Yamaha Lexi

Hakim Kasus Bahar Smith: Disdukcapil Bukan Malaikat

  Rabu, 24 April 2019   Anya Dellanita
Bahar Smith. (Airfan Al-Faritsi/ayobandung).

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM--Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bogor mengatakan salah satu korban, MKU, masih di bawah 17 tahun saat dianiaya Bahar bin Smith, dibuktikan oleh database yang dicatat Disdukcapil Bogor. Hal ini menjadi salah satu persoalan yang dibahas dalam sidang lanjutan pada Rabu (24/4/2019).

"Kalau sampai penyidikan, belum genap 17 tahun," kata salah satu petugas Disdukcalil Bogor, Adi Kurniawan, yang menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus penganiayaan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan, Jalan Seram, Kota Bandung.

Menurut Adi,  MKU lahir pada 13 Desember 2001 berdasarkan data kependudukan. Adi mengatakan, MKU melalui ayahnya membuat akta kelahiran ke Disdukcapil pada tahun 2008.

Setelah saksi menyampaikan keterangannya, Bahar bin Smith angkat bicara. Bahar menanyakan tentang apakah ada kesengajaan menambah angka tanggal lahir yang dilakukan oleh orang tua korban saat membuat akta kelahiran. Dia juga menanyakan soal syarat-syarat pengajuan akta kelahiran.

"Ini syarat mengajukan akta kelahiran apa?" tanya Bahar.

"Harus ada form pengajuan dari kepala keluarga," jawab Adi.

"Bisa jadi kepala keluarga menambahkan umur?" tanya Bahar lagi.

"Ya tidak tahu rinci, karena sesuai yang dilampirkan," kata Adi.

Di tengah-tengah dialog antara saksi dan Bahar, hakim ketua Edison Muhammad memotong pertanyaan Bahar terkait umur korban. Edison mengatakan berdasarkan keterangan saksi, pengajuan akta kelahiran dilakukan atas dasar pengakuan dari keluarga.

"Data tetap dari keluarga, jadi Disdukcapil tidak tahu. Kalau keluarga bilang sekian ya sekian. Disdukcapil bukan malaikat yang tahu kapan lahirnya. Dia dapat data berjenjang," ujar Edison.

Edison juga menambahkan, kalau data tahun data diinput dan peristiwa tidak berpengaruh pada peistiwa. Karena tentunya tidak ada orang yang memperhintungkan akan terjadi kejadian itu.

"Terdakwa, saya mengerti. Data diinput tahun 2008, lahirnya tahun 2001, peristiwa tahun 2018. Apakah orang tua memperhitungkan akan terjadi ini?" tambahnya.

Setelah menjelaskan, hakim mempersilakan Bahar menanggapi. Namun Bahar hanya diam.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, Bahar dijerat pasal berlapis. Bahar didakwa melanggar Pasal 333 ayat 1 dan/atau Pasal 170 ayat 2 dan/atau Pasal 351 ayat 1 jo Pasal 55 KUHP. Selain itu, jaksa mendakwa Habib Bahar dengan Pasal 80 ayat (2) jo Pasal 76 C Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar