Yamaha NMax

Cerita UKW: Wartawan Tangguh Ady Indra Pawennari (2)

  Kamis, 02 Mei 2019   Rizma Riyandi
Ady Indra Pawennary

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Selain aktif sebagai jurnalis suarasiber.com, Ady Indra Pawennari pun tak kalah sibuk berkutat dengan dunia bisnis yang ia tekuni.

Adi juga merupakan sosok pengusaha muda yang ulet, suka dengan tantangan, dan tidak kenal menyerah. Nama pria yang malang melintang di dunia jurnalistik ini, melejit dengan menganut falsafah burung.

Baginya, orang yang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan dan kenyamanan. Namun, mereka ditempa melalui kesulitan, tantangan, bahkan dengan air mata.

Di mana burung itu keluar pada waktu pagi dengan perut kosong (lapar) dan pada waktu sore, ia kembali dengan perut kenyang. Ia percaya, bahwa tanpa usaha, rezeki mustahil akan datang dengan sendirinya.

“Dalam sebuah riwayat, Rasulullah bersabda : Seandainya kamu semua benar-benar bertawaqqal kepada Allah, nisacaya Allah akan memberi rezeki kepadamu sebagaimana Ia memberi rezeki kepada burung,” kata Ady.

Pahlawan Inovasi Teknologi

Konsistensi Ady dalam menjalankan usahanya berbuah manis. Bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2015, Ady dianugerahi gelar Pahlawan Inovasi Teknologi atas keberhasilannya mengubah lahan tandus dan lahan bekas tambang menjadi lahan produktif dengan menggunakan rekayasa sabut kelapa.

Bahkan, atas prestasinya itu, Ady bisa menginjakkan kakinya ke istana Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla dan diundang sejumlah Menteri Kabinet Kerja untuk membicarakan pengembangan usaha pengolahan sabut kelapa ini.

Atas dedikasinya mengembangkan usaha pengolahan sabut kelapa ini, Ady dipercaya menduduki jabatan sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) periode 2018-2023.

Lalu, bagaimana kiprahnya di dunia jurnalistik?

Ady mengaku, selama menekuni dunia bisnis, ia tak pernah absen menulis secara freelance di berbagai media lokal dan nasional. Baik itu media cetak maupun media online. Baginya, dunia jurnalistik adalah bagian dari nafas kehidupannya.

Dunia jurnalistik ini tak mungkin saya tinggalkan. Karena itu, dimana pun saya berada, sedapat mungkin saya bisa menulis. Apalagi, di era kemajuan teknologi seperti saat ini, semuanya lebih mudah. Yang penting, jaga martabat dan kehormatan profesi wartawan itu, pesannya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar