Yamaha Aerox

‘Follower’ Hilang, Donald Trump Mengeluh Kepada CEO Twitter

  Rabu, 24 April 2019   M. Naufal Hafizh
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan sambutan sebelum menandatangani Undang-Undang Pilihan dan Kualitas Pekerjaan Ketenagakerjaan Veteran di perkebunan golf Trump di Bedminster, New Jersey, AS, 12 Agustus 2017. (Jonathan Ernst/REUTERS)

WASHINGTON, AYOBANDUNG.COM—Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (23/4/2019) bertemu dengan Kepala Pejabat Pelaksana Twitter Inc's Jack Dorsey dan menghabiskan waktu yang menyenangkan untuk menanyai dia mengenai mengapa presiden AS itu telah kehilangan sebagian "follower" di Twitter.

Pertemuan tersebut, yang diadakan di Gedung Putih, dilakukan beberapa jam setelah Trump kembali menyerang perusahaan media sosial itu mengenai klaimnya bahwa media tersebut bias terhadap kubu konservatif.

"Pertemuan luar biasa sore ini di @GedungPutih dengan @Jack fari @Twitter. Banyak topik dibahas berkaitan dengan landasan mereka, dan dunia media sosial secara umum. Sangat ingin terus mempertahankan dialog terbuka," dengan cuitan Trump, sebagaimana dikutip Reuters. Presiden AS tersebut menyiarkan gambar Dorsey dan orang lain bersama dia di Oval Office.

AYO BACA : Kim Jong-un Segera Bertemu Putin di Rusia

Pada Selasa pagi, Trump menyatakan Twitter bias terhadap dia tanpa memberi bukti. Ia menulis di Twitter bahwa perusahaan itu "tidak memperlakukan saya dengan baik sebagai anggota Partai Republik. Sangat diskriminasi."

Di dalam satu pernyataan, Twitter mengatakan Dorsey mengadakan "pertemuan yang konstruktif dengan presiden Amerika Serikat hari ini atas undangan presiden. Mereka membahas komitmen Twitter untuk melindungi kesehatan percakapan umum sebelum pemilihan presiden 2020 dan upaya yang dilancarkan untuk menanggapi krisis opium".

Tidak seperti pejabat pelaksana perusahaan teknologi utama lain di AS, Dorsey sebelumnya tak pernah bertemu dengan Trump.

AYO BACA : Akhirnya Amerika Ikut Kandangkan Boeing 737 Max 8 dan 9

Ia tidak diundang ke pertemuan Desember 2016 dengan presiden terpilih AS, Donald Trump, sedangkan wakil perusahaan utama teknologi lain diundang. Reuters pada 2016 melaporkan Trump marah dengan Twitter sebab perusahaan tersebut telah menolak kesepakatan iklan dengan kampanyenya.

Pada Oktober, Trump menulis bahwa "Twitter telah menghilangkan banyak orang dari akun saya dan, yang lebih penting, mereka tampaknya telah melakukan sesuatu yang membuat lebih sulit untuk bergabung—telah menahan pertumbuhan sampai tahap yang jelas buat semua orang ..." 

Trump kehilangan 204.000, atau 0,4 persen, dari 53,4 juta pengikut pada Juli 2018, ketika Twitter memulai pembersihannya terhadap akun yang mencurigakan, kata perusahaan data media sosial Keyhole.

Trump memiliki salah satu akun dengan pengikuti paling banyak di Twitter. Namun, presiden AS itu dan anggota Partai Republik di Kongres telah berulangkali mengkritik perusahaan tersebut dan pesaing media sosialnya atas apa yang telah mereka sebut bias terhadap kubu konservatif, tapi Twitter telah membantah tudingan itu.

Senator AS dari Demokrat Mazie Hirono pada awal April mengatakan, "Kita tak boleh membiarkan Partai Republik mengganggu perusahaan teknologi dengan melemahkan kebijakan isinya yang sudah gagal menghapuskan isi yang menyesatkan, berbahaya dan penuh kebencian".

AYO BACA : Rilis 'Monopoly', Ariana Grande Halau Haters, Trump, dan Lain-lain

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar