Yamaha Mio S

Joko Susilo Buat Alat Pemusnah Sampah untuk Lingkungan Sekitarnya

  Senin, 22 April 2019   Ananda Muhammad Firdaus
Joko Susilo (57), warga Perum Tytyan Kencana RT 12 RW 06, Kelurahan Margamulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, membuat alat pembakar sampah atau incinerator untuk membantu memusnahkan sampah di lingkungannya. (Ananda M. Firdaus/Ayobandung.com)

BEKASI UTARA, AYOBANDUNG.COM—Joko Susilo (57), warga Perum Tytyan Kencana RT 12 RW 06, Kelurahan Margamulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, berhasil membuat alat pembakar sampah atau disebut incinerator.

Pembuatan alat itu, ujar Joko, berawal dari keinginan warga membereskan masalah sampah di lingkungan RT. Nilai pembuatannya kurang lebih mencapai Rp150 juta. 

"Pada tahun 2013, warga sepakat mengelola sampah dengan cara tidak membuang sampah ke Bantargebang (ke TPA), sampah kita selesaikan dengan cara warga sendiri. Terus kita sepakat mengembangkan incinerator," terang Joko kepada Ayobekasi.net, Minggu (21/4/2019).

Joko bercerita, awalnya incinerator di lingkungan RT-nya ditempatkan pada sebidang tanah yang tidak terlalu luas berupa bedeng atau bangunan semipermanen. Namun, bedeng itu akhirnya diubah menjadi permanen sebagai tempat pembuangan sementara (TPS) 3R hasil bantuan pemerintah provinsi. 

AYO BACA : 3 Tips Memulai Gaya Hidup Zero Waste

"Tahun 2018 kita dapat bantuan dari Dinas PUPR Jawa Barat untuk mengembangkan infrastrukturnya dari bedeng menjadi bangunan permanen TPS 3R, senilai Rp350 juta," ungkapnya. 

Bantuan itu tidak ujug-ujug datang tanpa ada hasil konkret dari alat pemusnahnya, yang juga sudah dikembangkan menjadi generasi ketiga. Hal itu bisa disebut sebagai apreasiasi lantaran alatnya kini dapat memusnahkan sampah per hari di lingkungan RT 150-200 kilogram per jam. Alat itu maksimal dapat memusnahkan sampah hingga 1 ton. 

Dia mengungkapkan, cara kerjanya cukup sederhana. Awalnya pihaknya menjemput sampah-sampah dari tiap rumah atau secara langsung warga menaruh sampah di TPS 3R. Selanjutnya, sampah-sampah itu dipilah berdasarkan jenis maupun kondisinya.

Setelah rangkaian pemilahan, sampah dipadatkan melalui mesin press. Selanjutnya, sampah siap dilumatkan menjadi abu melalui incinerator yang maksimal dapat mengumpulkan suhu hingga 900 derajat. 

AYO BACA : The Trashbag Project, Ubah Spanduk Caleg Jadi Kantong Sampah

Dia mengatakan, walau secara aturan memusnahkan sampah tidak direkomendasikan dengan cara dibakar, namun lewat serangkaian pengembangan, dirinya bisa menekan potensi bahaya sampah dibakar melalui alatnya.

"Gas buangnya kita scrapping pakai peralatan. Jadi, emisinya kita semprot pakai air, terus partikel yang terbang yang terikat dengan air-air itu jatuh turun (hasil pembakaran menjadi air). Kita juga tes pH-nya (air buangan) ternyata normal. Jadi, boleh dibuang di selokan, kecuali endapannya kita urug," papar Joko. 

Joko mengatakan, alatnya telah mendapat apresiasi hingga mendapat predikat terbaik pada perlombaan tingkat kota dan provinsi. Bahkan, sebelum alat itu ada, Joko pernah merancang incinerator untuk rumah tangga dengan kapasitas kurang dari 10 kilogram. 

Dia mengatakan, keberhasilannya membuat incinerator dilatari dari pekerjaan-pekerjaannya terdahulu yang kurang lebih mengetahui tentang ruang bakar. Dengan begitu, dirinya mampu untuk membuat desain, pemasangan, kebutuhan listrik, hingga pengoperasian incinerator

Kendati tiap daerah mempunyai cara tersendiri mengelola sampah lingkungan, Joko mengharapkan terobosan warga di RT-nya turut menginspirasi. Mengingat juga, lanjut Joko, permasalahan sampah ibarat hajat hidup yang harus diselesaikan bersama-sama dan dengan seksama. 

"Harapan kita ya bahwa sampah itu masalah kita semua, maka diharap peduli, sampah itu bagi kami adalah hajat, maka jadi tanggung jawab semua orang," tandasnya.

AYO BACA : HUT Kabupaten Bandung: Masyarakat Ingin Selesaikan Banjir dan Sampah

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar