Yamaha Lexi

Kesetaraan dan Peran Perempuan

  Minggu, 21 April 2019   Dadi Haryadi   Netizen
RA Kartini. (Istimewa)

55 tahun sudah Hari Kartini dirayakan. Melalui Keputusan Presiden RI Nomor 108 Tahun 1964, perjuangan Kartini dalam mendorong emansipasi wanita mulai diperingati. Kesetaraan dan keadilan gender terus disuarakan. Pun emansipasi wanita, sampai saat ini masih didengungkan. Lebih dari setengah abad diperingati, ketidakadilan dan kekerasan terhadap perempuan masih saja terjadi. Terlihat jelas secara kasat mata, maupun tersembunyi. Media seringkali mewartakannya.

Hasil Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (BPS dan Kementerian PPPA, 2016) menyebutkan, sebanyak 33,4 persen perempuan di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik dan/atau seksual dalam kehidupannya. Menjadi hal yang galib jika hal ini perlu terus diperjuangkan. Mengurangi kekerasan terhadap perempuan di mana pun, krusial untuk diperjuangkan.

Salah satu ikhtiar adalah menjadikannya sebagai bagian tujuan pembangunan. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) kelima adalah menjamin kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan. Melalui tujuan ini, ditargetkan untuk (1) mengakhiri segala bentuk diskriminasi terhadap kaum perempuan di mana pun, (2) menghapuskan segala bentuk kekerasan terhadap kaum perempuan di ruang publik dan pribadi, termasuk perdagangan orang dan eksploitasi seksual, serta berbagai jenis eksploitasi lainnya.

Melalui target yang ditetapkan dalam SDGs, harapannya akan terwujud kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Perempuan akan memiliki akses dan kontrol yang sama terhadap sumber daya pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun sumber daya kehidupan lainnya. 
Akses (peluang) merupakan kesempatan untuk menggunakan sumberdaya ataupun hasilnya tanpa kewenangan untuk mengambil keputusan. Adapun kontrol (penguasaan) merupakan kewenangan penuh untuk mengambil keputusan atas penggunaan dan hasil sumberdaya. Akses dan kontrol perempuan dalam ruang gerak kehidupannya dapat ditunjukkan melalui aktivitas peran dan keterlibatan perempuan dalam kesehatan, pendidikan, ekonomi, politik, maupun ruang publik lainnya.

AYO BACA : Indari Mastuti,

Akses perempuan dalam kesehatan telah terbuka lebar, sama dengan laki-laki. Bahkan, Usia Harapan Hidup saat lahir (UHH) perempuan di Indonesia tahun 2018 (73,19 tahun) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (69,30 tahun). Dengan berbagai persoalannya, harapan hidup perempuan lebih panjang dibandingkan laki-laki.

Di dunia pendidikan, Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) penduduk perempuan Indonesia usia 7 tahun pada tahun 2018 telah mencapai 12,99 tahun. Adapun penduduk perempuan usia 25 tahun ke atas pada tahun yang sama rata-rata telah menyelesaikan pendidikan hingga kelas 7 (Rata-rata Lama Sekolah 7,72 tahun). RLS laki-laki telah mencapai 8,62 tahun. Tidak jauh berbeda. Kondisi ini menunjukkan, perempuan memiliki peluang yang sama dalam mengenyam pendidikan.

Di pasar kerja, keterlibatan perempuan semakin meningkat setiap tahunnya. Diantaranya dapat dilihat dari TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja), yang menunjukkan persentase angkatan kerja yang aktif dalam ekonomi. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) kondisi Agustus 2015 menunjukkan TPAK perempuan di Indonesia sebesar 48,87 persen. Tiga tahun kemudian, pada Agustus 2018 keterlibatannya meningkat menjadi 51,88 persen.

Di dunia politik, keterlibatan perempuan pun semakin meningkat. Pada pemilu tahun 1955, jumlah anggota DPR perempuan hanya sebanyak 5,88 persen. Kemudian pada pemilu 2014 jumlahnya meningkat menjadi 17,32 persen. Meningkat, walaupun masih jauh dari target 30 persen keterlibatan perempuan di parlemen.

AYO BACA : Hari Kartini: Peran Perempuan Menurut Istri Wali Kota Bandung

Berbagai indikator dan dimensi pembangunan manusia khususnya perempuan Indonesia menunjukkan adanya tren meningkat setiap tahunnya. Kondisi ini menunjukkan kualitas hidup perempuan Indonesia semakin baik. Indeks Pembangunan Gender (IPG) sebagai salah satu indikator yang menunjukkan capaian pembangunan manusia perempuan dibandingkan dengan laki-laki. IPG pada tahun 2018 telah mencapai 90,99, sedikit meningkat jika dibandingkan kondisi delapan tahun sebelumnya (2010) yang mencapai 89,42.

Data dan fenomena menunjukkan peran perempuan di ranah publik semakin besar. Perempuan semakin terlibat aktif dalam berbagai ruang penghidupan. Beberapa dimensi telah menunjukkan akses perempuan telah sama. Namun masih ada gap dan ketertinggalan pada dimensi lain. Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, adalah memberikan kesempatan untuk maju dan berkembang secara setara antara laki-laki dan perempuan.

Setara tidak berarti harus sama. Karena laki-laki dan perempuan berbeda. Perempuan memiliki banyak peran yang harus dijalani. Ketika perempuan berperan di ranah publik, ada ranah domestik yang juga harus dikelola. Upaya memberdayakan perempuan agar berdaya secara ekonomi, tidak hanya menyediakan pekerjaan dan pendapatan bagi perempuan. Mendorong perempuan aktif di dunia kerja, perlu didorong ketersediaan fasilitas dan sarana pendukung. Penyediaan tempat penitipan anak di sekitar lokasi kerja misalnya, perlu menjadi pemikiran. Berkembangnya ekonomi, apalagi berubahnya industri saat ini, ketersediaan asisten rumah tangga menjadi kendala utama bagi perempuan bekerja.

Perempuan, dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki, memegang peran penting bagi keberlangsungan suatu bangsa. Perempuan erat dengan berbagai persoalan. Banyak persoalan terkait perempuan yang masih perlu didorong. Meningkatkan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi keluarga sangat dekat  dengan peran perempuan di dalamnya. Bukan hanya masalah perempuan, tapi persoalan bersama.

Peringatan Hari Kartini, kiranya tidak hanya sekedar seremonial semata. Mengejar target SGDs terkait perempuan perlu menjadi perhatian. Mencapai goals SDGs terkait perempuan, perlu partisipasi berbagai pihak, karena meningkatkan kualitas penduduk Indonesia, tidak lepas dari pentingnya meningkatkan kualitas perempuan. Berbagai program telah digulirkan. Berbagai sarana telah dibangun. Mari sama-sama berupaya dan berjuang. Membangun perempuan Indonesia. Selamat Hari Kartini!

Isti Larasati Widiastuty
Statistisi Madya di BPS Provinsi Jawa Barat

AYO BACA : Oded: Perempuan Kota Bandung Luar Biasa

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar