Yamaha NMax

Kontribusi Tekstil Indonesia Baru 2%

  Rabu, 24 April 2019   Mildan Abdalloh
Industri tekstil. (istimewa)

COBLONG,AYOBANDUNG.COM--Kontribusi tekstil Indonesia bagi dunia masih tertinggal jauh dari luar negeri. Pengusaha tektil harus meningkatkan produksi jika ingin bertahan.

Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Kevin Hartanto mengatakan saat ini kontribusi tekstil Indonesia bagi dunia baru mencapai 2% saja, jumlah tersebut jauh dibandingkan dengan kontribusi tekstil dari China.

"China masih menguasai pasar tekstil dunia, saat ini kontribusi mereka mencapai 45%. Jika Indonesia baru 2%, maka kita masih dibawah 5% dari kontribusi China," tutur Kevin disela Seminar bertajuk “Teknologi Terbaru dalam Industri Tekstil Dari Uji Coba (USTER), Merajut (RIETER) dan Memintal (MURATA) dari Benang Cotton USA” yang digelar di Hotel Sheraton, Rabu (24/4/2019).

AYO BACA : Segitiga Rebana Solusi Pemprov Jabar Genjot Pertumbuhan Industri Tekstil dan Pakaian

Menurutnya industri tekstil Indonesia harus meningkatkan produksi jika ingin bersaing dengan negara lain.

"Industri tekstil kita harus mengikuti perkembangan dunia. Apalagi perkembangan garmen sudah mulai banuak variasi yang membutuhkan spesifikasi khusus," ujarnya.

Industri garmen merupakan salah satu andalan pendapatan industri tekstil, sehingga seiring dengan perkembangan trend garmen, tekstil juga harus mengikuti teknologi.

AYO BACA : Industri Tekstil Penyumbang Terbesar Pajak di Jawa Barat

Mesin adalah salah satu cara untuk meningkatkan produksi. Upgrade atau penggantian mesin menjadi salah satu upaya dalam peningkatan produksi. Industri tekstil di Indonesia kata Kevin masih banyak yang masih menggunakan mesin keluaran lama.

Disamping itu, banyak juga industri garmen yang memberikan spesifikasi tertentu, seperti yang berlabel go green yang mengharuskan pabrik tekstil benar-benar mengelola limbahnya secara benar jika ingin mendapat pesanan.

"Mau tidak mau, jika ingin berkembang dan bersaing harus mengikuti perkembangan zaman, tapi sekarang industri tekstil kita sedang menjerit," ujarnya.

Program Citarum Harum diakui Kevin mempunyai kontribusi menurunkan produksi tekstil di Indonesia. Dia mencontohkan, banyak industri yang mengurangi produksi karena terkendala masalah pengolahan limbah.

"Kami mendukung Program Citarum Harum, tapi untuk bisa sepenuhhnya mengelola IPAL secara baik, tidak bisa dilakukan dalam waktu satu dua bulan. Paling tidak butuh waktu dua tahun untuk pembenahan insfrastuktur. Sambil menunggu itu, pengusaha tekstul terpaksa mengurangi produksi, karena masih keterbatasan pengelolaan IPAL,"  katanya.

AYO BACA : Industri Tekstil Lesu Seiring Menurunnya Daya Beli Masyarakat

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar