Yamaha Aerox

Sebagian Besar Terminal di Kabupaten Bandung Masih Sewa

  Kamis, 25 April 2019   Mildan Abdalloh
Ilustrasi Terminal. (Ayobandung.com)

SOREANG, AYOBANDUNG.COM--Sebagian besar terminal di Kabupaten Bandung masih bertatus sewa dan kurang laik digunakan. Akibatnya, banyak angkutan di Kabupaten Bandung memilih menggunakan terminal bayangan tidak resmi.

Kepala Seksi Prasarana Terminal pada Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung Ahmad Yusuf Komarul Hayat mengatakan, di Kabupaten Bandung terdapat 9 terminal yang semuanya masih bertipe C. Dari 9 terminal tersebut, sebagian besarnya berstatus sewa.

"Dari 9 terminal yang ada, hanya beberapa saja yang status lahannya milik Pemda yang lainnya sewa kepada perorangan atau desa setempat," tutur Yusuf, Kamis (25/4/2019).

Setidaknya ada 6 dari 9 terminal yang ada di Kabupaten Bandung yang status lahannya masih sewa. Seperti Terminal Ciparay yang status lahannya milik Desa setempat. Begitu juga dengan Terminal Sayati yang lahannya disewa dari perseorangan. Begitu juga dengan terminal Palasari yang status lahannya bukan milik Pemkab Bandung

AYO BACA : Terminal Leuwipanjang dan Cicaheum akan Dikelola Pemerintah Pusat

"Sewa lahan untuk terminal itu dilakukan supaya angkutan tidak mengganggu kenyamanan dan kelancaran lalu lintas, walaupun harga sewa dengan potensi PAD dari terminalnya tidak seimbang," ujarnya.

Untuk menyewa lahan terminal kata Yusuf, anggaran yang disediakan tergantung lokasinya. Dia mencontohkan lahan terminal Sayati disewa senilai Rp83 juta/tahun, terminal Ciparay Rp53juta/tahun dan Palasari Rp43 juta/tahun. Proses pembayaran sewa dilakukan setiap tiga bulan.

Potensi PAD dari terminal tersebut terbilang kecil, bahkan tidak sebanding dengan harga sewa. Yusuf mencontohkan harga sewa lahan terminal Sayati sebesar Rp83 juta/tahun, namun potensi PAD-nya hanya Rp90juta/tahun. Bahkan di terminal lain, potensi PAD-nya dibawah harga sewa.

"Yang penting tidak mengganggu kenyamanan dan kelancaran lalu lintas," katanya.

AYO BACA : Kios Pedagang Membuat Terminal Banjaran Menyempit

Namun di Majalaya, saat ini kata Yusuf bisa disebut tidak ada terminal. Hal tersebut dikarenakan lahan eksisting yang selama ini digunakan untuk terminal berstatus milik PT KAI.

Pihak PT KAI sebagai pemilik lahan meminta tarif sewa yang sangat tinggi dan jauh dari jangkauan kemampuan Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung.

"PT KAI meminta harga sewa Rp750juta/tahun, sementara potensi PAD-nya hanya RP150juta. Jadinya tidak kami pakai dan akhirnya pengemudi menggunakan bahu jalan untuk ngetem," katanya.

Selain masih berstatus sewa hampir semua terminal masih kurang laik. Dia mencontohkan terminal Soreang yang lahannya kapasitasnya tidak sebanding dengan jumlah angkutan. Hal tersebut menyebabkan banyak angkutan yang menggunakan bahu jalan sebagai terminal bayangan.

"Kalau semuanya dimasukan ke dalam tidak akan masuk. Sudah over load," katanya.

AYO BACA : Keren! Wajah Terminal Leuwipanjang Dipercantik Lukisan Mural

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar