Yamaha

Damailah Pilpresku

  Minggu, 21 April 2019   Netizen
Ilustrasi pemilihan umum 2019.

Setelah selesai hari pemungutan suara pada 17 April 2019, beberapa jam kemudian keluarlah hasil penghitungan suara berdasarkan quick count yang dipublikasikan di berbagai media massa. Hasil perhitungan cepat ini membuat ‘geer’ kedua belah kubu. Karena masing-masing versi memberikan hasil yang berbeda, ada yang mengunggulkan pasangan 01 dan mengunggulkan pasangan 02.

Untuk memastikan suaranya tidak berubah, maka setiap capres dari kedua kubu terus menyerukan kepada tim pendukung dan relawannya untuk mengawal suara sampai akhir. Ada beberapa drama di sela-sela penghitungan suara cepat ini.

Seringkali kedua kubu mendeklarasikan kemenangan. Jokowi-Amin mengklaim menang berdasarkan quick count beberapa lembaga survei, dan Prabowo-Sandiaga pun begitu ‘pede’ berhasil mengungguli 01 atas dasar exit poll dengan jumlah yang cukup signifikan, yaitu sekitar 60 %.

Kedua kubu begitu yakin kalau merekalah yang akan keluar sebagai pemenang dalam pemilihan presiden RI ke-8. Hampir setiap hari mereka mempertontonkan syukuran kemenangannya. Padahal kemenangan yang sesungguhnya masih lama. Meskipun beberapa kali dalam kompetisi pemilihan kepala daerah dan presiden, quick count sering kali memperlihatkan hasil yang sesuai dengan real count.

Kondisi ini membuat masyarakat menjadi bingung. Ada apa sesungguhnya yang terjadi digelaran Pilpres 2019 yang berbeda dengan Pilpres sebelumnya? Media menyiarkan quick count yang berubah dengan cepat, sampai-sampai KPI turut campur untuk menenangkan televisi yang telah menampilkan berbagai hasil lembaga survey.

Tayangan-tayangan survey yang berbeda inilah yang memicu kritik dan memperlihatkan kebohongan publik. Beruntung tayangan hasil survey ini tidak berlanjut, seandainya kalau terus ditayangkan maka publik semakin gelisah dan bimbang.

Lembaga survey yang seharusnya memperlihatkan hasil kerja ilmiah yang benar-benar independen, dan bisa memberikan kepuasan kepada masyarakat, malah membuat masyarakat kebingungan.  Karena lembaga-lembaga survey dikesani tergantung pesanan para kontestan, maka sudah menjadi rahasia umum kalau hasilnya pun sesuai dengan siapa yang bayarnya.

Di sisi lain, media sosial dengan gencar memberondong berbagai sebaran informasi yang berbeda dengan media massa. Berbeda kondisinya dengan Pilpres 2014 media sosial tidak seaktif sekarang dalam menampilkan hasil-hasil penghitungan di setiap daerah, termasuk setiap TPS.

Data-data yang tersebar dalam setiap content media sosial ibaratnya antitesis dari tayangan quick count di televisi. Hampir setiap informasi hasil penghitungan cepat versi Prabowo Sandi memenangkannya.

Pilpres 2019 benar-benar Pilpres yang menampilkan suguhan tontonan politik yang tidak hanya menguras tenaga, pikiran, dan perasaan. Tetapi juga teknologi dan konsentrasi tingkat tinggi. Kedua kubu menggunakan teknologi komunikasi yang tidak sembarang orang bisa terlibat didalamnya. Konsentrasi yang tidak pernah tidur, sejak awal pencoblosan sampai sekarang penghitungan terus dipelototin data-data dari setiap pelosok daerah Indonesia.

Kedua kubu benar-benar sudah mempersiapkan timnya sangat matang. Timnya terdiri dari berbagai pakar yang terlibat dalam satu perhelatan pemilihan kepala negara. Dari hal yang terbesar sampai terkecil tidak luput dari pengamatan dan disiapkan segala sesuatunya. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Segala sesuatunya sudah diprediksi dan dicarikan jawaban atau solusi dari setiap masalahnya.

Tim 01 merasa yakin bisa berlanjut pada periode kedua dan meneruskan program-program yang diklaim berhasil selama satu periode oleh para tim relawan dan pendukungnya. Tidak mau kalah juga tim 02, yang sebelum kampanye sampai kampanye mendapat dukungan dari berbagai kalangan yang kuat dan militan, mustahil kalau meraih suara lebih sedikit dari 01.

Melihat kekuatan kedua kubu yang seimbang ini, dikhawatirkan masyarakat terbagi menjadi dua bagian 01 dan 02 yang sama-sama militant, fanatik berlebihan, sehingga konflik di kalangan grassroot tidak bisa dibendung lagi.

Oleh karenanya perlu segera dilakukan dari setiap pemimpin dan tokoh masing-masing kubu 01 dan kubu 02, untuk menghimbau dan menyeru kepada tim sukarelawan, pendukung dan masyarakat luas agar sama-sama bisa menahan diri, tenang menyikapi hasil penghitungan Pilpres, dan jangan gegabah menyebarkan informasi yang bisa memancing emosi sehingga keadaan menjadi chaos. Karena hanya para pemimpin dari masing-masing kubulah yang didengar dan dipercaya para simpatisan dan pendukung setianya.

Salah saja mengeluarkan kata-kata bisa berakibat fatal. Jangan lagi blunder ketika kampanye di mana capres 01 pernah curhat di tengah-tengah massa, kalau dirinya akan melawan siapa pun yang akan memfitnah dan mengintimidasinya. Beruntung massa tidak mengamuk sebagai bentuk ekspresi atas beban penderitaan calon 01.

Sementara di kubu 02 yang memperlihatkan gregetnya atas negeri ini dengan sambil memukul podium ketika kampanye. Beruntung pula tidak berdampak pada simpatisannya yang tetap kondusif ketika kampanye. Tetapi sekarang situasi dan kondisinya berbeda ketika di akhir pertandingan, masing-masing kandidat menginginkan kemenangan.

Jangan lagi mengumbar umpatan, cacian, dan provokasi yang bisa mengakibatkan perang fisik di antara kedua kubu. Sekarang ini merupakan akhir perjalanan panjang dari sebuah proses demokrasi dalam memilih pemimpin bangsa yang heterogen dan cinta damai. Demi menentukan pemimpin negara yang memiliki banyak budaya ini, tidak hanya materi, tetapi sudah 12 nyawa para pejuang demokrasi demi pemimpin yang benar-benar pilihan rakyat.

Encep Dulwahab

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar