Yamaha Mio S

Hanya Sebagian Kecil Plastik yang Layak Didaur Ulang?

  Senin, 29 April 2019   M. Naufal Hafizh
Ilustrasi tumpukan sampah. (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM—Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik Tiza Mafira mengatakan, hanya sebagian kecil plastik yang layak didaur ulang, sisanya dibiarkan menjadi tumpukan sampah.

"Dari produksi plastik antara tahun 1950 sampai 2015, sekitar 60 persen atau 5 miliar ton dibuang ke lingkungan, 12 persen dibakar di insinerator dan hanya sembilan persen yang didaur ulang," kata Tiza, dikutip dari Antara, Senin (29/4/2019).

AYO BACA : Zzero Waste Warriors, Pejuang Lingkungan Berawal dari Sedotan

Dia mengatakan, negara maju sekalipun seperti Amerika, Australia, dan negara-negara di Eropa tidak ada yang mendaur sampahnya hingga 100 persen. Biasanya mereka menyelesaikan masalah sampah dengan mengimpor sampah plastik ke negara lain.

Sementara itu, di Indonesia, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan bahwa tahun 2016 hanya 11 persen sampah plastik yang didaur ulang dan baru 67 persen sampah kita yang diangkut.

AYO BACA : Dalam Sehari, Sukabumi 'Produksi' 250 Ton Sampah Plastik

Tiza mengatakan, banyak dari sampah plastik sekali pakai tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan kualitas daur ulangnya tidak baik.

"Paling yang bisa didaur ulang karena nilai ekonominya tinggi hanya botol PET saja, namun kalau kantung plastik atau sedotan itu tidak didaur ulang karena kualitasnya rendah dan tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi," kata dia.

Tika mengatakan, mengatur pelarangan penggunaan plastik sekali pakai menjadi pilihan yang menarik bagi pemerintah daerah karena sudah banyak alternatif produk di pasaran yang lebih ramah lingkungan.

Selain itu, kesadaran masyarakat tidak lagi menggunakan plastik sekali pakai dapat membantu mengurangi sampah-sampah tersebut.

“Tas lipat sebagai ganti kantong plastik, kotak makan sebagai ganti styrofoam, dan sedotan bambu atau stainless steel sebagai ganti sedotan plastik, saat ini sudah marak dijual di mana-mana. Peraturan yang sifatnya melarang plastik sekali pakai sebenarnya tidak bertujuan membebani atau menghukum siapapun, malah justru terbukti mendorong perubahan perilaku konsumen menjadi perilaku yang lebih ramah lingkungan,” ujar Tiza.

AYO BACA : Jabar Bakal Olah Limbah Plastik Jadi Solar

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar