Yamaha Lexi

Cerita UKW: Wartawan Tangguh Ady Indra Pawennari (1)

  Kamis, 02 Mei 2019   Rizma Riyandi
Adi Indra Pawennari Menerima Penghargaan sebagai peserta UKW terbaik dari Ketua PWI Jawa Barat Hilman Hidayat di The Trans Luxury Hotel, Kamis (25/4/2019). (istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Beberapa waktu lalu, saya mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bandung di The Trans Luxury Hotel. Peserta UKW datang dari mana-mana, termasuk dari luar Pulau Jawa.

Jujur saja, saya merasa beruntung bisa mengikuti UKW kali itu. Lantaran banyak pelajaran yang bisa saya ambil. Selain itu saya pun bisa mengenal orang hebat seperti Ady Indra Pawennari (46).

Pria kelahiran Wajo, Sulawesi Selatan, 14 April 1973 itu, rupanya bukan wartawan sembarangan. Di Kepulauan Riau sendiri namanya sudah dikenal banyak orang.

Pergulatannya di dunia kewartawanan sudah sangat panjang. Pahit dan manis menjalani profesi ini pun sudah banyak ia rasakan. Kurang lebih berikut tulisan singkat mengenai perjalanan karir kewartawanan Ady yang bisa menginspirasi kita semua;

Nama Ady mulai dikenal publik ketika ia mengawali kariernya di dunia jurnalistik pada tahun 1997. Ia diterima menjadi wartawan di Surat Kabar Mingguan (SKM) GeNTA, koran daerah tertua di Riau yang terbit di Pekanbaru pada tahun 1978.

Suatu ketika di awal era reformasi pada tahun 1998, ia nyaris tewas karena tulisannya yang berjudul "Judi Sie Jie Marak di Tanjungpinang". Di mana tulisan ini merupakan headline di media tempatnya bekerja.

Kantor SKM GeNTA Biro Kepulauan Riau yang beralamat di Jalan Sambu No. 17 Tanjungpinang, diobrak-abrik orang tak dikenal. Semua peralatan kantor, seperti mesin tik, telpon dan komputer pecah berantakan dibanting tamu tak diundang.

Ady yang kebetulan sedang menyiapkan berita di kantor itu, tak luput dari amukan. Ia nyaris tewas dikeroyok orang tak dikenal hingga berdarah-darah. Bibir, hidung dan dahinya terluka.

"Waktu itu, masa transisi dari era orde baru ke era reformasi. Hampir semua kegiatan usaha yang berbau maksiat tutup. Tapi, diam-diam penjualan kopon judi Sie Jie ini, tetap jalan. Nah, ini saya tulis. Eh, ternyata ada yang terganggu," bebernya.

Atas kejadian itulah, nama Ady menjadi tenar di kalangan wartawan dan pejabat Riau. Waktu itu, status Kepulauan Riau masih kabupaten dan bagian dari Provinsi Riau. Nama dan fotonya hampir tiap hari menghiasi halaman surat kabar harian yang terbit di Pekanbaru dan Batam.

Teror fisik yang dialaminya, ternyata tak menyurutkan langkah Ady melanjutkan kariernya di dunia jurnalistik. Ia malah menjadikannya sebagai pengalaman hidup agar lebih berhati-hati lagi dalam menulis berita.

"Awalnya, memang trauma. Setiap orang yang datang ke kantor, selalu saya curigai. Khawatir mereka adalah mata-mata. Tapi, setelah berjalan beberapa bulan, perasaan was-was itu hilang dengan sendirinya. Ya, anggap aja pengalaman hidup," katanya.

Rumah Dilempar Bom

Selang empat tahun kemudian, Ady kembali mengalami nasib apes. Rumah tempat tinggalnya di Jalan Sumatera No. 5 Tanjungpinang dilempar bom molotov saat seluruh penghuninya terlelap.

"Kejadiannya sekitar jam 02.00 WIB dini hari. Tiba-tiba terdengar ada ledakan mengenai dinding rumah bagian depan. Saya langsung keluar dan mendapati dinding rumah yang terbuat dari kayu terbakar. Tapi, apinya bisa saya padamkan," tuturnya.

Penyebab pelemparan bom molotov dengan kategori low explosive ke rumah Ady ini, juga tak jauh dari pemberitaannya tentang peredaran kupon judi Sie Jie yang diundi di negara Singapura itu.

Ady menceritakan, saat kejadian itu, ia bekerja sebagai wartawan di Harian Sijori Mandiri. Ia didatangi seseorang, sebut saja namanya BA (45) yang mengaku menang undian judi Sie Jie, tapi bandarnya tak mau bayar. Padahal, BA sudah menunjukkan bukti kupon dan nomor tebakan yang dibelinya.

"Ya, lagi-lagi naluri jurnalistik saya terpanggil. Saya langsung konfirmasi ke bandarnya. Keterangan sang bandar, kupon Sie Jie yang diklaim menang undian oleh BA itu tak terdaftar dalam rekapitulasi pembukuannya," katanya.

Informasi yang sudah terkonfirmasi itu, ditulis Ady dan terbit di Harian Sijori Mandiri. Rupanya, sang bandar dan kaki tangannya tak terima dan marah besar. Ady dijemput paksa di salah satu kedai kopi di Jalan Bintan, Tanjungpinang.

Ia diseret oleh beberapa orang tak dikenal untuk menaiki sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari kedai kopi itu. Ady berontak dan menolak mengikuti kemauan orang yang tak dikenalnya itu.

Dalam kondisi terjepit, ia menelpon Ketua DPRD Kepulauan Riau, Andi Anhar Chalid dan menginformasikan kondisi yang dialaminya. Rupanya, para preman yang mulai menyanderanya itu, ketakutan dan langsung ngacir meninggalkannya.

"Kalau tak ada Bang Andi, tak tahulah nasib saya hari itu. Beliaulah yang menjemput saya dengan menggunakan mobil dinasnya," tuturnya.

Beberapa hari kemudian, utusan sang bandar mendatangi Ady. Ia menawarkan agar Ady tak menulis soal judi Sie Jie lagi. Sebagai kompensasinya, Ady ditawari upeti atau jatah setiap bulan.

Tanpa banyak alasan, Ady menolak tawaran itu. Ia tak ingin kemerdekaannya sebagai jurnalis dibatasi. Baginya, pers adalah wahana komunikasi publik dan pilar demokrasi yang dilindungi undang-undang No. 40 tahun 1999 tentang pers.

"Karena saya menolak semua tawaran itu, mereka mungkin frustasi dan mengambil jalan pintas dengan melempar bom molotov ke rumah saya. Atas kejadian bom itulah, nama saya semakin dikenal orang," katanya.

Ady kemudian mengundurkan diri dari Harian Sijori Mandiri. Ia memilih mendirikan media online pertama di Riau yang diberi nama bintanpos.com pada tanggal 20 Agustus 2001.

Dari media online inilah, Ady banyak mengenal dan berinteraksi dengan dunia luar yang mengantarkannya menjadi pengusaha sabut kelapa yang cukup dikenal dengan berbagai inovasi teknologinya.

"Tahun 2007 itu, saya menutup dan menghentikan aktivitas bintanpos.com. Saya ingin fokus di dunia usaha. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar," bebernya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar