Yamaha Mio S

Penduduk Kota Sukabumi Jabar Bertambah 4.600 Jiwa/Tahun

  Rabu, 24 April 2019   M. Naufal Hafiz
Ilustrasi: Kawasan padat penduduk di sekitar Jalan Cihampelas, Kota Bandung. (Ramdhany/Ayobandung.com)

SUKABUMI, AYOBANDUNG.COM—Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Sukabumi mencatat rata-rata penduduk kota ini bertambah 4.600 jiwa setiap tahunnya.

Laju pertumbuhan penduduk di Kota Sukabumi masih tinggi yakni 1,4 persen/tahun dari total jumlah penduduk saat ini sebanyak 328.680 jiwa, kata Plt Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat Kota Sukabumi Nicke Siti Rahayu di Sukabumi, Rabu (24/3/2019).

Menurut dia, tingginya pertambahan penduduk ini disebabkan beberapa faktor seperti angka bayi lahir yang tinggi juga ditambah adanya warga dari daerah lain yang datang ke Kota Sukabumi baik untuk menetap, bekerja dan lain-lain.

Namun, yang paling memengaruhi laju pertumbuhan penduduk tersebut adalah angka kelahiran yang tinggi. Hal ini karena masih banyak warga yang belum sadar dalam menjalankan rumah tangganya tidak melakukan program keluarga berencana.

Tentunya, untuk menekan laju pertumbuhan penduduk tersebut harus ada sinergitas antarlembaga ataupun kedinasan dengan melibatkan masyarakat. Dengan intervensi program tentunya diharapkan laju pertumbuhan penduduk ini bisa ditekan bahkan diharapkan turun di bawah satu persen.

Meskipun laju pertumbuhan penduduk di Kota Sukabumi masih di bawah Jabar yang mencapai dua persen, tetapi tetap menjadi perhatian pihaknya. Apalagi kota moci ini merupakan kota yang luas wilayahnya kecil.

Tentunya upaya yang dilakukannya itu tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan program pembangunan keluarga melalui KB sehingga bisa dilakukan pembinaan mulai dari bina keluarga balita hingga lansia.

Kami pun terus menyosialisasikan kepada masyarakat agar usia tepat untuk menikah adalah 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. Tentunya batas usia tersebut mengacu kepada keseimbangan psikologi dan kejiwaannya agar saat menjalani biduk rumah tangga emosional terjaga dan cepat mapan, tambahnya.

Nicke mengatakan sebenarnya kesadaran masyarakat untuk menjalankan program KB sudah baik apalagi di daerah ini ratusan pria memilih menjalani program KB vasektomi, tetapi memang harus diakui jumlahnya tidak sebanding dengan yang tidak ber-KB.

Selain itu, kepada pasangan suami istri agar bisa membuat program memiliki anak yang alangkah baiknya jarak kelahiran lima tahun dengan jumlah anak cukup dua orang saja. Tentunya jumlah penduduk ini pun berpengaruh terhadap persediaan pangan, lapangan pekerjaan, fasilitas kesehatan dan pendidikan. (KR-ADR).

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar