Yamaha NMax

Wadah Ramah Lingkungan dari Si 'Tanaman Perusak'

  Senin, 22 April 2019   Anya Dellanita
Kerajinan dari tanaman eceng gondok di Waduk Saguling. (Anya Dellanita/ayobandung.com)

CIHAMPELAS, AYOABANDUNG.COM -- Eceng gondok, tanaman gulma yang berada di Waduk Saguling, telah menjadi masalah yang krusial. Pertumbuhannya yang sangat cepat membuat tanaman ini dianggap merusak lingkungan perairan. 

Melihat hal tersebut, seorang warga Kampung Babakan Cianjur, Desa Cihampelas, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Indra Darmawan tergerak hatinya untuk menanggulangi masalah ini. Sejak 2001, pria berusia 47 tahun ini mengumpulkan sampah di sekitar Waduk Saguling bersama beberapa warga. Sampah-sampah rumah tangga seperti plastik bekas dan botol bekas air mineral dipilah untuk dijual kepada pengepul.

Usaha Indra tersebut membuahkan hasil. Setelah beberapa lama, akhirnya dia berhasil menemukan cara untuk memanfaatkan sampah-sampah tersebut sebagai sumber ekonomi masyarakat di daerah sekitarnya.

AYO BACA : Generasi Milenial Semakin Gencarkan Program Diet Plastik

Akhirnya, pada 2009 Indra behasil membuat lembaga ekonomi bernama Koperasi Bangkit Bersama. Koperasi ini tidak hanya berfungi sebagai koperasi simpan pinjam, tapi juga sebagai tempat untuk mengolah limbah plastik dan daur ulang limbah jadi kerajinan tangan.

Di sinilah eceng gondok tersebut diolah dan berubah bentuk menjadi kerajinan cantik, seperti tas belanja. Produk-produk kerajinan ini juga dipasarkan di festival tahunan bernama Festival Citarum dan diekspor ke luar negeri.

"Sudah diekspor ke luar negeri seperti Belgia dan Belanda," kata Indra saat ditemui di showroom-nya, beberapa waktu lalu.

AYO BACA : Zzero Waste Warriors, Pejuang Lingkungan Berawal dari Sedotan

Indra mengungkapkan, omzet kerajian eceng gondok yang dijual oleh Koperasi 'Bangkit Bersama' bisa menembus Rp 5 juta hingga Rp 8 juta per bulan. Koperasinya telah memiliki anggota sekitar 200 orang, termasuk 50 orang pemulung yang difasilitasi perahu dan ibu-ibu perajin anyaman eceng gondok.

Selain membentuk koperasi, dia juga mendirikan sebuah yayasan yang bernama Yasasan Bening Saguling pada 2014 yang difokuskan pada pemberdayaan pendidikan. Seperti taman baca bagi anak-anak pemulung, Hutan Komunitas, Bank sampah di 15 sekolah di kecamatan Cihampelas dan Batujajar juga kampanye untuk tidak membuang sampah ke sungai.

Indra juga mengatakan dia sering kedatangan berberapa relawan dari luar negeri yang berniat mempelajari tentang budaya di sekitar situ. Baru-baru ini, dia kedatangan relawan asal Perancis dan Jepang. Biasanya mereka di tempat itu selama 4 bulan.

Kecintaan indra pada bidang pendidikan diungkapkan dengan tekadnya yang keras untuk menjadikan anak-anak para pemulung sebagai sarjana. “Jika saya dulu selesai kuliah menjadi pemulung, maka sekarang saya mempunyai tujuan menjadikan para pemulung sebagai sarjana” ujarnya.

AYO BACA : Jabar Bakal Olah Limbah Plastik Jadi Solar

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar