasilnya membuktikan bahwa mereka yang lebih sering terkena debu dan polusi, lebih rentan untuk memiliki bintik-bintik gelap dan kerutan pada kulit.

Kulit yang sehari-hari berhadapan dengan polusi jika tidak dibersihkan dan dirawat dengan optimal dapat memicu masalah kulit. Salah satu partikel yang paling berbahaya adalah PM 2.5. Partikel ini ukurannya dua puluh kali lebih kecil daripada pori-pori wajah, sehingga mudah masuk ke dalam kulit. Dampak dari masuknya partikel ini ke dalam kulit adalah adanya peradangan dan mempercepat pertumbuhan bitnik-bintik penuaan dan keriput.

Dr. Sweta Rai dari British Association of Dermatologist mengatakan pada The Guardianbahwa jika dihadapkan dengan udara yang berpolusi, maka penggunaan perawatan kulit wajahsangat penting. Perawatan kulit wajahyang digunakan juga harus cocok dengan kondisi kulit, apakah kulit kering, berminyak, atau sensitif, atau memiliki masalah khusus seperti eksim. “Antioksidan juga berperan penting dalam mencegah dampak buruk dari polusi, sehingga dengan memiliki pola makan yang baik, gaya hidup aktif, tidak merokok dan tidur yang cukup juga mempengaruhi kondisi kulit,” jelasnya pada (15/06/18). Rai juga menyarankan untuk selalu menggunakan sun block dan serum dengan bahan dasar vitamin C supaya kulit terhindar dari bahaya paparan polusi.

Dapat disimpulkan bahwa penggunaan perawatan kulit wajahbagi Anda yang tinggal di daerah berpolusi cukup krusial. Bahaya kerusakan kulit dan resiko “jelek”nya wajah memang ditakuti sebagian besar wanita. Kebanyakan dari mereka pun memilih untuk menghabiskan pundi-pundi rupiah dengan jumlah tertentu setiap bulannya untuk melindungi lapisan terluar dari tubuh mereka itu. 

Polusi Jatinangor dan Cerdiknya Mahasiswa Menilik Peluang

Di sisi lain, kehadiran polusi justru menjadi sebuah peluang usaha. Salah satu yang menatap peluang itu adalah Andieny,seorang mahasiswa Universitas Padjadjaran yang menjadikan bisnis perawatan kulit wajahsebagai tambahan uang sakunya. Memulai usahanya tahun lalu, Andieny tergolong masih konsisten terhadap bisnisnya.“Jatinangor kan banyak polusi tuh yang bikin wajah kotor dan kusam.Jadi aku berjualan produk yang aman dan emang bagus untuk kulit biar tetep ternutrisi,” kata Andieny (20/03).

Menutrisi kulit menjadi fokus bisnisnya ketimbang berjualan produk instan perias wajah alias make up. Andieny bercererita selama ini yang laris dipasaran ialah masker wajah. Selain itu, produk yang tidak kalah menjadi buruan ialah produk pembersih wajah atau cleanser.Pelanggan Andieny datang dari berabagi macam golongan, ada yang masih duduk di bangku sekolah menengah, warga asli Jatinangor, dan tentu saja mahasiswa. Mahasiswa menjadi pelanggan yang paling sering memburu produk perawatan kulit wajahyang Andieny jajakan. Maklum, Jatinangor merupakan kecamatan yang menjadi rumah bagi empat institusi pendidikan tinggi dengan jumlah mahasiswa yang tidak sedikit.

Bagi Andieny, berada di Jatinangor otomatis harus melakukan upaya lebih merawat kesahatan kulit. Meski hanya mengandalkan promosi lewat media sosial, bisnis Andieny laris manis. Dalam sehari, paling sedikit ia mengantongi sebanyak tujuh puluh lima ribu rupiah dari bisnisnya ini. Untuk ukuran mahasiswa, jumlah tersebut relatif besar.

Kulit merupakan pertahanan terluar dari tubuh manusia. Mau tidak mau, kulit harus berhadapan dengan berbagai berbagai radikal bebas yang bertebaran di mana-mana, terlebih di Jatinangor. maka, menggunakan perawatan kulit wajah tak ubahnya menambah tameng pertahanan kulit khususnya wajah agar terhindar dari berbagi macam penyakit yang dapat menyerang kulit wajah. Bonusnya, wajah kita senantiasa terlihat segar dan terawat.

- Annisa Rizkia Arigayota dan Muhamad Arfan Septiawan 

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar