Yamaha Lexi

Mengenal 4 Masjid Tertua di Kota Bandung

  Selasa, 23 April 2019   Adi Ginanjar Maulana
Masjid Cipaganti salah satu masjid tertua di Kota Bandung.(Irfan Alfaritsi)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Bulan Ramadan tinggal menghitung hari. Umat Muslim sejak jauh hari sudah mempersiapkan keperluan mulai dari ibadah hingga tradisi mudik.

Ya, berbicara soal ibadah, di Kota Bandung terdapat beberapa masjid tua yang bisa jadi rekomendasi bagi Anda untuk melakukan ritual di tempat tersebut. Berikut empat masjid tua di Kota Bandung yang dirangkum Ayobandung.com:

Masjid Raya Buahbatu

Memasuki kawasan Margacinta tepatnya di Pasar Kordon, kita akan menemukan bangunan megah berupa masjid. Ya, itulah Masjid Raya Buahbatu yang konon katanya merupakan bangunan terbesar di Bandung selatan. Pembangunan masjid sendiri dimulai pada 10 November 1938 dan diresmikan 9 Juli 1939. 

Sebuah prasasti di dalam masjid menjadi bukti sejarah tentang perjalanan Masjid Raya Buahbatu. 

Prasasti tersebut berupa sebuah lempeng batu marmer persegi yang menempel di salah satu tiang teras masjid. 

Pada lempengan marmer yang bertuliskan huruf latin dengan bahasa Sunda itu dijelaskan dengan lengkap semua data mengenai pembangunan masjid ini. 

Pemasangan batu pertama pembangunan masjid dilakukan oleh Padoeka Kandjeng Dalem Raden Wiranatakoesoema sebagai Bupati Bandung. 

Adapun yang bertugas sebagai pelindung panitia pembangunan masjid, yang pada zaman belanda disebut dengan Beschermheer, adalah Raden Wiriadipoetra yang juga menjabat sebagai Wedana Oejoengbroeng (atau setara dengan pembantu Bupati). Serta MAS Memed Wiriasoemitra, yang saat itu menjabat Opzichter Desawerken RR Bandoeng, atau yang bertugas sebagai pengawas. 

Dulu nama masjid ini adalah Masdjid Kaoem Boeahbatoe. Sampai pada sekitar tahun 1988 dilakukan renovasi besar-besaran. 

Masjid Agung Buahbatu sekarang memiliki satu kubah besar warna emas dengan balutan dinding luar dari kaca bermotif dan berkaligrafi warna kuning dan hijau. 

AYO BACA : Menelusuri Jejak Petasan saat Ramadan

Kusen kayu jati yang dipasang di sekeliling bangunan masjid semakin menambah kemegahannya. Juga terdapat hiasan kaligrafi yang menempel pada kubah bagian dalam berpadu dengan lampu hias, membuat nilai artistik masjid semakin bertambah. 

Di samping itu, di lantai dua masjid terdapat beduk sejarah yang sudah berdiri sejak 1960. Dengan luas tanah 2.300 meter persegi dan luas bangunan 500 meter persegi Masjid Raya Buahbatu dapat menampung 1.000 jamaah.

Masjid Mungsolkanas

Sejenak mengingat pertempuran Bandung Utara yang jadi simbol perjuangan melawan kolonial Belanda tempo dulu. Menyertakan nama tiga laskar dan satu masjid dalam lingkaran. 

Adalah Masjid Mungsolkanas sebagai penanda awal peradaban Islam di Bandung yang juga jadi basis perjuangan melawan penjajah. 

Berdiri sejak tahun 1869. Catatan waktu yang menempatkan Mungsolkanas sebagai salah satu masjid tertua di Kota Bandung. 

Alih-alih menggunakan Bahasa Arab layaknya masjid kebanyakan, Mungsolkanas merupakan singkatan yang diambil dari kirata Sunda yakni "Mangga Urang Ngaos Sholawat Ka Kanjeng Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasallam". 

Hingga kini Mungsolkanas masih elok berdiri walau dihimpit bangunan pencakar langit di sekitar Jalan Cihampelas Bandung. Lokasinya berada dalam Gang Winataatmaja, seberang Rumah Sakit Advent. 

Awalnya, Masjid Mungsolkanas lebih mirip mushala sederhana berbentuk panggung yang terbuat dari material kayu dan beton. Luas lahannya hanya sekitar 80 meter persegi dengan teras berupa kolam air. 
Pemugaran dilakukan pertama kali pada tahun 1933 bersamaan dengan pembangunan awal dari Masjid Raya Cipaganti oleh arsitek kenamaan asal Belanda bernama Wolff Schoemaker. 

Tentu, Mungsolkanas kalah mewah dan besar. Wajar karena pendirian Masjid Raya Cipaganti dibiayai oleh pemerintah Hindia Belanda, sementara Mungsolkanas berasal dari inisiasi para ulama Islam ketika itu.

Masjid Cipaganti

AYO BACA : Tips Tidur Sehat saat Ramadan

Bila kita berkunjung ke Kota Bandung pada bulan Ramadan, sisihkan waktu khusus untuk mengunjungi Masjid Cipaganti. Masjid ini adalah salah satu masjid tertua di Kota Bandung, malah yang unik, bangunan masjid ini menyuratkan akulturasi pada bentuk arsitekturnya.  

Dirancang oleh arsitek kenamaan asal Belanda, C.P. Wolf Schoemaker pada tahun 1933, Masjid Cipaganti berdiri dilatar belakangi oleh pemindahan pusat pemerintahan ke Kota Bandung sebelah utara atas titah dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu.  

Dalam pendiriannya, bupati Bandung, Raden Temenggung Hassan Soemadipradja bersama dengan Patih Bandung Raden Rc Wirijadinata meminta untuk melakukan pembicaraan sesama staf. Lekas setelah itu, hasil obrolan meminta agar dibangun sebuah masjid.  

Masjid yang terletak di Jalan Cipaganti (sekarang jalan Wiranatakusumah) ini masih berdiri kokoh hingga saat ini. Umurnya sudah 84 tahun dan bentuk bangunan ini masih dipertahankan keasliannya.   

Bentuk arsitektur sendiri memadukan gaya bangunan ala Jawa dan Eropa Belanda. Unsur Jawa dapat terlihat dari ukiran-ukiran dalam dan luar masjid serta pada menara yang menjadi kubah masjid dengan bentuk segitiga. Sedangkan dibagian depan bangunan, ditunjang oleh pilar yang menunjukan bangunan ala Eropa.   

Untuk bagian dalam masjid, terdapat tiang-tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati, menurut Uju tiang tersebut merupakan simbol kekuatan juga khas tanah Jawa. Ada soko, penyangga yang empat. Menjadi simbol akan kekuatan masjid, dibantu dengan tiang-tiang yang lainnya. Jati sendiri sebagai ciri bahwa ini tanah Jawa. 

Masjid Raya Cipaganti sendiri telah beberapa kali melakukan renovasi. Pada pendiriannya, pembangunan masjid hanya memakan waktu satu tahun lamanya dengan ukuran masjid sekitar tujuh kali sembilan 9 meter. Namun pada tahun 1965 dan 1979 dilakukan renovasi untuk menambah daya tampung masjid.

Masjid Besar Ujungberung 

Masjid Besar Ujungberung menjadi salah satu masjid favorit yang dikunjungi warga Bandung Timur selama bulan Ramadan. 

Mengingat lokasinya yang cukup strategis di depan Alun-alun Ujungberung, tak heran masjid ini menjadi pusat kegiatan masyarakat yang ada di sana. ayobandung merangkum seluk beluk tentang Masjid Besar Kaum Ujungberung. 

Mulanya bernama Masjid An-Nur Mulanya, masjid ini bernama An-Nur, yang dalam bahasa Arab berarti ‘cahaya’. Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi sejak berdiri pada 1813. Kegiatan renovasi terakhir dilakukan sekitar 15 tahun yang lalu. 

Salah satu pusat kajian Islam di Bandung Timur Mengingat luasnya yang kurang lebih mencapai 9.000 meter persegi, tak heran kalau Masjid Besar Ujungberung jadi salah satu pusat kajian Islam di Bandung timur. 

AYO BACA : 7 Manfaat Berpuasa di Bulan Ramadan

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar