Yamaha Mio S

Parentas, Desa Perbatasan Tasikmalaya dan Garut yang Terbatas

  Selasa, 23 April 2019   Irpan Wahab Muslim
Gapura Desa Parentas. (Irpan Wahab/Ayobandung.com)

CIGALONTANG, AYOBANDUNG.COM—"Paling kalau mau online harus ke Pasir Nini, karena di bawah sinyalnya susah." Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulut perempuan berusia 31 tahun bernama Ria Rismayanti, warga Parentas Desa Parentas, Kecamatan Cigalontang, saat Ayotasik.com bertanya kegiatannya di bukit Pasir Nini. 

Ria yang berprofesi sebagai guru di SDN Parentas sengaja mendatangi bukit Pasir Nini untuk membuka Facebook, Instagram, maupun Whatsapp untuk mengetahui informasi yang masuk. Hal ini dilakukan karena dia kerap ketinggalan informasi yang beredar terkait pendidikan.

Ria menambahkan, lokasi bukit Pasir Nini yang berada di puncak bukit merupakan satu titik area dengan sinyal cukup kuat. Berbeda dengan permukiman yang berada di bawahnya yang susah sinyal. Bukit Pasir Nini ditandai dengan gapura Desa Parentas.

AYO BACA : Ini Desa Digital Pertama yang Jadi Percontohan di Jabar

"Apalagi kalau sore hari, semua remaja berkumpul di sini. Ini sinyal paling kuat di antara permukimam," papar Ria kepada Ayotasik.com, Selasa (23/4/2019).

Akibat sinyal yang kerap susah di permukiman, tidak jarang Ria melewatkan pertemuan guru di tingkat kecamatan maupun kabupaten karena medan menanjak ke Pasir Nini menyulitkan perjuangannya.

"Meskipun ada motor tapi kan capek harus tiap jam bulak-balik. Permukiman sangat susah sinyal. Kadang ada kadang juga engga," papar Ria.

AYO BACA : Desa Cisayong Alokasikan Dana Desa untuk Revitalisasi Stadion Sakti Lodaya

Pada saat yang sama, di lokasi Pasir Nini juga tampak seorang anak berusia 8 tahun yang sedang asyik memainkan ponsel miliknya. Saat ditanya, ia sedang mengunduh beberapa him untuk dimainkan di rumah. Selain mengunduh gim, anak bernama Rizki Ramadhan juga mengunduh beberapa musik islami dan selawat.

"Kalau di rumah mah susah tidak ada sinyal, paling sepulang sekolah baru ke sini. Paling nga-download gim da di rumah mah sok sesah (suka sulit)," papar Rizki.

Selain akses komunikasi yang terbatas, kondisi akses jalan di desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Garut juga memprihatinkan. Akses jalan berbatu bercampur tanah merah sering menyulitkan pengendara.

Selain itu, kondisi lebar jalan cukup sempit dibandingkan lebar jalan di daerah lain. 

Kondisi rusaknya akses jalan ini sudah terjadi selama puluhan tahun. Berbagai upaya meminta Pemerintah Daerah untuk melakukan perbaikan baru direalisasi pada tahun ini. Itu pun baru sebatas pembukaan akses jalan, pelabaran akses jalan dengan menggunakan excavator.

AYO BACA : Dana Desa Tidak Boleh Mengendap Lebih dari 7 Hari

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar