Yamaha

Sengketa Lahan, Puluhan Santri Almuhajirin Diusir

  Jumat, 03 Mei 2019   Mildan Abdalloh
Puluhan santri pondok pesantren Almuhajirin, Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, mengumpulkan barang-barang di depan pesantren untuk dibawa pulang, Jumat (3/5/2019). Mereka terpaksa meninggalkan tempat menimba ilmu tersebut karena tanah pesantren terkena sengketa. (Mildan Abdalloh/Ayobandung.com)

CILEUNYI, AYOBANDUNG.COM—Puluhan santri pondok pesantren Almuhajirin, Desa Cimekar, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, terpaksa harus meninggalkan tempat mereka menimba ilmu.

Abdul Majid (23), salah seorang santri Almuhajirin, mengatakan, pihak yang mengaku pemilik lahan meminta para santri meninggalkan asrama pesantren yang mereka tempati.

"Katanya lahan pesantren sudah ada yang membeli. Jadi, kami disuruh keluar," tutur Majid kepada Ayobandung.com, Jumat (3/5/2019).

Dia menceritakan lahan pesantren Almuhajirin dalam beberapa tahun terakhir mengalami masalah sengketa lahan. 

Lahan yang di atasnya berdiri asrama pesantren dan masjid Almuhajirin tersebut awalnya milik orang tua angkat dari Yani dan Yana Suryana. Pada tahun 80-an pemilik lahan mewakafkan tanah kepada Fauzan Zainuri, suami dari Yani untuk dijadikan pondok pesantren dan masjid.

Namun, beberapa tahun lalu, terjadi sengketa lahan. Yana Suryana yang merupakan kakak dari Yani mengklaim bahwa lahan tersebut merupakan miliknya.

Ujungnya pihak Yana melaporkan Fauzan dengan tuduhan memalsukan akta wakaf tanah. "Agustus 2018 akan (Fauzan) divonis 5 bulan penjara," ucapnya.

AYO BACA : Sengketa Lahan Disnak Jabar vs Ahli Waris, Siapa Memancing di Air Keruh?

Setelah vonis tersebut, Yana meminta kepada para santri untuk angkat kaki dari pondok pesantren pada September 2018. Namun, setelah melakukan mediasi, mereka diberi waktu sampai januari 2019.

"Kemudian berubah lagi agar keluar Februari," katanya.

Beberapa mediasi dilakukan. Hingga akhirnya Kamis (2/5/2019), Yana memberi tenggat waktu sampai hari ini supaya para santri keluar dari pesantren.

"Katanya tanah sudah ada yang beli. Jadi, harus dikosongkan," ungkapnya.

Karena tidak bisa berbuat banyak, puluhan santri Almuhajirin terpaksa meninggalkan pesantren. Terlebih setelah bebas dari hukuman, Fauzan tidak kembali ke pesantren.

"Akang tinggal di luar. Tidak ke sini lagi, soalnya ada intimidasi dari preman sini. Tapi selalu menyuruh dewan santri untuk tetap melakukan pengajian," tambah Imam Tajul (21), santri lainnya.

Bangunan Pesantren Dirusak

AYO BACA : Presiden Jokowi Bagikan 5.000 Sertifikat Tanah untuk Warga Bogor

Kamis (2/5/2019), Yana pihak penggugat, mendatangi asrama pesantren Almuhajirin. Dia meminta agar puluhan santri segera angkat kaki.

"Kemarin datang dan meminta kami untuk mengosongkan pesantren. Paling lambat hari ini," ujar Imam.

Tidak hanya meminta para santri keluar, Yana pun melakukan intimidasi dengan cara merusak bangunan.

"Dia naik ke atas genting dan membongkarnya. Tapi kemudian hujan besar dan genting yang dilempar menyumbat saluran air, jadinya banjir," ujar Imam.

Menurut Imam, sebelum terjadi sengketa, terdapat 100-an santri yang menimba ilmu di Pesantren Almuhajirin. Sebagian besar merupakan mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Namun, jumlahnya terus berkurang, terlebih setelah Fauzan divonis 5 bulan penjara dengan tuduhan pemalsuan akta wakaf.

Hingga saat ini terdapat 50-an santri putra dan putri yang masih bertahan yang akhirnya diusir oleh Yana.

"Terpaksa keluar. Ada yang nyari pesantren lain ada juga yang ngekos, ada yang pulang ke rumahnya," ujarnya.

Dari pantauan, para santri Almuhajirin mengumpulkan barang-barang milik mereka di halaman masjid. Mereka menunggu kendaraan atau jemputan orang tua untuk meninggalkan pesantren.

AYO BACA : Selesaikan Sengketa Lewat Arbitrase Lebih Win-Win Solution

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar